logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 21 September 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Berbuat demi Rakyat

Carut marut di bidang ekonomi, hukum, kesehatan, perdagangan, moral dan lainnya sampai kini belum nampak titik terangnya secara transparan. Masyarakat kecil/miskin di pedesaan makin tidak menentu nasibnya meski mendapat bermacam suntikan di bidang pangan. Hal ini karena sifatnya hanya temporer bahkan masih dikorup oleh oknum yang melayani

Rezim Soeharto dibikin berantakan oleh reformasi, orang-orang yang berjiwa reformasi berjuang dengan gigih, berkorban untuk memporakporandakan segala sesuatu yang berbau orde baru dan KKN. Tetapi ada pihak yang kurang bisa menerima hanya menghendaki reformasi saja.

Hampir 10 tahun reforrnasi berjalan, tetapi kenyataannya tidak ada perubahan mendasar dan membawa hasil seperti yang dicita-ccitakan. Bahkan kenyataannya seperti makin menderita, parah dan semuanya serba duit. KKN jalan terus bahkan dalam pemberantasannya muncul tebang pilih. Reformasi tetap ada tapi pelaksanaannya kebablasan, tidak bisa dikendalikan dan tidak tahu kapan berakhir.

Untuk mengatasinya harus bersikap bagaimana dan apa yang kita perbuat. Apakah reformasi total harus dicanangkan dan dikumandangkan kepada masyarakat bawah. Andai reformasi total bagaimana bentuk dan cara melakukan. Apakah para pencoleng "dibabat" habis. Saya kira reformasi total tidak akan membawa perubahan fundamental, karena yang dilaksanakan sudah jauh kebablasan dan sulit diperbaiki.

Jika mau ditertibkan dengan reformasi total saya kira nggak berarti fundamentalnya, kecuali para pemimpin pengambil keputusan berani dan konsekuen bertindak tegas atau menggunakan tangan besi. Yang perlu diatasi, jangan berlarut-larut di semua bidang, ekonomi, hukum, keuangan sebagai tahap awal.

Bidang lain, demi menyejahterakan rakyat harus betul-betul tertib dan disiplin. Gempur perbuatan maksiat, bersihkan semua elemen korupsi di bidang rantai perekonomian, di tubuh aparat dan birokrat yang dibarengi dengan tindakan tegas dalam bidang hukum tanpa tebang pilih. Jangan ada rekayasa hukum semata hanya untuk mengenakkan satu pihak/kelompok.

Jika reformasi total tidak dikehendaki dan dipandang tidak mampu maka dilakukan reformasi mental, moral secara spiritual. Tes dilakukan oleh presiden sendiri secara terbuka lewat TV yang indepeden. Orangnya harus jujur bijaksana, tidak rakus, tahu diri, bermental dan berahlak terpuji.

Sanggupkah presiden melakukan secara fundamental dan terbuka. Korban jatuh sudah banyak, ingat busung lapar dan kekurangan gizi, ingat korban lumpur Lapindo dan sebagainya. Janganlah negara ini jadi ejekan dan ledekan negara lain. Semoga Indonesia tetap jaya, maju terus pantang mundur demi NKRI dan Pancasila.

Bambang Poernomo

Jl Raya Kranggan 36, Temanggung

PDAM Profesionalkah?

Warga Ngepos Kelurahan Jrakah Tugu Semarang sebulan lebih tidak merasakan aliran air PDAM. Setiap hari mengadu ke PDAM Semarang Barat, selalu dilayani ramah dan dengan alasan yang berganti-ganti. Ya mungkin menyesuaikan diri dengan slogannya yaitu pelayanan yang ramah.

Alasan pertama: "debit air kurang sehingga level air yang biasanya mengalir di level 3 hanya bisa level 2 atau tunggu saja nanti malam". Keesokan harinya ganti operator telepon dengan ramah mengatakan, ada perbaikan di daerah Banyumanik, coba tunggu nanti malam. Keesokan harinya ganti operator mengatakan: "Oke, keluhan dicatat nanti segera kami konfirmasikan ke bagian teknis".

Alasan yang terus berganti-ganti sehingga warga merasa bosan. Terakhir 27 Agustus 2007 petugas mengatakan, ada perbaikan di Bendungan sehingga telepon langsung saya banting karena terlalu cuapek, juengkel dan mangkel dengan alasan teknis yang mereka sampaikan (walau dengan ramah).

Daerah saya lokasinya memang agak tinggi tapi dulu lancar walaun hanya pada malam hari. Namun setiap pagi saya heran melihat tetangga menyiram halaman dengan air yang cukup kencang semburannya. Ketika saya tanya, dia menjawab pakai air PDAM. Lho. Ruaar biasa padahal rumahnya di sebelah saya.

Kalau normal, daerah saya hanya bisa menikmati air PDAM di atas pukul 01.00 s.d 04.00. Sebetulnya itu sudah cukup, tapi sekarang sama sekali tidak ada. Bagaimana ini Bapak Direktur PDAM. Betapa warga harus merogoh kocek untuk membeli air tangki seharga Rp 80 ribu hanya untuk beberapa hari.

Kenapa pelayanannya tidak lebih baik dari zaman dulu. Sebelum satu bulan terakhir ini, mengalirnya pun tidak lancar. Di musim hujan pun air tidak mengalir, alasannya air terlalu kotor.

Demikian keluhan warga semoga mengetuk hati pengelola PDAM sekaligus masukan bagi YLKI. Maaf.

Puji Andoyo SKom

Jl Ngepos II/1 Jrakah, Semarang

Mengapa Bangga

Produk Luar Negeri?

Mengapa kita lebih bangga terhadap produk luar negeri dibanding buatan kita sendiri. Kenyataan dan pernyataan yang ironis memang. Bahkan di teve pun banyak iklan yang dengan bangga menunjukkan produk dari negara lain seolah semua hal yang berasal dari luar adalah baik. Bahkan budaya mereka pun disapa hangat dan diterima baik masyarakat.

Apakah budaya ini akan terus kita jalankan?.Budaya menghargai produk sendiri sepertinya kurang diterapkan. Contoh, membuang sampah sembarangan yang berarti tidak menghargai alam dan orang yang berusaha membersihkan. Juga mengeksplorasi hutan tanpa memedulikan akibatnya. Artinya tidak menghargai alam dan generasi berikutnya, mungkin hutan sudah habis tidak tersisa.

Salah satu penghambat negara untuk maju adalah jika anak bangsa membuat hasta karyanya kurang disambut oleh masyarakatnya. Di samping akibat belum banyaknva regulasi/penghargaan pemerintah yang mendukung. Akibatnya mereka pun kurang bersemangat untuk membuat hal-hal baru yang bermanfaat bagi kita sendiri.

Pikiran untuk maju dan menggunakan barang hasil sendiri sepertinya masih belum dimiliki bangsa ini. Memang SDA melimpah-ruah tetapi miskin SDM yang mampu mengolahnya. Negara ini hanya bisa menghasilkan barang mentah yang harganya murah dibandingkan barang jadi yang diolah negara lain.

Contoh, logam mentah yang diolah oleh negara lain menjadi produk bernilai tinggi misalnya dari telepon hingga pesawat terbang, sedang kita hanya dapat mengubahnya menjadi cangkul, arit dan lainnya. Tragis memang. Mungkin solusinya, menciptakan budaya pendidikan yang kritis dalam perkembangan bangsa.

Sebenarnya negara ini punya banyak aset berharga, hanya saja belum dimanfaatkan dengan baik. Kita mempunyai anak-anak yang peduli terhadap pendidikan dan kemajuan bangsa. Mereka semestinya dibina menjadi insan yang kelak dapat merubah nasib bangsa. Orang Indonesia harus bangga terhadap bangsa Indonesia

Kinanti Prabandari

Siswa SMP Al-Irsyad Purwokerto

***

Soal Reformasi

Saya tidak menanggapi isi/intisari Surat Pembaca dari Drs Nurudin Edi Kuncoro 30 Agustus 2007, hanya saja ada pengertian yang perlu diluruskan. Dalam tulisan tersebut kata reformasi, pemenggalan re sebagai kembali dan formasi sebagai bentuk. Salahkah arti dua penggalan kata tersebut, tidak. Yang salah adalah ketika mengartikan gabungan kata reformasi dengan arti kembali ke bentuk.

Di mana salahnya. Kata reformasi sama halnya dengan review restart, rekonstruksi, restrukturisasi, revitalisasi dan lain sebagainya, selalu diartikan "me-... kembali". Jadi bukan "kembali ke- ...." Seperti contoh, review yaitu me-lihat(tinjau) kembalp, restart yaitu me-mulai kembali, rekonstruksi yaitu meng-konstruksi kembali.

Sedang reformasi yaitu mem-bentuk ulang/mem-bentuk kembali yang berarti bisa membentuk ulang seperti awalnya, atau membentuk ulang menjadi baru sama sekali, setengah baru dan lain sebagainya. Jadi bukan kembali ke bentuk. Bila dirasakan, ada perbedaan antara kembali ke bentuk dan membentuk kembali. Dalam surat pembaca Drs Nurudin seperti ada yang dipaksakan yaitu "....kembali ke bentuk/formasi semula.

Selanjutnya jika dilihat dalam kamus, reformation (reformasi) juga diartikan membentuk /penyusunan kembali. Sekali lagi tulisan ini tidak untuk menanggapi isi/intisari Surat Pembaca Drs Nurudin, tapi hanya meluruskan pengartian kata reformasi. Karena, bila kata salah diartikan, tindakan juga cenderung salah.

Bayu Aji

Jl Kanguru Selatan II/1, Semarang

***

Perubahan Nopol

Tanggal 29 Agustus 2007 saya membayar PKB atas nama saya sendiri. Karena sudah 5 tahun, wajib kalau plat nomor diganti dengan yang baru tetapi disayangkan kenapa Nopol juga harus ganti.

Otomatis perubahan tersebut dikenai biaya administrasi yang jumlahnya lumayan besar Rp 80.000 dan tentu saja biaya tersebut dibebankan kepada wajib pajak.

Biaya tersebut antara lain untuk administrasi STNK dan TNKB, cek fisik, pengambilan dan perubahan arsip, dan pendaftaran perubahan BPKB. Saran saya, jika tidak di balik nama dan tidak dimutasi sebaiknya Nopol tidak usah diganti karena akan menambah biaya administrasi dan akan makin memberatkan wajib pajak. Mohon tanggapan.

Hery Febri Purnomo

Karanganyar RT 3/RW 12

Muktiharjo Kidul, Semarang

***

Ngaku Teman Lama

Beberapa waktu lalu saat di SD Kebon Dalem Semarang, saya bertemu dengan seseorang yang katanya kenal saya sebagai teman SMA. Dia mengaku bernama Monika Tri Purwanti eks sekolah Nusaputera (angkatan 1989). Entah dari mana tahu alamat saya, akhirnya dia datang ke rumah pada pukul 22.00.

Pertama datang dia mau nawarin sprei tapi kok tidak bawa dagangannya, besoknya datang lagi mau jual arisan 4 juta rupiah, tapi saya tidak mau. Sampai akhirnya dia utang yang katanya mau dibayar bulan depan berikutnya. Ternyata arisan itu cuma bohongan (arisan fiktif) yang memang ditawar-tawarkan ke teman-temannya.

Kalau ditagih mbulet. Masa utangnya uang kok bayarnya cuma pakai SMS. Mungkin banyak teman sudah tertipu oleh orang tersebut. Kepada teman-teman lain agar hati-hati, biasanya dia datang pada malam atau pagi hari sambil bawa kertas daftar arisan.

Inge Sutanto

Kp Ciut 14, Semarang

***

Hotel Suronegaran

Pada 25 - 26 Agustus 2007 saya beserta keluarga menginap di hotel Suronegaran Jl Urip Sumoharjo 47 Purworejo, menempati Family Room 102a yang letaknya paling depan dekat pos satpam. Malam itu sebelum tidur saya memeriksa dan memastikan semua pintu benar-benar terkunci. Pintu di kamar dalam tidak ada kuncinya jadi saya biarkan menutup karena semua pintu di luar terkunci.

Paginya saat terbangun, alangkah kagetnya sebab ponsel saya yang sedang di-charge di kamar, beserta uang di dompet sudah raib. Heran, darimana pencuri bisa masuk, padahal semua pintu terkunci.. Setelah diselidiki, ternyata jendela di Family Room bisa dibuka dari luar karena tidak ada sedikit pun goresan di jendela itu.

Jika memang jendela dalam keadaan terkunci, tentu pencuri harus mencongkel terlebih dulu untuk bisa masuk tapi jendela tidak rusak sedikit pun. Saya lapor ke pihak hotel, tetapi responnya sama sekali tidak menyenangkan. Tidak ada tanda-tanda mereka bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Direktur hotel yang paginya masih bisa ditemui, mendadak sulit dihubungi pada siang harinya seolah tidak mau tahu dan lepas tanggung jawab. Saya kecewa. Hotel yang dibilang terbaik di Purworejo ternyata keamanannya tidak terjamin. Jika memang pelakunya orang luar, kenapa tidak membawa TV sekaligus.

Jendela di ruangan seolah memang dibuat seperti itu agar gampang dimasuki pencuri. Lagi pula ruangan letaknya persis di depan pos satpam, bagaimana bisa dimasuki pencuri tanpa diketahui satpam hotel?

Goenawan Pranyoto

JI Kaligarang 2, Semarang

***

Pak Gub, Tolong

Saya awalnya pengusaha yang tinggal di Semarang, tapi dalam kondisi seperti ini menjadi pengangguran yang butuh pekerjaan. Tiga bulan lalu saya ketemu teman sekolah dulu yang menawarkan kerja sama pengadaan barang di bawah nilai Rp 50 juta. Dia PNS Dinas Peternakan Prov Jateng di Ungaran menyatakan bisa membantu dengan sistem kepenunjukkan proyek, tidak perlu tender.

Saya menyanggupi, dengan bukti surat permintaan barang yang berkop surat Dinas Peternakan senilai Rp 12 juta. Saya ada bukti tanda terima dan permintaan barangnya dengan batas waktu pembayaran yang dijanjikan. Saya kemudian menagihnya setelah waktu lebih dari yang dijanjikan. Namun 7 kali mencari di kantornya tidak ketemu dengan alasan sedang keluar/tidak hadir.

Saya hubungi lewat HP tidak aktif (no ganti) dan coba telepon kantornya juga gagal. Akhirnya saya datang lagi ke kantor dan ketemu beberapa temannya. Mereka menyarankan saya lapor ke kepolisian dan BKD karena bukan cuma saya yang dirugikan. Kasus seperti ini sudah sering terjadi.

Kepada Bapak Gubernur, tolong beri tindakan tegas kepada PNS yang mencemarkan nama baik instansi. Maaf saya mohon bantuan Bapak karena tidak tahu lagi harus ke mana minta uang saya kembali. Uang itu hasil pinjaman dari BPR yang tiap bulan harus mengangsur. Dalam posisi pengangguran seperti ini, sungguh sangat berat. Bukankah PNS dapat gaji tiap bulan, gaji ke-13 dan lainnya.

Kusriyanti

Semarang Indah B4/14, Semarang

Soal Dealer Indosat

Setelah dimuatnya tulisan saya di Surat Pembaca 11 September tentang "Dealer Indosat", permasalahannya telah selesai. Pihak PT Karya Mitra Nugraha datang diwakili GM Bapak Hadiyanto berjanji akan selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen dan menindak tegas stafnya bila mengecewakan pelanggan.

Didampingi staf marketing Bapak Yoyok, beliau juga minta maaf jika pelayanannya saat itu tidak berkenan di hati pelanggannnya. Berhubung beritikad baik meminta maaf, saya pun menerima.

Pepatah kuno mengatakan : "berhati-hatilah menjaga lidah. Meski hanya sepotong daging tak bertulang, tapi bisa membawa petaka bagi si empunya bila digunakan tanpa kendali". Saya berharap ke depan sales counter dapat meningkatkan pelayanannya terhadap pelanggannya.

Anom Adi Busono AMd

Jl Pahlawan II/10, Kendal

***

Sertifikasi Guru Ala

Depag, Rasionalkah ?

Selamat kepada guru yang terpanggil untuk kuota 2006 atau 2007. Tulisan ini bukan karena kecewa atau iri apalagi memusuhi. Saya juga salut terhadap Depag karena tidak ada unsur KKN namun muncul pertanyaan, sistem dan dasar apa yang dipakai untuk pemanggilan tersebut. Sangat membingungkan logika.

Itulah kesan pertama terhadap panggilan/pengisian kuota ala Depag khususnya di Klaten. Setelah konfirmasi dan diskusi dengan pejabat yang memahami persoalannya, ternyata mereka juga tidak tahu menahu kenapa nama-nama tertentu saja yang dipanggil untuk pengisian kuota tersebut. Saya tidak tahu apakah hal serupa juga terjadi di daerah lain.

Kalau dikomparasikan antara Depag dengan Depdiknas terjadi perlakuan berbeda serta pertimbangan logis yang digunakan. Depdiknas menggunakan parameter jelas dan terukur serta transparan. Ada 6 prioritas yang dipakai yaitu berdasar masa kerja, usia, pangkat (golongan), jam mengajar, tugas jabatan dan prestasi.

Dengan parameter jelas seperti itu maka setiap guru bisa mengukur/menilai dirinya layak atau tidak untuk dipanggil. Tetapi yang terjadi di Depag Klaten, selain parameternya tidak jelas juga tidak tranparan untuk akses di jajarannya apalagi terhadap guru. Akibatnya keajaiban pun muncul dengan dipanggilnya guru yang sudah pensiun.

Juga ada pula guru yang sudah limit pensiun, guru yang dibebaskan dari mengajar karena kondisi psikis, guru yang jam terbang PNS-nya baru 2 tahun yang rnenurut pengamatan prestasinya tidak luar biasa. Sementara ada sejawatnya yang sudah lebih dua puluhan tahun menjadi PNS yang seharusnya layak dipanggil, malah tidak masuk (data ada pada saya).

Apakah ini mencerminkan asas keadilan dan kepatutan. Kepada pejabat Depag yang berwenang mohon tanggapan terutama sistem dan parameter yang digunakan serta mohon dikaji lagi apakah itu rasional.

Nur Hadiyanta

Guru MAN Popongan Prambanan, Klaten.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA