| Kamis, 20 September 2007 | SEMARANG |
Polines Ciptakan Alat Uji EmisiAkurasi Tinggi, Harga Terjangkau
POLUSI udara yang terjadi di Indonesia, 70 persen di antaranya disumbang oleh emisi gas buang kendaraan bermotor. Berdasar data Kementrian Lingkungan Hidup itulah, pemerintah sepertinya akan segera mewujudkan peraturan tentang emisi gas buang dari kendaraan bermotor. Melihat sebuah peluang tersebut, empat mahasiswa Politeknik Negeri Semarang (Polines) berusaha membuat alat uji emisi gas buang kendaraan. Selain memang ingin mewujudkan harapan itu, pembuatan alat itu merupakan salah satu syarat kelulusan Tahap Akhir (TA). Keempatnya merupakan mahasiswa jurusan Teknik Konversi Energi, yakni Heri Mulyono, Kaisar, Risky Widitya Pratama, dan Supriyadi. Dengan dukungan dua dosen pembimbingnya, yakni Suparni Setyowati Rahayu dan Dwi Ana Hendrawati, dalam kurun waktu sekitar satu bulan alat tersebut bisa terwujud. Heri menjelaskan, alat ini mampu menguji tiga komponen beracun yang keluar dari kendaraan, yakni NOX, CO, dan HC. Jika dibandingkan alat uji emisi milik DLLAJR, bentuknya memang lebih simpel dan kecil dengan dimensi panjang 19,5 cm, lebar 17,5 cm, dan tinggi hanya 7 cm. Para mahasiswa itu juga telah melakukan uji secara bersamaan dengan alat milik DLLAJR dengan menggunakan tiga sepeda motor yang sama. "Motornya sama, hanya alat ujinya yang berbeda," ungkap Suparni. Lebih Murah Hasilnya, alat yang diciptakan para mahasiswa itu ternyata memiliki akuarasi yang cukup bagus dan tidak terlalu berbeda dengan alat yang dimiliki DLLAJR yang merupakan standar dari pemerintah. Untuk pengujian pada motor 4 langkah buatan tahun 2004 misalnya, kesalahan yang dilakukan alat mahasiswa untuk HC hanya 0,146 persen saja bedanya dengan alat DLLAJR. Risky menambahkan, alat uji emisi itu sangatlah peka terhadap temperatur udara sekitar. Hal itu tak lepas dari pemasangan dua sensor TGS2106 dan TGS2104 di dalam alat tersebut. Bahasa pemrograman yang dilakuan pun telah menggunakan Bahasa Indonesia yang ditampilkan dalam sebuah layar monochrome. "Dengan bahasa yang dimengerti, otomatis penggunaannya pun akan lebih mudah," ucap Risky berpromosi. Karena hasil penelitian sendiri, soal harga jelas jauh berbeda dengan yang dimiliki DLLAJR maupun yang banyak dijual di pasaran. Alat ini di pasaran harganya mencapai Rp 40 juta, sedangkan kreasi mahasiswa Polines itu dipastikan tidak sampai Rp 10 juta bila ada pemesanan atau nantinya akan diproduksi massal. (18) |