| Sabtu, 08 September 2007 | SALA |
Antisipasi Masuknya Daging GlonggonganPasar Kartasura Diawasi KetatSUKOHARJO - Mengantisipasi beredarnya daging glonggongan menjelang puasa dan lebaran, Dinas Pertanian (Dispertan) Sukoharjo membentuk tim khusus untuk mengawasi pemotongan hewan di rumah pemotongan hewan (RPH) dan tempat pemotongan hewan (TPH). Perdagangan daging di pasar tradisional dan supermarket juga dipantau, agar konsumen tidak tertipu membeli daging glonggongan. Kepala Dispertan Giyarti menjelaskan, pasar tradisional yang diawasi khusus adalah pasar yang berbatasan dengan daerah sekitar Sukoharjo, terutama Pasar Kartasura. ''Ini untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya daging sapi glonggongan dari Boyolali. Pasar Nguter dan Pasar Gatak juga kami awasi,'' katanya, Jumat (7/9) kemarin. Ciri-ciri daging hewan yang di-glonggong air sebelum disembelih, katanya, sebetulnya mudah diketahui hanya dengan melihat bentuk fisiknya. Warna dagingnya pucat, harganya murah, dan lebih cepat busuk. Pedagang biasanya tidak menggantung daging glonggongan, melainkan meletakkannya di atas meja. ''Kadar airnya tinggi. Kalau dimasak, penyusutannya banyak sekali,'' kata dia. Bawa Penyakit Daging glonggongan berpotensi membawa penyakit. Terlebih, jika sapi yang akan dipotong di-glonggong dulu dengan air kotor. ''Bakteri yang ada dalam air akan mengontaminasi daging,'' tegasnya. Dispertan juga akan mengawasi pemotongan daging di luar RPH dan TPH. ''Kan ada pedagang daging yang menjagal hewan di tukang jagal non-RPH dan non-TPH. Pokoknya, mulai dari sapi dibeli sampai proses penyembelihan, akan kami awasi,'' tambahnya. Mengenai persediaan daging - sapi ataupun unggas - selama puasa dan menjelang lebaran nanti, dia mengatakan stok diperkirakan cukup. Berdasarkan data 2006, Sukoharjo surplus 2,5 ton daging selama puasa dan menjelang Idul Fitri. ''Tahun ini, kami harapkan angka surplus naik 7-10 persen,'' imbuhnya. (H44-58) |