logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 21 September 2007 MURIA
Line

Pembangunan PLTU Rembang Dimulai

  • Bernilai Rp 6,8 Triliun

REMBANG - Pembangunan PLTU 1 Jawa Tengah di Rembang yang berkekuatan 2 x 315 MW merupakan salah satu perwujudan program percepatan 10.000 MW. Tujuannya untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak di dalam negeri akibat melonjaknya harga minyak dunia.

Hal itu diungkapkan Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Ir J Purwono, kemarin, ketika menghadiri acara ground breaking di lokasi PLTU, Desa Leran dan Terahan, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang.

Tampak hadir, Bupati H Moch Salim, Wakil Bupati H Yaqut Cholil Qoumas, Ketua DPRD H Djoemali SSos, dan segenap pejabat teras lain.

J Purwono mengemukakan, tahun ini PT PLN (Persero) telah memberikan subsidi kepada masyarakat Rp 30 triliun. Diharapkan, pembangunan PLTU berbahan bakar batubara sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) itu bisa mengurangi beban PLN, khususnya terkait dengan pemberian subsidi ke rakyat.

Program percepatan 10.000 MW, menurut Dirjen Listrik dan Energi itu, juga bertujuan meningkatkan mutu dan keandalan sistem penyediaan, penyaluran, dan pelayanan listrik kepada masyarakat, terutama di wilayah kelistrikan Jawa-Bali.

Dia mengungkapkan, PLTU yang dibangun di Rembang itu menggunakan bahan bakar batubara berkalori rendah sebagai tenaga penggerak mesin. Dalam perhitungan matang, PLTU itu akan menghabiskan batubara 1.900.000 ton/tahun.

25 PLTU

Dikatakannya, proyek percepatan 10.000 MW ini akan membangun sedikitnya 25 PLTU yang lokasinya tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 10 unit di antaranya dibangun di Jawa.

Proyek semacam ini sekarang telah dikembangkan Indonesia dan Malaysia. Hasil kajian menunjukkan, peralihan teknologi sekaligus peralihan bahan bakar minyak menjadi batubara memiliki angka penghematan yang besar.

Dirut PT PLN (Persero) Eddie Widiono S menyebutkan, penandatanganan kontrak proyek berlangsung 21 Maret lalu. Pelaksana kontrak adalah Zelan-Priamanaya-Tronoh Concortium.

Proyek yang dibangun di atas lahan lebih kurang 60 hektare ini memiliki nilai kontrak Rp 6,8 triliun. Jadwal penyelesaian, unit 1 harus sudah rampung September 2009. Selanjutnya unit 2 harus rampung Desember 2009.

Proyek ini, menurut Eddie Widiono, juga akan membangun SUTT 150 kv PLTU-Rembang/Pati sepanjang 22 km, 4 sirkuit, 2 x TACSR 410 mm2, OPGW 70 mm2. Kemudian reconductioring SUTT 150 Kudus-Jekulo-Pati-Rembang-Blora sepanjang 95 km. Upgrading 5 gardu induk 150 kv masing-masing ditempatkan di Kudus, Jekulo, Pati, Rembang, dan Blora.

Saat ini, proyek PLTU di Rembang telah menyerap 400 tenaga kerja. Selama masa pembangunan konstruksi diperkirakan akan menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja. Perekrutan tenaga kerja diprioritaskan asal daerah setempat.

Wakil Gubernur Jateng Drs Ali Mufidz menandaskan, listrik menjadi sarana sangat penting untuk melaksanakan pembangunan di suatu daerah. Bahkan listrik kerapkali dijadikan pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya.

Pihaknya mendukung pembangunan PLTU karena bisa membawa dampak positif bagi perkembangan perekonomian. Meski demikian, dalam pelaksanaan proyek itu harus tetap memperhatikan aspek lingkungannya. Jika terjadi suatu masalah harus segera diselesaikan.

Seusai acara peresmian dimulainya pembangunan PLTU yang ditandai dengan pelepasan anak panah oleh Dirjen Listrik dan Energi J Purwono, dilanjutkan penyerahan bantuan Rp 315 juta untuk pemberdayaan lingkungan kepada SD/MI, pesantren, dan sejumlah masjid yang ada di Desa Leran dan Terahan. (jl-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA