| Jumat, 21 September 2007 | BUDAYA |
Lewat Tubuh Tita BerkisahDALAM pameran "Her Story" di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), pada 19 September-4 Oktober, Titarubi mengeksplorasi tubuh dengan pemaknaan mendalam. Lulusan Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1997 itu mendekati tubuh lewat perspektif menarik. Dia mengomunikasikan pengalaman subjektif dan objektif ke khalayak dengan apik. Karya berjudul The Silence Sound of War, Lindungi Aku dari Keinginanmu, I Wish I Had A River, Herstory about Foot: Di Bawah Kakimu Bunga-Bunga Sudah Mati, Selaput, Vagina Brocade, Her Story on White: Baju yang Kau Pintal Terlalu Berat Bagiku, Bayang-bayang Maha Kecil #2, dan Herstory about Fingers jadi penghantar yang baik tentang nasib tubuh. Dia tak menafsir terlalu berat. Apalagi berpretensi membingungkan serta bergenit-genit dengan muatan absurditas. Namun dia mampu mendekatkan karya dengan para penikmat. Dia mengawinkan keragaman medium, bentuk, dan material, sehingga mengatasi batas tipis antara bentuk dan disiplin. Dengan capaian lintas batas itu, ujar kurator Alia Swastika, ikhtiar Tita mendapatkan bentuk paling sempurna, baik secara estetik maupun tematis, jadi keniscayaan. Dia memanfaatkan perunggu, besi, kayu, lampu, plastik, kain brokat, kaca, stainless steel, akrilik, keramik, resin, dan berbagai kemungkinan lain. Dan, dia mampu menghadirkan karya secara purna: rampung secara ide dan tema. Dan, tersampaikan secara estetis ke penikmat. "Lindungi Aku dari Keinginanmu", misalnya, mempertontonkan tiga potongan tubuh perempuan yang menyimpan janin di perut yang terlihat tembus pandang. Dengan pendekatan itu, pesan dalam karya gampang terbaca. "Vagina Brocade" adalah karya instalasi dalam film Opera Jawa Garin Nugroho. Dalam versi film, Shinta (Atika Sari Dewi) bersimpuh dalam lindungan kain brokat kuning. Dalam versi pameran, sosok Shinta yang mencitrakan kesetiaan digantikan siluet tubuh di dasar brokat. Karya-karya lain punya kandungan narasi sendiri-sendiri. Kemungkinan terjadi miskomunikasi antara niat, tema, dan karya perupa yang cenderung mengusung semangat keperempuanan itu dapat direduksi. Pengalaman hidup perempuan yang tak sama dengan lelaki, teristimewa atas pengalaman tubuh dan pikiran keperempuanan, terjembatani dengan pemahaman universal. Sebab, karya Tita bicara lewat bahasa keseharian sehingga membumi dalam pemahaman penikmat. "Kisah Tanpa Narasi" berupa tiga lori kereta pengangkut tebu dengan rel serta keranjang raksasa yang disesaki boneka tubuh manusia dari keramik, misalnya, sungguh mengundang decak. Ya, Tita seperti ingin mengajak siapa pun yang cenderung mengabaikan asasi tubuh untuk memaknai, syukur-syukur mampu menghargai keberadaan tubuh manusia. (Benny Benke-53) |