logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 15 September 2007 BUDAYA
Line

Hadiah Pernikahan ala Seniman

MANTRAM pengasihan terus-menerus tergumamkan dari mulut Bowo Kajangan. Sepanjang performance art yang dia lakukan, mantram itu seperti menjadi ilustrasi sekaligus doa untuk kedua mempelai yang sedang ''diberkatinya''.

Mempelai? Ya, performance yang dilakukan Bowo tak lain merupakan rangkaian ritual bertajuk ''Manten Banyu Mili''. Ritual yang digelar di Omahpring miliknya, Jalan Talangsari IV, Bendandhuwur, Semarang, beberapa waktu lalu itu, ditujukan untuk mangayubagya pernikahan Abbas Effendi dan Septi Puji Rahayu.

Sebenarnya pernikahan ''resmi'' Abbas, wartawan Wawasan itu, telah dilakukan di Tegal pada 25 Agustus. ''Thil... thil... kumanthil, sing takpethil bakal kanthil...,'' gumam Bowo.

Selain mangayubagya pernikahan, kegiatan malam itu sekaligus menandai peluncuran buku Antologi Puisi www.penulismuda.com. Buku yang diterbitkan oleh e-Media Solusindo itu berisi kumpulan puisi yang diambil dari situs www.penulismuda.com.

Pada peluncuran antologi itu diberikan pula penjelasan bagaimana cara mengakses website dan mendaftar sebagai anggota komunitas.

''Situs www.penulismuda.com tidak terbatas bagi penulis muda Semarang, tetapi kami peruntukkan pula bagi penulis muda dari mana pun yang membutuhkan ruang aktualisasi bagi karya mereka,'' ujar Wardjito Soeharso, webmaster situs tersebut.

Di Tengah Sungai

Yang menarik, ritual dilakukan di tengah aliran Kali Garang. Untuk pelaksanaan ritual itu, Bowo membuat pelaminan berupa instalasi yang terpacak tepat di tengah aliran Kali Garang. Dari sesela pohonan, panggung itu serupa bahtera Nuh yang menantang arus sungai.

Di atas panggung itu terdapat sepasang batu yang melambangkan Loro Blonyo, simbol pasangan abadi. Instalasi itu juga dilengkapi dua tangga. Satu tangga untuk naik ke panggung dan satu lagi menjulang ke langit.

''Tangga menjulang ke langit dengan lampu sentir di ujungnya merupakan lambang impian besar kehidupan yang akan dicari dengan penerangan lampu,'' kata seniman asal Blora itu.

Di atas panggung itu, Bowo memberikan hadiah khusus kepada mempelai. Bukan seprai, bukan pula perabot rumah tangga, yang terbungkus kertas kado yang mewah. Bowo memberikan kado dua bibit pohon jati. ''Bibit jati adalah perlambang pencarian cinta sejati,'' ujar dia. (Achiar M Permana-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA