logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 21 September 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Di Balik Payung Nuklir Amerika Serikat

Kerja sama program nuklir antara Amerika Serikat dan Yordania ditandatangani di tengah-tengah memanasnya kembali isu nuklir Iran. Yordania hendak mengembangkan reaktor nuklir untuk keperluan energi. Jauh sebelum itu, Iran juga berniat membangun fasilitas nuklir untuk keperluan yang sama. Namun, di mata Amerika, dua hal itu menjadi sangat berbeda. Washington yakin reaktor nuklir Iran akan dipakai sebagai kedok untuk tujuan memproduksi senjata nuklir atau bom atom. Dengan alasan itu, dengan segala macam cara negeri adidaya tersebut terus menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya.

Mengapa niat yang sama ditanggapi berbeda oleh pemerintahan Presiden George W Bush? Washington tentu beralasan program nuklir Yordania adalah murni untuk kepentingan sipil, yakni pembangkit energi. Namun, siapakah yang bisa menjamin hal itu untuk jangka beberapa dekade mendatang? Sebaliknya, mengapa sikap dan kepercayaan yang sama tidak diberikan kepada Iran? Sumbernya sekali lagi adalah standar ganda kebijakan nuklir Washington. Di tangan kiri, Bush sibuk berurusan dengan negara-negara yang dikategorikannya sebagai "poros kejahatan", yakni Irak, Korea Utara dan Iran.

Dalam genggaman tangan kanan, Bush kian gencar menjalin perluasan kerja sama nuklir dengan negara-negara "sahabat" seperti Jepang, India, dan terakhir Yordania. Klaim tentang "murni untuk keperluan energi" sudah sepatutnya dikritisi sebagaimana secara membabi buta Washington mencurigai Teheran. Sebab, batas antara "energi nuklir" dan "senjata nuklir" sebetulnya sangat tipis, bergantung pada kapasitas pengayaan uranium sebagai bahan utama senjata nuklir. Kemampuan memperkaya uranium sampai level bahan senjata bisa dilakukan oleh siapa saja yang sudah meraih kemampuan teknologi nuklir.

Karena itu, salah satu isu pokok dalam setiap program nuklir adalah proses transfer teknologinya. Amerika tampaknya tidak ingin Iran - yang secara ideologis berhadapan dalam kutub ekstrem - memeroleh kemampuan di bidang teknologi nuklir karena kecurigaan tersebut. Atas dasar itu pula, Gedung Putih tidak akan berhenti melebarkan payung nuklirnya di dunia, baik itu melalui kerja sama energi nuklir maupun program militer di bidang senjata nuklir. Di bawah payung terkembang itulah, Amerika menyusun skema bantuan yang terkait langsung atau tidak langsung dengan kepentingan militer dan intelijen.

Fakta-fakta itulah yang menggambarkan ketidakadilan politik luar negeri Amerika. Di bawah payung kebijakan itu pulalah, Washington masih tetap mengembangkan program senjata nuklir. Saat ini, AS memiliki 4.500 hulu ledak nuklir. Jumlah itu paling banyak dibandingkan dengan Rusia yang memiliki sekitar 3.800, sedangkan Inggris, Prancis, dan China sekitar 200-400 unit. Pakistan dan India punya sekitar 100 bom nuklir. Jika satu bom nuklir memiliki kemampuan destruktif 20 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, dapat dibayangkan betapa hebat kehancuran yang akan ditimbulkan apabila hulu ledak itu diluncurkan.

Untuk menggelar operasi perang, Bush butuh persetujuan Kongres. Sedangkan untuk menarik pelatuk nuklir yang tersimpan di markas Komando Pertahanan Amerika Utara di bawah Gunung Cheyenne, Colorado, setiap presiden AS hanya punya waktu mempertimbangkan selama 20 menit. Dunia sebetulnya selalu hidup di bawah bayang-bayang teror senjata nuklir Amerika, sementara potensi teror nuklir Iran masih belum ada apa-apanya. Di balik payung kebijakan nuklir Washington, tersembunyi potensi ancaman teroristik yang dahsyat. Adalah ironis apabila dunia merasa aman berlindung di bawah payung itu.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA