| Jumat, 21 September 2007 | MURIA |
RS Kartini Menyerah, Sutarmi PasrahSETELAH empat hari dirawat di RSUD Kartini Jepara, Sutarmi (46) -penderita kanker payudara akut asal Desa Raguklampitan Kecamatan Batealit-, Kamis (20/9) siang pulang ke rumah. Dia kembali ke bilik kamarnya yang sempit di rumah kecilnya bukan karena penyakitnya sembuh. Namun, karena pihak rumah sakit setempat tidak mampu lagi menangani penyakitnya. "Kula dirujuk supaya berobat ke Rumah Sakit Kariadi Semarang. Nanging kula mboten gadah ragat. Nggih wangsul omah mawon," ungkap Sutarmi saat masih di pembaringan Ruang Dahlia Kelas III RSUD Kartini didampingi suaminya, Wahab (50), kemarin. Jalan bagi Sutarmi untuk berobat dari kanker yang mencabik payudaranya cukup berliku. Kendati berasal dari keluarga tak mampu, dia tak terdaftar sebagai keluarga yang mengantongi kartu askeskin (diterbitkan Pemerintah Pusat melalui PT Askes). Kekurangcermatan pendataan di tingkat desa disinyalir kuat sebagai penyebabnya. Nasibnya barangkali bisa lebih baik andai memegang kartu itu karena bisa dirujuk ke rumah sakit mana pun. Tak Tersentuh Keluarga dan tetangganya mengupayakan bisa berobat gratis di RSUD Kartini melalui kartu askesda (diterbitkan Pemkab dengan biaya APBD). Usaha itu sukses setelah proses beberapa hari. Di rumah sakit tersebut, kankernya "tak tersentuh". "Awake kula rada entheng tapi kankere dereng wonten perubahan napa-napa," ucap Sutarmi. Wahab, suaminya, pasrah karena tak bisa membawa istrinya ke rumah sakit rujukan. "Mboten wonten biaya babarblas," tandasnya. Dia berputra empat. Yang sulung studi di PGTK Pecangaan. Kendati sudah lulus masih utang biaya kelulusan Rp 2 juta lebih. Dia semakin bingung karena beberapa pekan lagi harus menyiapkan biaya midsemester tiga anaknya yang diperkirakan menghabiskan Rp 450.000. Bagi dia, uang sebesar ini menyulitkannya di tengah kondisi istrinya yang sedemikian parah. Direktur RSUD Kartini dokter gigi Kusnarto MKes mengemukakan, RSUD memang tidak bisa menangani penyakitnya dan karena itu dirujuk ke Semarang. "Pemegang askesda memang hanya sebatas mendapatkan perawatan pengobatan gratis di rumah sakit di Jepara," ujar dia. Dijelaskannya, askeskin itu wewenang PT Askes yang kuotanya tak bisa ditambah dan dikurangi. "Inilah dilema kami," ucapnya. Di Jepara pemegang askeskin 265.002 orang sedangkan askesda 48.000 orang. Sutarmi tak sendirian. Nasihin (35) dari desa yang sama bernasib serupa. Dia menderita kanker yang menempel di tenggorokannya. Sama, dia juga berlatar belakang ekonomi tak mampu dan tidak terdaftar sebagai pemegang askeskin dan askesda. "Kami sedang mengurusnya. Kalau mungkin bisa mendapatkan kartu askesda dari Pemkab," ujar Muid, tetangga Nasihin, kemarin. Sutarmi dan Nasihin belum bisa berharap banyak untuk lepas dari penyakitnya, terlebih pelayanan kesehatan buat si miskin yang masih banyak kekurangan. (Muhammadun Sanomae-69) |