logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 15 September 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Pengelompokan Guru

Saat pemerintah keluarkan PP No 48/2045, secara tidak langsung guru sudah terbagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama, guru PNS, kedua guru bantu, ketiga guru honorer di sekolah negeri dan keempat guru honorer di sekolah swasta. Sebenarnya tugas mereka sama yaitu mempersiapkan agenda mengajar, program semester, rencana pembelajaran penilaian analisis penilaian, di samping mengajar.

Namun kenyataannya nasib mereka dalam memperoleh penghargaan/penghasilan tidak sama bahkan jauh sekali bedanya. Misal dari kelompok pertama; guru PNS, tugas mereka sama persis baik dengan guru bantu, guru honorer, maupun guru honorer di sekolah swasta. Yang membedakan, gaji mereka cukup besar dengan tambahan lain dan jika ada kenaikan gaji, PNS-lah yang paling berhak.

Kelompok kedua, guru bantu yang digaji pemerintah meski nilainya lebih kecil dari guru PNS (sekitar Rp 710.000/bulan) ditambah tunjangan fungsional Rp 200.000/bulan. Tugas mereka sama, namun ketika ada PP No 48/2005 guru bantu termasuk yang diakomodasi untuk menjadi CPNS.

Kelompok ketiga, guru honorer di sekolah negeri. PP No 48/2005 mendefinisikan tentang tenaga honorer yaitu seseorang yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian atau pejabat lain dalam pemerintahan untuk melaksanakan tugas tertentu pada instansi pemerintah atau yang penghasilannya menjadi beban APBN/APBD (Pasal 1 ayat 1) sehingga mereka punya harapan dalam pengangkatan CPNS. Tugas mereka sama namun mungkin penghasilanya juga tidak banyak.

Kelompok keempat, guru honorer di sekolah swasta. Guru ini tugasnya juga sama dengan guru kelompok satu, dua dan tiga. Yang membedakan, di samping penghasilannya tidak banyak (tergantung jam mengajar dalam 1 minggu) ditambah tunjangan fungsional Rp 200.000/bulan bagi yang mengajar minimal 24 jam pelajaran/minggu).

Tunjangan ini dapat membantu menambah penghasilan mereka meski tidak semua guru mendapatkan. Namun mereka sama sekali tidak terakomodasi dalam PP No 48/2005 tersebut bahkan jarang tersentuh jika ada kebijakan baru tentang guru. Termasuk yang disebut dalam UU guru dan dosen karena penghasilan mereka sangat tergantung kondisi sekolahnya.

Kalau termasuk sekolah swasta favorit, mungkin penghasilannya cukup bagus. Tapi jika sekolah swasta tersebut biasa saja dan terkadang para siswa banyak dari keluarga kurang mampu, maka dapat dipastikan penghasilannya tidak sesuai dengan tugas dan pendidikan mereka. Itulah pengelompokan guru yang sebenarnya, semoga pemerintah bijaksana dalam membuat keputusan sehingga tidak ada kelompok yang berpenghasilan sangat rendah dan ada yang sangat tinggi meski tugas dan bebannya sama.

Dra Susilowati

Jl Jaya Serayu 46, Banyumas

Kethoprak Canda

Manusia yang biasanya bergelut dengan manajeman njilmet dan berbagai kesibukan itu dipaksa untuk berperan bukan sebagai dirinya. Mereka hatus memerankan berbagai karekter dalam Kethoprak Canda. Apa yang terjadi ?. Hiburan segar plus ger-geran ditunjukkan sebagian pemain karena lupa menghafal dialog. Ada bekas rektor, pejabat, petinggi perusahaan dan lainnya.

Untuk apresiasi seni dapatlah ini disejajarkan dengan lawakan Srimulat. Malah lebih unggul sebab penonton dibuat terpingkal bukan dialog Iucunya namun lupa menghafal dialog. Kerja seni ini seharusnya menjadi agenda tahunan yang melibatkan banyak pengusaha dan penulis yang selama ini belum pernah memerankan karakter tokoh lain.

Para penulis/seniman yang dulu aktif menulis bisa diusulkan untuk memerankan tokoh baru. Termasuk pengusaha bus Bapak Sundoro yang suka "ngomong" . Orang makin tahu bahwa kapasitas di belakang layar dan di atas panggung berbeda. Semacam kawah candradimuka bagi seseorang.

Di balik nama Kethoprak Canda mungkin terselip pesan bahwa dalam penghidupan ada kehidupan. Dan kehidupan itu bermuara keseimbangan antara materi dan seni. Salah satu candaan itu.

Agus Eko Santosa SE

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak0

***

Pancasila Jarang

Berkumandang

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober setiap tahun selalu diperingati bangsa Indonesia dengan upacara sejak 1966. Pengkhianatan PKI yang akan menghapuskan Pancasila mengalami kegagalan total dengan pemberontakan G.30.S/PKI-nya. Semua kekuatan Pancasilais berjuang bersama, bahu-membahu menumpas usaha PKI yang bersikeras akan menjadikan negara komunis.

Sejarah mencatat, ideologi Pancasila tetap tegar hingga sekarang sementara ideologi komunis mati seperti di negara lain. Bahkan dedengkot negara komunis, Uni Soviet telah bubar menjadi beberapa negara merdeka. Sebagai bangsa berketuhanan Yang Maha Esa, kita merasa syukur memiliki ideologi tahan uji.

Juga bersyukur, MPR telah memutuskan Ketetapan MPR No II Tahun 1978 mengenai Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang dikenal dengan Eka Prasetya Pancakarsa. Sudah jutaan rakyat mulai PNS, ABRI, pedagang, petani dan profesi lain telah mendapat penataran P4, baik yang pola 45 jam hingga 100 jam atau bahkan lebih dari itu.

Tidak ketinggalan generasi mudanya mulai pelajar hingga mahasiswa juga mendapatan penataran P4. Ada baiknya dalam merenungkan Hari Kesaktian Pancasila ini. Kita buka kembali isi P4 atau Eka Prasetya Pancakarsa yang berikut:

Pancasila yang bulat dan utuh ini memberi keyakinan kepada rakyat dan bangsa bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai bila didasarkan atas keselarasan dan keseimbangan, baik hidup manusia sebagai pribadi dalam hubungan dengan masyarakat, dengan alam, dengan bangsa lain, dengan Tuhannya atau dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.

Dengan berkeyakinan akan kebenaran Pancasila, maka manusia ditempatkan pada keluhuran harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kesadaran untuk mengembangkan kodratnya sebagai makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial.

Berpangkal tolak dari kodrat manusia tersebut merupakan makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial, maka penghayatan dan pengamalan Pancasila akan ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri dan kepentingannya agar dapat melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara dan warga masyarakat.

Tetapi kenapa kata-kata yang indah dari bagian P4 tersebut dalam derap dan pesatnya pembangunan fisik di negara ini, seakan tertelan gelombang dan arus yang melanda pelbagai sektor kehidupan bangsa. Sudah jarang para pemimpin yang mengaku Pancasilais berbicara mengenai kehidupan yang didasarkan atas keselarasan dan keseimbangan.

Yang makin ramai malah mengejar kemajuan dan pemuasan lahiriah, sementara kebahagiaan rohaniah dikesampingkan dan dilupakan. Makin langka para pemimpin sekarang menyitir nilai-nilai sila dari Pancasila.

Mereka melupakan bahwa penghayatan dan pengamalan Pancasila sebenarnya ditentukan oleh kemauan/kemampuan seseorang mengendalikan diri dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Juga makin tidak terdengar berkumandangnya keunggulan nilai-nilai luhur kelima sila Pancasila. Akibatnya banyak perilaku yang bertentangan dengan nilai luhur Pancasila dibiarkan berkembang dan merebak dalam masyarakat.

Norma yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa akhirnya kian dijauhi. Perilaku yang tidak cocok dengan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab cenderung makin meningkat.

Kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara yang seharusnya ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau golongan, juga kurang dirasakan para pemimpin sebagai pelaksanaan sila ketiga.

Pada butir keempat, karena semua warga negara mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, maka seharusnya tidak boleh ada paksaan kepada pihak lain. Sikap adil terhadap sesama, menghormati hak orang lain cenderung menipis/langka terjadi. Kesimpulan, Pancasila kini makin kurang berderap, berkumandang dan makin jauh dipandang oleh mata waras.

Amar Makruf

Purwogondo, Kalinyamat, Jepara

***

Amenangi Jaman Waras

Dalam buku Yang Eling di Jaman Edan karya Amat Iskandar (Aneka Ilmu, 2006), ada beberapa hal menarik yang ingin saya kutip. Pada 23 Desember 1982 ketika Wakil Presiden Adam Malik menyerahkan Piagam Satya Penegak Pers kepada sejumlah wartawan, beliau mengatakan: "Keadaan dunia sekarang tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dilukiskan dalam Kitab Kalatidha" (hal 16).

Kalatidha adalah era penuh kebimbangan karena situasi masyarakatnya yang telah meninggalkan nilai-nilai kejujuran, etika sosial/moral dan etika politik/bernegara. Akibatnya nilai-nilai luhur kemanusiaan yang adil dan beradab tidak pernah terwujud. Kalatidha, karya pujangga Ranggawarsita juga berbicara tentang zaman edan.

Hal ini dinyatakan dalam pupuh Sinom yang menyatakan "amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersane Allah, sabegja-begjane kang lali luwih begja kang eling lan waspada".

Sebagai generasi muda, terus terang saya berpikir dan bertanya, apakah sejarah peradaban Nusantara dari era eyang Ranggawarsita sampai dengan orde lama, orde baru dan orde reformasi ini belum pernah mengalami jaman waras?. Era Ranggawarsita sekitar tahun 1800-an pun sudah dipeluk oleh zaman edan.

Sekarang ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan sejak tahun 1945, rasanya sama saja. Seakan danyang yang menguasai bumi Indonesia ini memang "danyang edan" sehingga susah mengharapkan lahirnya jaman waras. Sebagai pribadi kita harus bisa bertahan tetap waras di tengah berbagai kesulitan hidup yang terus mendera.

Tetapi yang menyedihkan, justru hanya orang-orang waras yang bisa dihukum, bagaimana dengan orang-orang edan. Apa hukuman yang pas buat mereka, digiring ke rumah sakit jiwa atau bagaimana?. Sebab akhir-akhir ini populasi wong edan (orang gila) makin banyak yang ditandai dengan sikap gila jabatan, kekuasaan, harta, seks atau gila kehormatan.

Saya khawatir, mereka mendapatkan semua itu dengan cara gila. Jawabannya mungkin hanya satu kata yaitu gila juga. Mari yang masih memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara serta setetes iman untuk berlomba dalam kebaikan (QS Al Mai'dah ayat 48).

Suprayitno (081325736405)

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

Pembagian Raskin

Masyarakat kita memang aneh. Ketika musim "nomor", mereka berbondong-bondong membeli agar mendapat uang secara mudah. Malah ada yang mengharap jadi kaya. Sekarang dengan adanya beras murah atau dikenal dengan sebutan "raskin", orang mampu pun minta jatah. Kalau tidak diberi, lurah/kadesnya didemo sehingga hampir semua warga mendapat jatah.

Itu belum cukup. Beras yang sekantung berisi 20 kg, setelah ditimbang beratnya ternyata kurang dari itu. Untung masyarakat mau mengerti da beras dibagi rata. Namun ada juga keluarga miskin yang tidak mau membeli raskin dengan alasan kalau makan beras medium, lauk ikan asin pun masih masuk/bisa dimakan tetapi raskin walau diberi lauk enak tetap tak masuk.

Yang lebih aneh ketika berasnya jelek, tidak ada yang mengambil. Beras dilempar ke pasar dan seminggu kemudian lurahnya "digulingkan". Apa tidak konyol. Agar beras sampai kepada yang berhak, sebaiknya ada pemecahan. Misal, ada petugas yang mendata keluarga kurang mampu dan yang mampu. Petugasnya diambilkan dari desa/kelurahan lain sehingga tidak dianggap ada kongkalikong.

Juga keluarga mampu disodori surat yang isinya tidak mengharap raskin. Pernyataan ini akan memiliki daya jera tinggi, kerena mengandung risiko berat. Semoga raskin diterimakan kepada yang berhak, jangan sampai salah urus lagi.

Soegiri

Noyontaan 12 RT 1/RW 2, Pekalongan

***

Yuyu Kangkang

Legenda Yuyu Kangkang kali ini banyak dihidupkan kembali oleh para pemerhati seni, baik di kalangan orang tua maupun remaja dalam banyak acara. Fenomena ini perlu dianalisa. Yuyu Kangkang adalah sosok yang memiliki kekuasaan dan jabatan. Sekecil apa pun jabatan itu, masyarakat akan hormat dengan sendirinya bila memang murni untuk melayani kebutuhan rakyat.

Tetapi yang terjadi justru dia mengangkangi yang mengartikan dirinya sebagai penguasa (digambarkan dalam cerita, Yuyu Kangkang meminta imbalan atas jasanya dengan melahap habis harta dan raga para klenting/gadis). Laku culas tersebut akhirnya terhenti oleh keberanian Klenting Kuning hingga kepongahan Yuyu Kangkang benar-benar habis.

Simpulan cerita, gambaran ini memberi pesan moral kepada para pemegang mandat agar ingat jerit tangis keluarga kelak bila mereka harus menghadapi tuduhan korupsi. Boleh jadi itu bukan kesalahan pribadinya tetapi akibat sistem. Ada pepatah:''Senadyan mung keceh ning pinggiran, ora wurung kecipratan banyu.

Pepacuh/peringatan ini ini hendaknya terekam dengan baik dan peganga erat sebagai pusaka petuah para leluhur "Sing eling lan waspodo", jangan ikut -ikutan dan jangan silau. Apalagi buldozer ''ganyang korupsi'' mulai berjalan dan rakyat pun melihat bila buldozernya mogok, mereka akan mendorongnya kuat - kuat sambil berteriak: ''Merdeka, tumpas habis koruptor''.

Angkat jempol buat para seniman yang dapat memberi peringatan kepada para Yuyu Kangkang yang sudah kebacut nunggu wohing penggawe) dan bagi yang baru pikir-pikir untuk korupsi agar wurungno niatmu

Wiyono (085866946682)

Jl Sri Rejeki Utara VIII/11, Semarang

***

Bumi Nusantara

Semua tahu Nusantara bumi yang subur dab menjanjikan. Semua tahu, Nusantara bumi yang banyak hasilnya. Nusantara, bumi katulistiwa.Ribuan pulau tergabung menjadi satu sebagai ratna mutu manikam. Siapa tak kenal Nusantara. Alamnya indah dan cerah, jadi kebanggaan semua. Aneka bunga, buah dan lainnya berlimpah kekayaan Nusantara.

Burung berkicau riang menari. Bunga-bunga mekar semerbak harum mewangi. Gunung tinggi lautan membiru betapa kaya Nusantara. Betapa subur Nusantara. Betapa aman Nusantara. Betapa ramah Nusantara. Betapa cerah Nusantara. Betapa indah Nusantara.

Selalu bersinar matahari di pagi hari. Nusantara impianku. Nusantara pujaanku. Nusantara kau milikku. Nusantara kau menjadi tujuan wisata. Rakyatnya? Itulah yang harus kita pikirkan bersama terutama oleh pengambil kebijakan negeri ini.

Bumi Nusantara bukan bumi tempat korupsi. Bumi Nusantara bukan tempat memeras rakyatnya. Bumi Nusantara tidak untuk royal "kunker" anggota dewan. Sebagian lirik Iagu Koesplus itu patut kita renungkan, janganlah bumi ini dijadikan komoditas menguntungkan hanya untuk sekelompok orang saja.

Wisnu Widjaja

Jl Sindoro I/1 Panggung, Tegal

***

Belanja di Carrefour

Saya mengalami kejadian kurang mengenakkan saat berbelanja di Carrefour Jl Pemuda Semarang pada tanggal 4 September 2007. Saya beli Fanta 1,5 liter sebanyak 24 buah dengan harga yang tercanturn di rak/display Rp 7.490/botol (harga spesial). Harga tersebut kemudian saya konfirmasikan ke supervisor yang menjelaskan bahwa tidak ada batasan jumlah pembelian.

Saya putuskan membeli sebanyak itu dengan asumsi tetap dengan harga spesial (sesuai penjelasan supervisor). Tetapi tanpa saya duga, ternyata 23 botol bukan harga spesial, tetapi harga reguler Rp 8.771. Yang mengherankan mengapa kasirnya tidak memberitahu, padahal saya sudah bertanya maslaah harga. Apakah memang bermaksud menjebak konsumen ?. Tentu saja saya kecewa dan komplain ke pihak Careefour. Namun apa yang terjadi, komplain tidak mendapat tanggapan dan kompensasi apa pun. Hal ini merugikan konsumen. Saya imbau Carrefour khususnya dan swalayan lain agar memberi pelayanan yang bertanggung jawab (tidak asal mau untung sendiri).

Tolong perhatikan kepentingan, kepuasan dan kenyamanan konsumen dalam berbelanja. Kepada pembaca sebaiknya berhati-hati saat berbelanja di tempat tersebut (belum tentu murah lho, salah-salah malah terjebak).

Supriyati

Jl Candi Tembaga Tng II/906, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA