| Kamis, 20 September 2007 | MURIA |
Pembatik Tua Penyelamat Batik Lasem (2-Habis)"Kalau Pakai Kaca Mata Malah Terlihat Gelap"DI tangan kanannya masih memegang canting. Namun perempuan itu nampak terkantuk-kantuk di balik gawangan (penyangga kain mori yang akan dibatik-Red). Angin semilir yang bertiup di Desa Karaskepoh, Rabu (19/9) memang cukup mengoda siapa saja untuk sejenak mengatupkan mata dan terlelap dalam tidur. Lima menit lamanya perempuan itu terbuai memasuki alam keheningan. Matanya kembali terbuka, ketika serombongan anak-anak kecil yang sedang bermain sahur-sahuran melintasi samping rumah bambunya sembari memukuli kaleng kosong. "Rasanya ngantuk sekali. Maklum dari semalam membantu kerabat yang punya kerja," katanya sembari membetulkan kuciran di rambutnya yang sudah memutih itu. Mbah Kasmijah (83), begitulah nama perempuan itu. Dibalik usianya yang telah menjejak kepala delapan lebih, perempuan warga RT 6/I Desa Karaskepoh itu masih terlihat gesit bergerak. Jalannya juga belum terlalu bungkuk, pancainderanya masih berfungsi baik. "Resepnya tetap sehat hanya pasrah kepada Yang Memberi Hidup di atas, Nak," tuturnya. Sesaat kemudian, setelah kantuk menghilang, Mbah Kasmijah kembali mencelupkan canting ke cairan malam yang dibakar di atas kayu. Beberapa detik kemudian tangannya yang kurus sudah terlihat menari-nari menorehkan warna-warna cokelat ke atas kain. "Sekarang saya sedang memberi isen-isen pada pola kain ini. Kata orang-orang, saya sangat ahli dalam isen-isen ini," terangnya sembari tertawa. Butuh Ketelitian Sebenarnya, isen-isen akan sangat sulit dilakukan oleh orang seumuran Mbah Kasmijah. Pasalnya, diperlukan ketelitian dan pandangan mata yang jelas untuk membuat titik-titik kecil, garis-garis pendek-pendek atau warna gelap untuk melengkapi ornamen atau motif yang sudah dikerjakan pembatik sebelumnya. "Kata orang seharusnya saya sudah pakai kaca mata. Tapi, kalau pakai kaca mata saya rasakan sekeliling saya malahan kabur dan lama-lama gelap," jelasnya. Di sela-sela memberikan isen-isen pada motif batik Sidomulyo yang tengah dikerjakannya, Mbah Kasmijah menuturkan, dia sudah mulai membatik sejak akhir tahun 1930-an. Ketika Jepang masuk, dia mengaku berhenti sejenak membatik, karena tengkulak China menghentikan produksi batik akibat kelangkaan kain. Setelah masa Jepang berlalu, Kasmijah mengaku kembali membatik saat ada pasukan Belanda masuk kembali ke Lasem. "Sampai sekarang ini saya terus membatik," ujarnya yang hanya menerima upah Rp 3.000 hingga Rp 5.000/kain yang dikerjakannya itu. Ya, berkat ketekunannya membatik, Yayasan Batik Indonesia kemarin malam di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta memberikan penghargaan khusus bagi Mbah Kasmijah. Dengan orang-orang seperti Mbah Kasmijah yang tak pernah putus membatik, berbagai motif batik kuno bisa diajarkan kepada generasi yang lebih muda. Sebenarnya, Mbah Kasmijah akan berangkat sendiri ke Jakarta untuk menerima penghargaan itu. Namun, karena keluarga khawatir akan kondisi kesehatannya, akhirnya diwakilkan oleh tetangganya, yakni Bu Sugiyem yang juga akan mengikuti pameran di Jakarta. (Mulyanto Ari Wibowo-36) |