logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 20 September 2007 MURIA
Line

Usaha Pembekuan Ubur-ubur Buang Limbah ke Kali Juwana

PATI- Sudah puluhan tahun sebuah perusahaan dari Jakarta yang secara turun-temurun melakukan proses pembekuan ubur-ubur di Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Pati, membuang limbah cair ke Kali Juwana. Selama ini berlangsung aman-aman saja.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dan pantauan di lokasi, warga sekitar dan juga nelayan yang memanfaatkan alur kali itu selama ini seperti tidak ada yang menaruh kepedulian. Kondisi alur kali Juwana saat ini atau tahun-tahun mendatang bagaimana, seperti tidak ada yang peduli.

Padahal, alur kali itu merupakan urat nadi perekonomian masyarakat di wilayah kecamatan tersebut. Meski usaha pembekuan ubur-ubur perusahaan itu berlangsung secara periodik, yaitu saat musim hasil tangkapan nelayan ramai antara Agustus-Oktober, tapi limbah cair berbusa yang tiap hari di buang ke Kali Juwana cukup banyak.

Limbah berbuih tersebut, diduga berasal dari sisa-sisa bekas pencucian ubur-ubur yang sudah beku sebelum diasinkan dengan garam. Sebab, dalam proses pembekuan dengan cara bongkahan ubur-ubur ditampung di bak-bak, ternyata menggunakan potasium alum atau dikenal dengan tawas dalam bentuk butiran kecil-kecil.

Sepintas barang kimia itu mirip seperti serbuk kapur, tapi bisa membekukan ubur-ubur puluhan ton dalam waktu 3 X 24 jam. Setelah mengalami pembekuan, ubur-ubur tersebut dipindahkan ke tempat pengolahan, dengan menyisakan limbah cair berwarna putih yang dibuang ke kali.

Asin

Kendati air Kali Juwana saat ini asin akibat laut pasang, sehingga warna airnya kecokelat-cokelatan, tapi limbah cair berbuih yang dibuang ke kali itu perlu dicek Pemkab. Untuk mengetahui apakah limbah tersebut mengandung bahan kimia atau tidak, pihak berkompeten perlu segera turun tangan.

Salah seorang kepercayaan perusahaan itu, Ali Rakito, ketika ditanya sehubungan hal tersebut menegaskan dalam proses pembekuan ubur-ubur sama sekali tidak menggunakan campuran bahan kimia. Sebab, yang digunakan hanya tawas dan garam.

Hal tersebut diakui pernah menimbulkan permasalahan dengan pihak nelayan di Pantai Perigi, Tulungagung, Jatim ketika perusahaan membuka kegiatan yang sama di tempat tersebut. Dia hafal betul, karena sudah bekerja di perusahaan itu sejak 1982.

Selama proses pembekuan itu berlangsung sampai ubur-ubur yang beku diolah hingga masak, dan dikemas, membutuhkan waktu satu minggu. Tiap bulan rata-rata mampu membekukan ubur-ubur yang dibeli dari nelayan sebanyak 300 ton.

''Dari jumlah tersebut, tiap satu ton ubur-ubur setelah dibekukan hanya tinggal 25 kilogram,''ujarnya.(ad-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA