logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 15 September 2007 BUDAYA
Line

Terapi Seni Kaligrafi

  • Oleh Rukardi

APA yang mendasari seniman berkarya? Jika pertanyaan itu dilontarkan, seribu jawaban mengemuka. Mulai dari medium ekspresi estetis, penyeranta gagasan ideologis, sampai motif yang sangat mendasar: ekonomi.

Namun Maman Suparman tampaknya punya jawaban tersendiri. Bagi seniman asal Ungaran itu, berkarya merupakan sarana terapi. Ya, terapi penyembuhan atas sakit yang dia alami.

Medio 1990-an, penyakit menyambangi Maman bertubi-tubi. Flek, paru-paru basah, katarak, dan diabetes menimbulkan sakit tak terperi. Dalam ketidakberdayaan, dia mencari jalan kesembuhan.

Namun di tengah keputusasaan yang akut, dia merasa mendapat bimbingan. Tiba-tiba saja dia melukis, menuangkan ayat-ayat Tuhan ke atas kanvas. "Itu menakjubkan. Sebelumnya, melukis hampir tak pernah saya lakukan. Semua seperti tiba-tiba. Seperti ada tangan membimbing saya," ujarnya.

Sebelumnya Maman lebih banyak berekspresi di panggung teater. Dia pernah berproses di Teater Putih dan membentuk Teater Rangga. Kalaupun melukis, itu dia lakukan sebagai bagian dari seni pertunjukan. Tiga karyanya adalah "Revolusi Bentuk", "Merahnya-Merah/Seni Rupa Duga-duga", dan "Ekspresi Kaligrafi". Satu di antara lukisan itu dia bakar dalam sebuah performance art.

Pilihan kaligrafi, kata Maman, bisa jadi muncul dari aktivitas di bidang tarekat. Sejak awal 1990-an dia mengaji di Pondok Arrosuli Ungaran di bawah bimbingan Syekh Ahmad Syakir.

Bertahun-tahun melukis, ratusan karya lahir dari tangannya. Kini, sebagian dia pamerkan di Komunitas Sendangmulyo, Jalan Bougenvile Raya II/26 Perumnas Sendangmulyo, Semarang, 10-15 September. Pameran bertajuk "Ekspresi Spiritual, Berbagi Kesembuhan" itu terselenggara atas kerja sama Jamaah Pengajian Nurul 'Aadah (Cahaya Budaya) dan Rumah Produksi Qolbi.

Sendiri

Secara teknis karya Maman baru sampai separo jalan. Goresan-goresan cat minyak di atas kanvas itu belum terlampau matang. Tentu saja, kekuatan karya Maman bukan pada ranah itu, tetapi proses dan pemaknaan di balik apa yang maujud.

"Nun", misalnya, secara visual hanya memapar huruf "nun" merah berlatar belakang hijau kebiru-biruan. Namun, bagi dia, karya itu punya makna mendalam. "Nun" dia buat pada saat merasa sendiri dalam kesakitan.

Huruf hijaiyah itu melambangkan Nuh yang ditinggal umat, justru pada menyampaikan pesan Tuhan. Bersama "Adakah yang Keliru dengan Kelewar", karya itu amat dia sayang. "Ada seseorang tertarik 'Nun' dan ingin membelinya, tetapi tidak saya berikan."

Dalam berkarya, Maman tak punya pretensi ekonomi. Dia melukis semata-mata sebagai medium terapi. Dia bahkan tak peduli apakah karya itu bermanfaat bagi orang lain atau tidak.

Selain "Nun" dan "Adakah yang Keliru dengan Kelewar", masih ada puluhan lukisan kaligrafi lain dipamerkan. Karya Maman dipajang di luar ruangan. Di dinding pagar, di saung, atau di tepi jalan. "Alfatihah", karya sepanjang 35 meter yang dia buat saat pembukaan, dicantolkan begitu saja di pepohonan median jalan.

Masih dalam rangkaian pameran, malam ini, digelar bedah karya Maman. Pengulas Eko Tunas, Markhaban, dan Gunawan Budi Susanto.(53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA