| Selasa, 25 September 2007 | WACANA |
Surat PembacaSoal Pemilihan LangsungIndonesia negeri yang kaya raya mestinya sumber daya alamnya mampu menghidupi, mencukupi seluruh rakyat. Namun ternyata banyak rakyat yang menderita susah, banyak pengangguran dan kemiskinan. Ekspor yang populer dari negeri ini hanya tenaga kerja wanita dengan harga yang lebih rendah dari negara mana pun. Kini ada ajaran demokrasi yaitu model pilihan presiden, gubernur, bukati/wali kota yang dipilih langsung oleh rakyat telah diagung-agungkan oleh sebagian orang. Sebenarnya ajaran ini malah makin memiskinkan bangsa. Pertanyaan mendasar, ketika ada hajat besar yang melibatkan rakyat dalam pemilihan pimpinan tersebut adalah, apakah rakyat mengenal kepribadian secara utuh dari calon pemimpinnya itu. Apakah ada jaminan kepemimpinan dari seseorang yang terpilih tersebut dapat memberi jaminan memenuhi harapan rakyat. Negeri ini terdiri dari 33 provinsi, 445 kabupaten/kota. Hitung berapa besar biaya yang diperlukan untuk seluruh pesta tersebut. Asumsi, biaya pemilihan presiden Rp 1 triliun, gubernur Rp 100 miliar bupati/wali kota Rp 15 miliar. Total biaya se-Indonesia untuk memperoleh seorang pemimpin (masa bakti 5 tahun), memerlukan biaya Rp 10,975 triliun. Ini asumsi biaya resmi yang harus ditanggung negara, provinsi maupun kabupaten/kota. Di sisi lain tentunya timbul biaya dari masing-masing pribadi calon. Pertanyaannya, berapa biaya pribadi yang dikeluarkan masing-masing calon dan apakah nantinya tidak ada niat mencari pengembalian. Akhirnya siapa yang menanggung beban semua ini. Bila uang tersebut dipakai untuk mendirikan perusahaan produktif, maka akan mengurangi jumlah penanggur. Mari bandingkan konsep sila ke-4 Pancasila, yaitu "pemusyawaratan/perwakilan" yang pernah diadakan sebelum rakyat tergila-gila dengan model demokrasi pilihan rakyat langsung Apakah ada perbedaan signifikan pemimpin yang dipilih melalui permusyawaratan/perwakiian dengan pilihan rakyat langsung? dari segi biaya. Pertanyaannya, berapa biaya yang diperlukan untuk memperoleh pemimpin melalui permusyawaratan/perwakilan ini dan berapa efisiensinya?. Dengan perbaikan pada beberapa sisi, hasil pemikiran para pendiri bangsa ini masih merupakan yang terbaik. Mengapa kita tidak kembali pada konsep sila ke-4 dengan permusyawaratan/perwakilan? Mulyanto Jl Kota Baru VII RT 3/RW 20, Brebes Terima Kasih PMI Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, bila PMI cq Unit Transfusi Darah Jl Soegiyopranoto Semarang dengan tugas mulianya di bidang kemanusiaan/sosial yang begitu padat, masih meluangkan waktu untuk menyapa anggota komunitas donor darah melalui "Penyampaian Kartu Ulang Tahun". Terima kasih PMI, saya telah menerima atensi Anda, semoga tugas mulia makin mulia dan Allah meridhoi. Wahyu Wibowo Jl Meranti Tmr Dlm I/322, Semarang *** Pelat Nomor Tak Asli Tanggal 21 Agustus 2007 saya ke Semarang naik motor, sampai pasar Ambarawa pukul 07.45 WIB dihentikan oknum Polantas dengan tuduhan pelanggaran "plat nomor bukan keluaran Samsat". SIM dan STNK ditahan dan diserahkan ke rekan jaganya. Saya mengajak dialog soal tuduhan pelanggaran plat nomor yang menurut saya tidak begitu prinsip Argumentasi saya, meski bukan keluaran Samsat, ukuran plat nomor standar bahkan nomornya pun jelas. Dengan plat nomor pesanan secara tidak langsung membantu menghidupi usaha kecil. Saya bisa membuktikan motor tersebut bukan curian serta kalau pun tetap melanggar, mohon petugas tidak langsung menilang, melainkan membina dan memberi peringatan. Tapi alasan saya tidak diterima dengan alasan demi tegaknya tertib berlalu lintas. Saat penegakan tertib lalu lintas terjadi ternyata berlalu-lalang pelanggaran di depan petugas. Di antaranya motor tanpa spion, helm tidak