logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 15 September 2007 BUDAYA
Line

Pameran "Masa Lalu Masa Lupa"

SEMARANG - Rumah Seni Yaitu (RSY), Kampung Jambe 280, Semarang, akan menyelenggarakan pameran "Masa Lalu Masa Lupa". Pameran tersebut diikuti perupa Agus Suwage, Eko Nugroho, Irwan Ahmett, Prilla Tania, Wimo Ambala Bayang, dan Yuli Prayitno.

Hari ini pukul 17:00, pameran bakal dibuka oleh Widjayanti Dharmowijono, kandidat doktor sastra Universitas Amsterdam, Belanda. Usai pembukaan dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan artists' talks.

Pameran berlangsung pada 16 September-8 Oktober. Penonton dapat menikmati setiap hari kerja, kecuali hari libur, pada pukul 10:00-17:00. Pameran gratis dan terbuka umum umum itu merupakan hasil kerja sama antara RSY dan Rumah Seni Cemeti.

Kota yang Berubah

Tahun 1930-1960 ditengarai oleh wajah sosial, politik, dan kultural kota-kota Indonesia yang berubah.

Perubahan itu diteliti oleh sekelompok ilmuwan UGM dengan dukungan dana dari Institut Belanda untuk Dokumentasi Perang (Netherlands Institute for War Documentation/NIOD), Amsterdam.

Proyek penelitian itu bertajuk "Indonesia Across Orders: The Reorganization of Indonesia Society: 1930-1960". Pada tataran kultural, realitas simbolis perkotaan Indonesia merupakan kelanjutan dari proses sejarah sebelumnya.

Bagaimana peralihan dari kota dengan simbol budaya kolonial menjadi kota dengan ciri kultural keindonesiaan menjelang 1960-an (dekolonisasi/indonesianisasi)?

Apakah citra dan identitas kultural simbolis perkotaan Indonesia pascakolonial berbeda dari sebelumnya?

Nah, pameran tersebut merupakan interpretasi keenam seniman terhadap penelitian sejarah itu. Manajemen Rumah Seni Cemeti, pelaksana produksi pameran "Masa Lalu-Masa Lupa", memilih keenam seniman itu karena modus kesenian mereka berbasis riset.

Pameran "Masa Lalu Masa Lupa" sebelumnya dipresentasikan di Artoteek Den Haag, The Hague, NIOD, Amsterdam, Rumah Seni Cemeti Yogyakarta, dan Erasmushuis Jakarta.

Setelah dari RSY Semarang, karya-karya tersebut akan dipamerkan di BizArt Shanghai, China, November 2007, serta Singapore Fringe Festival 2008. (H6,gbs-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA