| Sabtu, 08 September 2007 | KEDU & DIY |
MALIOBORORaker JPW di UAJYYOGYAKARTA - Masyarakat akan sangat menaruh harapan atas keberadaan Jogja Police Watch (JPW). Sebab, kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY) Dr Hestu Ciptohandoto SH MHum, masyarakat banyak merasakan penyimpangan pelaksanaan tugas kepolisian. Tapi sepertinya aparat kepolisian menjadi lembaga yang tak tersentuh (untouchable) hukum. Karena itu, tuturnya Kamis lalu (6/9) ketika membuka Raker JPW di kampusnya, dia mengharapkan institusi baru itu bisa menjembatani antara masyarakat dan lembaga kepolisian. JPW yang terdiri atas unsur masyarakat dengan berbagai latar belakang, dideklarasikan 30 Agustus lalu. Menurut ketuanya Kusno S Utomo, JPW menempatkan diri sebagai mitra kritis tapi bukan berarti konfrontatif terhadap Polri. (P58-70) Penderes Rawan Kecelakaan KULONPROGO - Ratusan penderes nira dan kelapa di wilayah Kulonprogo, terutama di Kokap, rawan kecelakaan terjatuh dari atas pohon. Karena itu, aparat setempat meminta para penderes menggunakan sabuk pengaman ketika bekerja. ''Sampai dengan bulan ini saja sudah terjadi 25 kasus kecelakaan terjatuh dari atas pohon, tiga meninggal dan lainnya luka-luka dari yang ringan sampai patah tulang. Setahun lalu malah 10 meninggal dari 40 kasus jatuh,'' papar Kasi Trantib Kecamatan Kokap Supriyono. Menurutnya, tingginya kecelakaan akibat kondisi setempat. Masyarakat tidak bisa mencari pekerjaan lain dan salah satu yang memungkinkan bagi mereka dalam mencari nafkah hanya menderes. Jumlahnya saat ini cukup banyak lebih dari 700 orang. Kapolsek Kokap AKP Mario mengatakan, sabuk pengaman memang diperlukan bagi penderes. Untuk membuat juga tidak sulit, yang paling sederhana tali plastik diikatkan di tubuh dan batang pohon. Ada pengait dari besi sehingga dapat menahan tubuh kalau jatuh. (D19-70) |