standar, tanpa helm yang menurut saya merupakan pelanggaran. Tapi mereka tidak ditilang hingga bebas berlalu-lalang. Meski akhirnya tetap ditilang saya puas karena sudah berdialog dan membuka mata hati petugas. Kemudian saat hendak meninggalkan pos jaga, saya temui salah satu motor petugas (RX King H 4386 JL 05.12) ternyata berplat nomor seperti saya yaitu bukan keluaran Samsat Ironis memang. Empat kali sudah saya ke Semarang dengan kendaraan yang sama, namun sialnya baru kali ini ditilang. Maka saya simpulkan tuduhan pelanggaran terhadap saya berkesan berlebihan dan mengada-ada. Kepada masyarakat saya sarankan, bila plat nomor kendaraannya bukan "H", sebaiknya ekstra hati-hati saat memasuki wilayah hukum Kabupaten Semarang. Sekecil apa pun pelanggaran akan berhadapan oknum yang cenderung mencari kesalahan. Kepada petugas sebagai pengayom masyarakat agar menciptakan rasa adil dan aman kepada siapa pun dan di mana pun. Jangan tanggung-tanggung jika ingin menegakkan tertib lalu lintas. Tindak semua pelanggar tanpa pandang bulu. Jangan rusak citra Polri yang kini cukup jauh dari hati masyarakat dengan tindakan yang berkesan berlebihan dan mengada-ada hanya untuk kepentingan pribadi. "Bersihkanlah kotoran dengan sapu yang bersih". RB Ilsyantoro Bumi Prayudan Blok F15 Mertoyudan, Magelang *** Liga Inggris Hanya untuk Orang Kaya Saya pecandu berat Liga Inggris yang selalu ditayangkan Trans 7 setiap akhir pekan. Namun akhir-akhir ini kecewa setelah acara tayangan pilihan di Suara Merdeka tersebut, hak siarnya dipegang oleh Astro TV yang notabene pelanggannya adalah orang-orang yang berkocek tebal. Bagaimana tidak, untuk berlangganan Astro TV, pemasangan pertama konsumen dikenai biaya paket Utama sebesar Rp 150.000 ditambah paket Arena Rp 50.000, ditambah lagi biaya pemasangan perangkatnya Rp 200.000 hingga total harus bayar Rp 400.000. Jadi untuk bisa nonton Liga Inggris dikenai biaya Rp 400.000. Lalu bagaimana para penggemarnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya golongan ekonomi lemah. Untuk Trans 7 saya yakin orang yang kecewa bukan hanya saya, tapi berjuta-juta penggemar Liga Inggris akibat tidak adanya siaran langsung tersebut. Dedi Supriyadi Wonosari RT 2/RW 2, Gunungpati *** Lagi, PLTN Muria Kedatangan Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman ke Jepara dalam rangka meyakinkan daerah tentang pentingnya PLTN, disambut dingin warga sekitar. Bahkan demo warga kian merebak dan mendesak menteri untuk menandatangani "Maklumat dari Muria". Seperti dugaan sebelumnya, Pak Menteri enggan menorehkan garisan tangannya tersebut. PLTN merupakan upaya pengayaan energi listrik menggunakan tenaga nuklir. Pro-kontranya kian menghangat. Warga mengkhawatirkan limbah nuklir mewabah pada penduduk namun pemerintah selalu meyakinkan dari sisi positif bahwa nuklir dapat membantu energi. Drs H Marpuji Ali MSi (ketua PW Muhammadiyah) mengimbau masyarakat hendaknya tidak terjebak dalam pro-kontra. Dia mengajak kita mempelajari mendalam tentang nuklir secara arif dan bijaksana (SM, 1 September 2007). Menurut saya, imbauan ini juga berlaku bagi pemerintah dan stakeholder agar secara matang mengaji baik-buruknya serta tidak tergesa membangun. Dosen MIPA Undip Dr Muhammad Nur DEA mengatakan, jumlah Iimbah yang dihasilkan PLTN lebih kecil dibanding industri kimia. Namun siapa berani menjamin, limbah tersebut tidak mengganggu kehidupan penduduk sekitar. Siapa pun mereka, memiliki hak asasi untuk hidup tanpa dihantui rasa takut. Lain halnya ketika saya berdiskusi dengan aktivis HMI Semarang, Agus Syaiful Anwar yang konsen pada partisipasi pembangunan daerah. Dia mengatakan, sering pemerintah memaksa masyarakat untuk menerima keputusannya, walau sebenarnya mereka paham mengenai baik-buruknya suatu permasalahan. Banyak warga paham kerugian PLTN namun pemerintah terus melakukan sosialisasi mengenai pembangunannya. Bahkan menurut dia, alternatif energi selain nuklir masih banyak namun belum tergarap secara optimal. Kalau pun benar-benar dibangun, selayaknya kajian kerugian dan keuntungannya harus diperdalam dan dipertajam secara hati-hati. Rizal Saputra Jl Ngesrep Timur V/200, Semarang *** Waspadai Video Hasil Penipuan Modus penipuan terhadap pemilik atau pengusaha di bidang jasa multimedia, foto dan video mulai merebak. Penipuan dilakukan dengan cara atau dalih rental alat-alat atau order peliputan suatu acara yang tujuan akhirnya membawa kabur peralatan multimedia, foto dan video. Untuk itu pemilik/pengusaha/perorangan mohon agar: Berhati-hati melakukan transaksi bisnis agar jangan sampai penipuan ini terus merajalela. Mintalah identitas dengan jelas dan bila perlu dilakukan pengecekan terhadap lokasi/alamat/kantor dan nomor telepon yang mereka diberikan. Juga tidak menerima atau membeli barang yang tidak memiliki Serial Number (SN) atau Label Product telah dicopot dari barangnya. Kemungkinan barang tersebut merupakan hasil tindak penipuan atau pencurian. Jika membeli berarti jadi penadah. Segera laporkan ke polisi jika mengetahui kamera video Sony VX2100 SN 1354643 dan kamera video Panasonic MD 10000 SN d6hko 1653r karena barang tersebut hasil penipuan. Hubungi 0274 7193 193 atau laporkan ke pihak berwajib. P Wibowo Ngemplak RT 3/RW 36 Sinduadi Mlati Sleman, Yogyakarta *** Untuk Telkomsel Saya pelanggan setia Kartu Halo 081325712843 sejak 2003 hingga sekarang, namun menjadi korban atas kecerobohan operator Telkomsel. Istri saya menjadi uring-uringan setiap hari, selalu bertengkar dan menurunkan kepercayaannya kepada suami. Istri mengira saya mempunyai dua nomor ponsel dan dipakai untuk keperluan yang bukan-bukan. Pada tanggal 3 September 2007 saya kirim sms ke istri namun setelah dia buka, yang muncul bukan nomor saya tapi nomor 081324712843. Berbeda satu angka di tengah, yang seharusnya 5 menjadi 4. Bagaimana ini bisa terjadi, mohon tanggapan Telkomsel agar keluarga saya menjadi harmonis kembali. Zaeni Arifin Perum Singorojo 45 Mayong, Jepara Dikecewakan Adira Saya kredit motor Arashi 125 ke dealer Suzuki "Terus Jaya" Cilacap dengan uang muka Rp 2,5 juta lewat leasing Adira. Setelah petugas Adira datang menghitung, dia menyatakan saya tidak dapat mengkredit motor hanya dengan uang muka Rp 2,5 juta tapi harus membayar 25% dari harga motor yaitu Rp 4,5 juta. Saya heran padahal di brosur tertera kredit di dealer, uang muka minimal Rp 2,5 juta. Saat saya minta kejelasan, dengan pandangan meremehkan dan nada suara ketus, dia menyatakan brosur tersebut hanya untuk menarik konsumen dan yang tertulis hanya bahasa manajemen saja. Sungguh saya makin heran dengan jawaban tersebut. Yang saya tahu, justru masyarakat berpatokan pada isi brosur untuk menghitung kemampuan finansialnya saat akan kredit motor. Berarti apa yang Adira lakukan hanya kebohongan publik. Bayangkan, berapa orang akan pulang dengan kecewa karena gagal membawa motor akibatnya uang mukanya tuidak cukup. Juga bayangkan kerugian dealer jika leasing yang dipakai punya sistem tersebut. Untuk Adira Cilacap, jangan menarik konsumen dengan cara seperti itu. Justru melalui kredit, masyarakat kecil merasa dimudahkan, bukan malah dikecewakan. Tolong bersikap santun terhadap orang lain meski seperti apa pun kondisinya. Maaf bila ada kata yang tidak berkenan. MN Triasih Weningtyas Jl Muria 304 RT 4/RW 15 Sidanegara, Cilacap *** Museum Batik Belum lama ini saya menyaksikan Museum Batik di Pekalongan yang telah diresmikan Wapres Jusuf Kalla. Hari itu banyak pengunjung dari pelbagai daerah dengan kendaraan pribadi maupun bus