logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 September 2007 SEMARANG
Line

KH Abdul Djalil

Rintis Ilmu Falak, Diakui Arab Saudi

  • Oleh Moh Anhar

KEMEGAHAN Masjid Baiturrahman tidak bisa dilepaskan dari peranan KH Abdul Djalil bin KH Abdul Hamid. Pada 1968, dia menjabat Ketua Tim Penentu Arah Kiblat untuk ibadah shalat kaum muslim masjid yang berada di kawasan Simpanglima itu. Kepiawaiannya dalam ilmu falak juga mengantarkannya pada posisi Ketua Lajnah Falakiyah PBNU serta merangkap anggota Lajnah Falakiyah Depag RI (1969-1973). Dalam menentukan arah kiblat ia menggunakan alat rubu' almujayyab, sebuah theodolit tradisional yang hingga kini masih banyak dipergunakan kalangan pesantren.

Sejak menempuh pendidikan pesantren, ia sudah terlihat minatnya pada ilmu falak. Sejumlah pondok yang pernah disinggahinya yakni Pesantren Jamsaren Solo di bawah asuhan KH Idris, Pesantren Termas Pacitan (KH Dimyati), Pesantren Kasingan Rembang (KH Kholil), dan Pesantren Tebuireng Jombang (KH Hasyim Asyari). Lalu berlanjut pada 1924-1930, ia melawat ke Makkah untuk belajar dan mukim. Di sesela waktu itu, ia masih menyempatkan sekali kembali ke Indonesia untuk nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang, Jatim. Saat itu banyak orang Indonesia yang melakukan rihlah ilmiyah (berguru) dengan bermukim di Makkah.

Ahmad Izzudin, peneliti pemikiran Abdul Djalil yang juga dosen Ilmu Falak IAIN Walisongo, mengatakan Djalil merupakan pionir pengembangan ilmu falak di Indonesia. Ulama kelahiran Bulumanis Kidul Margoyoso Tayu, Pati pada 12 Juli 1905 itu telah menghasilkan sejumlah karya buku, seperti Fath al-Rauf al-Manan, Dailul Minhaj, Tawajjuh, Jadwal Rubu', Tuhfatul Asyifa', Ahkamul Fuqaha', dan Takallam billughatil Arabiyah. Bila dilihat dari hasil karyanya, terbukti ia tidak hanya mahir dalam ilmu falak, melainkan juga ahli bahasa. Berkat kepiawaiannya itu, Kerajaan Arab Saudi telah mengakuinya, ditunjukkan dengan dipakainya hisab gerhana matahari oleh negeri tersebut.

''Hingga kini kitab Fath al-Rauf al-Manan masih menjadi pegangan santri yang ingin mempelajari ilmu falak. Bentuk bukunya sederhana dan cara mempelajarinya pun mudah,'' kata Izzudin yang juga Pengasuh Ponpes Daarun Najaah, lembaga yang fokus pada pembelajaran ilmu falak. Kesederhanaan kitab karya Djalil itu dikategorikan sebagai sistem hisab hakiki taqribi atau pemikiran hisab rukyah yang keakurasiannya rendah.

Sistem hisab tersebut lebih menitikberatkan pada penggunaan astronomi murni. Dalam ilmu astronomi diterangkan, bulan baru terjadi sejak matahari dan bulan dalam keadaan konjungsi (ijtima'). Sistem ini menghubungkan perhitungan awal hari adalah terbenamnya matahari sampai terbenam matahari berikutnya, sehingga malam mendahului siang. Hal itu dikenal dengan istilah sistem ijtima' qablal ghurub.

Kini ilmu falak telah berkembang luas dengan banyak referensi dari berbagai sumber. Selain diajarkan di pesantren, ilmu falak juga masuk dalam pendidikan formal di Perguruan Tinggi Agama Islam. Di IAIN Walisongo, ilmu falak menjadi salah satu konsentrasi pendidikan di Fakultas Syariah. Bahkan pemerintah memberi beasiswa khusus bagi mahasiswa yang sekaligus santri belajar ilmu falak di Ponpes Daarun Najaah. Fasilitas beasiswa tersebut sebagai upaya mengembangluaskan ilmu falak di Indonesia. ''Meski ilmu falak mengalami kemajuan pesat, karya Abdul Djalil masih tetap diperkenalkan kepada para santri,'' katanya. (62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA