SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Jumat, 21 September 2007

Ketegangan antara Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Mahkamah Agung seharusnya tak perlu diperpanjang apalagi sampai ada laporan ke polisi. Benar-benar memalukan dan tidak menjadi contoh yang baik dalam praktek ketatanegaraan. Apalagi perkaranya menyangkut tertib adminstrasi dan keuangan. Pastilah menimbulkan berbagai praduga. Dalam hal ini pihak Mahkamah Agung lebih menanggung risiko tercemarnya nama baik. Karena dituding tidak transparan dalam pengelolaan keuangan khususnya menyangkut biaya perkara yang dipungut dari masyarakat atau yang disebut penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Kerja sama program nuklir antara Amerika Serikat dan Yordania ditandatangani di tengah-tengah memanasnya kembali isu nuklir Iran. Yordania hendak mengembangkan reaktor nuklir untuk keperluan energi. Jauh sebelum itu, Iran juga berniat membangun fasilitas nuklir untuk keperluan yang sama. Namun, di mata Amerika, dua hal itu menjadi sangat berbeda. Washington yakin reaktor nuklir Iran akan dipakai sebagai kedok untuk tujuan memproduksi senjata nuklir atau bom atom. Dengan alasan itu, dengan segala macam cara negeri adidaya tersebut terus menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya.

Apakah MA sebagai benteng terakhir keadilan dan kebenaran telah memperoleh kepercayaan publik sedemikian tinggi? Kalau mau jujur, kepercayaan terhadap MA sangat rendah KENAIKAN tunjangan hakim termasuk ketua Mahkamah Agung (MA) sebesar 300% diakui mengagetkan kalangan DPR, namun kenaikan itu belum final karena baru pada pembahasan tingkat panitia anggaran, sehingga masih harus melewati pembahasan di Komisi III DPR sekaligus proses finalisasi.

FANTASTIK! Fenomenal! Barangkali dua kata tersebut tepat mewakili kegembiraan umat Islam hari ini. Pasalnya, hampir tak ada stasiun televisi di negeri ini yang tidak menayangkan sinema religi. Jam tayangnya tidak lagi mengenal waktu. Tidak siang dan tidak malam. Pemilik production house berlomba-lomba membuat cerita berlatar keagamaan. Tema yang diangkat tak kalah anekanya. Intensitasnya bertambah seiring dengan datangnya bulan suci Ramadan.

RAMADAN 1428 H dilakukan secara serentak 13 September dan seperti biasanya terjadi lonjakan harga kebutuhan pokok. Kasus ini pun kemudian banyak disebut sebagai inflasi musiman yang menyertai Ramadan dan Idul Fitri. 

Carut marut di bidang ekonomi, hukum, kesehatan, perdagangan, moral dan lainnya sampai kini belum nampak titik terangnya secara transparan. Masyarakat kecil/miskin di pedesaan makin tidak menentu nasibnya meski mendapat bermacam suntikan di bidang pangan. 

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA