| Selasa, 25 September 2007 | KEDU & DIY |
Bubur ala Kauman Bantul sebagai Perekat Persaudaraan
ADA banyak cara bersilaturahmi sekaligus memupuk persaudaraan, kekerabatan, dan persahabatan antarumat manusia. Tujuannya agar satu sama lain saling guyub, rukun, tak ada benih-benih kebencian. Di bulan suci ini, salah satu upaya memupuk persaudaraan dilakukan warga Kauman, Wijirejo, Bantul. Setiap berbuka puasa, masyarakat setempat membatalkannya dengan makan bubur bersama di masjid. Tradisi tersebut sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan salah seorang penduduk, Zuhrowi yang sudah berusia 50 tahun tak ingat lagi sejak kapan makan bubur berawal. Seingatnya sewaktu kecil dia sudah mengikuti makan bubur tiap buka. ''Menjelang puasa, warga sudah membuat agenda siapa-siapa yang bakal memasak bubur untuk umat yang menjalankan ibadah,'' ungkap laki-laki yang telah memasak selama 25 tahun tersebut. Dia memasak bubur setiap hari dari bahan dasar beras sebanyak 4-6 kilogram. Selain itu, ada pula sayur dan lauk pauk seperti tempe dan tahu sedangkan minumannya teh hangat manis. Dia khusus menyajikan untuk anak dan remaja sekitar 50 orang. Bukan hanya Zuhrowi, ada saja orang-orang membantu memasak bubur dan menyumbang lauk pauk, teh, dan gula. Khasanudin dan Wardani misalnya, mereka juga ikut membuat bubur plus sayur sebagai pembuka puasa. Dengan begitu umat di masjid setempat dapat menikmati bersama-sama. Makin Erat Hubungan persaudaraan antarumat di sana semakin erat karena setiap menjelang menyantap bubur mereka berbincang-bincang, bercerita sembari menunggu waktu buka. Begitu azan berkumandang, mereka segera membatalkan puasa dengan minum teh hangat kemudian mengambil bubur dan makan bersama. ''Bahan baku selain persediaan sendiri dan iuran sukarela ada pula donatur sehingga tak bakal kekurangan,'' imbuh Zuhrowi. Semua persoalan lebur di sini ketika umat berbuka bareng-bareng, dari yang semula tidak kenal menjadi kenal, yang dahulunya bermusuhan kembali erat menjadi sahabat. Tidak hanya sekadar berbuka menyantap bubur namun menjalankan ajaran-Nya agar berbagi satu sama lain yang lebih utama. Nuansa persaudaraan semakin terasa ketika shalat Id. Biasanya setelah menjalankan shalat, umat saling berjabat tangan, bersilaturahmi, dan memaafkan. Dari sinilah bibit-bibit kecintaan kepada sesama berawal, dari sebuah dusun kecil yang memegang tradisi leluhur. (70) |