wisata dan ini membuktikan bahwa masih cukup besar peminat batik. Saya terdorong menyaksikan apa yang dimuseumkan karena masa kecil saya di Pekalongan antara tahun 1945 -1951. Selama itu saya membantu aktif di perusahaan pembaktikan milik kakek. Di dalam museum saya hanya mendapati batik yang didisplay rapi di beberapa ruangan yang luas. Bukan saja batik produk Pekalongan sendiri namun ada pula dari Banyuwangi, Cirebon, Yogyakarta, Solo dan Madura. Sumbang saran saya sbb: Yang harus dimuseumkan bukan saja kain-kain batiknya tapi harus lengkap termasuk semua prasarana dan sarananya. Misal proses pembuatan batik mulai dari kain putih sampai selesai diproduksi. Ada beberapa ruangan yang cukup luas untuk mendisplay perabot seperti kerekan yaitu pemberi warna sebagai proses menghilangkan malam yang melekat pada kain. Kemudian ada gawangan untuk sampiran kain saat ditulis dengan canting dan masih banyak lagi alat termasuk bak kayu untuk merendam kain. Demikian pula harus didisplay berupa bermacam canting dan cap yang terbuat dari lempengan tembaga. Jika penyelenggara ingin museum diminati banyak pengunjung, maka jangan kepalang tanggung untuk minta dana sukarela dari warga Pekalongan yang dulu pernah berjaya di perusahaan batik. Bisa berupa perabot kuno yang mungkin masih tersimpan atau kain batik kuno. Barang sumbangan tersebut diberi keterangan nama penyumbang dan sebagainya. Dulu cukup terkenal batik buatan Van Leuwen, Gan Kai Lim, Go Kiem Liang, Lim Ma Jin dan lainnya. Nama-nama mereka tertulis di setiap kain batik yang diproduksi sehingga tidak dapat dipalsukan. DW Prasetyo Jl Mugas 800, Semarang *** Anggota DPRD Kurang Dipercaya? Menanggapi artikel "Membangun Kepercayaan DPRD" oleh Tanthowi Jauhari (SM, 3/9) saya berpendapat sbb: Dalam banyak hal penguasaan materi anggota DPRD/DPR memang belum sepadan dengan kemampuan eksekutif. Akibatnya dalam diskusi/pembahasan sering kalah angin. Juga belum ada kesepakatan niat bahwa menjadi anggota Dewan bukan sekadar mencari "upah", tetapi karena perjuangan demi meninggikan martabat diri. Niatnya perlu diperbarui dan diperbaiki lagi. Kemudian belum ada partai politik yang bisa menekan anggota di Dewan untuk melakukan "kebajikan" bagi kepentingan orang banyak. Justru sebaliknya mereka masih mengharapkan dan mewajibkan anggota setor ke partai. Termasuk belum ada anggota Dewan yang populis, pro rakyat, ngotot memperjuangkan kepentingan rakyat miskin. Misal soal pendidikan dan kesehatan, karena ternyata mereka tidak mau terjun ke bawah baik secara pribadi maupun mendelegasikan kepada organ partai sehingga tidak menguasai lapangan. Anggota Dewan cenderung masih menggunakan "aji mumpung" karena yakin tidak ada jaminan 5 tahun ke depan akan terpilih lagi sehingga seolah dunianya akan kiamat. Mumpung masih menjabat, mereka harus mendapatkan sesuatu demi jaminan masa depan, apalagi banyak anggota Dewan yang berangkat dari zero point. Akhirnya menurut saya, untuk mencari atau memilih anggota Dewan yang komit dan konsisten membangun trust/kepercayaan konstituen, kapan pun masih akan sulit karena bahan bakunya memang "langka". Maaf, jangan tersinggung M Syahri Nurwahab (0287 383031) Sekdes Candiwulan Kebumen *** Pasar Mahkota Dewa Beberapa waktu lalu saya membaca sobekan berita di surat kabar mengenai prospek buah mahkota dewa yang sangat menjanjikan. Namun karena sobekan tersebut tidak utuh maka informasi yang saya dapat sangat kurang. Padahal saat ini saya membutuhkan informasi mengenai pemasaran buah mahkota dewa atau cara pengelolaannya untuk dikonsumsi sebagai jamu. Mohon pembaca membantu saya dengan memberi infonya lewat surat mengingat sulitnya mendapatkan Suara Merdeka di desa terpencil seperti saya. Tiwiharti Bulaksari RT 1/RW 5 Sragi, Pekalongan |