| Sabtu, 15 September 2007 | MURIA |
Raudlotul Hikmah, Pesantren Penghasil JamurPONDOK Pesantren (Ponpes) Raudlotul Hikmah di Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Jepara, sebagaimana galibnya pesantren, tentu belajar agama menjadi aktivitas utama para santri. Namun ada kegiatan ekstra yang jarang ditemui di pondok lain, yaitu pelajaran budi daya jamur. Saking menonjolnya muncullah julukan Pesantren Jamur pada pondok yang dirikan dan diasuh Kiai Abdul Hadi (47). "Budi daya jamur di sini sudah kami mulai kira-kira enam tahun lalu," ujar Abdul Hadi yang Juni lalu dikukuhkan menjadi Ketua Kelompok Petani Jamur Kabupaten Jepara. Kiai Hadi menuturkan, pesantren yang dia rintis pada 1988/1989 sekembalinya dari nyantri di Pesantren Hidayatussalafiyah asuhan KH Muhammad Sholeh dan dalam waktu bersamaan juga mengaji di Pesantren Salafiyah asuhan KH Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan. "Awalnya ada dua hingga empat santri dari luar daerah. Namun sebelum berdiri pesantren, kami memulai dengan membuka pengajian anak-anak dan warga di sini," ungkapnya. Sekarang ada 60 santri putra dan ada yang sambil belajar di MIN, MTsN dan MAN Bawu. Lainnya hanya mengkhususkan belajar agama dan menempa diri dengan keterampilan kerja. Dengan pertimbangan keterbatasan fasilitas, belum bisa menampung santri putri. Bagi santri yang masih berusia siswa sekolah dasar, kewajiban mengaji setelah subuh dan seusai zuhur dengan belajar Alquran melalui TPQ dan madrasah diniyah awaliyah. TPQ di kompleks pesantren itu sekarang sudah menampung 250 murid. "Untuk santri seusia MI atau SD, tidak mendapatkan jadwal belajar malam agar bisa untuk belajar sekolah pagi," tutur Kiai Abdul Hadi. Untuk santri yang masih belajar di MTs, MA ataupun umum, belajar agama setelah subuh sampai pukul 06.30. Siang belajar atau bekerja. Pelajaran dilanjutkan seusai asar. Dan, malam hari seteah jamaah shalat isya hingga pukul 22.00. Fenomena Umum Adalah fenomena umum di Jepara, santri asal luar daerah belajar agama sambil (belajar) bekerja. Yang tinggal dekat perusahaan mebel ukir, ada yang menjadi tukang ampelas, kayu, dan ukir. Bagi santri Raudlotul Hikmah, mereka ada wahana belajar menjadi petani jamur. Proses budi daya tanaman itu dimulai pembuatan beklot (media) yang bisa dijual Rp 2.500/buah. Juga, ada ruang budi daya jamur. Harga jamur lumayan bagus, di atas Rp 10.000. Hanya pada musim kemarau, perawatannya rumit dan harus sering disiram air tetapi produksinya sedikit. Berbeda pada musim hujan, dengan kelembaban udara tinggi jamur tak membutuhkan perawatan yang njlimet, hasilnya lebih besar. Untuk pemasaran tak kesulitan karena permintaan pasar lebih tinggi daripada kemampuan produksi. "Jamur aslinya kan cocok dibudidayakan di daerah dingin seperti Magelang. Untuk di Jepara yang kondisinya panas, ini istilahnya kan diblithuki (direkayasa-Red) bagaimana jamur bisa hidup, dengan membuat suasana mirip daerah lembab," papar Abdul Hadi. Belakangan, tak hanya jamur. Para santri pun telah mempraktikkan budi daya lele gantung menggunakan bibit lele lokal. Disebut gantung, karena yang digunakan kolam terbuat dari plastik di atas permukaan tanah tanpa mengeduk tanah. Harga lele lokal dalam dua kali panen Rp 10.000/kg. Pembekalan santri dengan keterampilan wirausaha jamur dan lele, menurut Kiai Abdul Hadi, sebagai bagian dari program penguatan ekonomi kerakyatan. Keahlian dalam berwirausaha itu diharapkan menjadi bekal kelak setelah santri kembali ke kampung halaman masing-masing. (Sukardi-69) |