| Kamis, 20 September 2007 | SEMARANG |
KH Zuber, SalatigaJadi Rujukan Penyelesaian Masalah
SEMASA hidup, KH Zuber (1908-1990), selalu menjadi rujukan dalam menyelesaikan persoalan agama. Tokoh Islam dari Salatiga ini adalah pakar ilmu falak (hitung bintang-Red) yang mumpuni. Siapakah KH Zuber? Dia berasal dari Jawa Timur, yang tinggal di Salatiga sejak 1921. Pertama kali mengenyam pendidikan agama di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang didirikan Hadratussyekh Hasyim Asy'ari. Dia pernah pula belajar ilmu agama di Arab. Salah satu ilmu yang didalaminya adalah ilmu falak, yang merupakan cikal bakal ilmu astronomi atau perbintangan. Berkat kepakarannya sebagai ahli falak, Zuber kerap diminta pemerintah melakukan perhitungan hisab berkaitan dengan hari-hari besar agama Islam. Mantan Dirjen Kelembagaan Agama Islam Depag Prof Dr H Qodri A Azizy MA, kini Sekjen Menko Kesra, dalam sebuah pemberitaan mengakui ulama ahli falak semakin langka. Dia menyebut, KH Zuber (Salatiga), KH Turaichan (Kudus), dan KH Mahfudl (Jombang) semuanya sudah tiada. Selain pakar ilmu falak, KH Zuber juga pengarang kitab berbahasa Arab, terutama ketika masih belajar di negara jazirah itu. ''Sayang saya belum dapat mengumpulkan koleksi buku-buku karangannya itu,'' kata Drs H Zulfa Makasin MSi, bekas mahasiswa Zuber di STAIN (dahulu cabang IAIN Walisongo Semarang-Red). Zuber juga PNS di Kantor Depag. Dia pernah menjabat di Mahkamah Tinggi Islam di Solo dan dosen IAIN Walisongo Semarang. Ia merupakan sosok yang disegani sebagai pendidik, baik di STAIN maupun Pesantren Luhur Salatiga. Meski terkenal, kenang Zulfa, kiai yang telah dimakamkan di komplek Masjid Al Atiq atau Masjid Kauman itu, tetap bersikap tawadluk. Sikap yang diartikan tulus dan rendah hati membuat para pejabat hingga masyarakat kecil segan kepadanya. Dikenal Masyarakat Sebagai seorang ulama, Zuber kerap diminta mengisi kegiatan pengajian. Tidak heran, namanya sangat dikenal masyarakat, apalagi warga Kauman. Bahkan kedekatannya dengan masyarakat, dimanfaatkan untuk kegiatan politik. Zulfa, yang juga dosen STAIN Walisongo teringat, sekitar tahun 1977 hingga akhir tahun 1980-an, Zuber dimanfaatkan Golkar untuk menarik massa dan memenangkan pemilu. Konon, karena kedekatannya dengan masyarakat itu, membuat partai terkuat Orba tersebut memperoleh suara terbanyak di Kota Salatiga dan sekitarnya. Kepandaiannya dalam ilmu hukum agama Islam, membuatnya kerap menjadi ''penasihat hukum'' dan rujukan siapa saja untuk membantu penyelesaian masalah berkaitan dengan hukum Islam. ''Permasalahan apa pun yang berkaitan dengan Islam, selalu yang menjadi rujukan adalah KH Zuber. Bahkan kerap menjadi rujukan para tokoh agama Islam lainnya,'' terang Zulfa. Berkembangnya Masjid Al Atiq atau Masjid Kauman yang berada di jalan Semarang - Solo, tidak lepas pula dari perannya. Tempat ibadah yang dipercaya umat Islam Salatiga sebagai masjid tertua di kota enting-enting gepuk itu, telah menjadi masjid megah. Menurut Zulfa, banyak bantuan pembangunan masjid itu dari donatur dan pemerintah karena peran kiai. (18) |