logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Agustus 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Pengaruh Sinetron bagi Anak

Sudah banyak keluhan orang tua tentang pengaruh buruk tayangan sinetron pada anak-anak. Tapi sampai saat ini tidak ada tindakan nyata dari pemerintah untuk campur tangan menertibkan rumah produksi dan stasiun teve yang menayangkan sinetron berpengaruh buruk. Contoh nyata buruknya pengaruh sinetron dialami anak saya (7 tahun) yang duduk di kelas tiga SD.

Sejak kelas dua alat tulisnya sering hilang dan pernah botol minum beserta tasnya juga hilang. Ternyata tas berikut botol minumannya dibuang ke tempat sampah, lalu di atasnya di buang juga plastik berisi sisa es hingga semuanya kotor. Setelah diselidiki, ternyata hal itu dilakukan salah satu teman sekelasnya yang iseng meniru adegan kenakalan anak di sinetron.

Bahkan terakhir ini enam buku tulis anak saya berisi catatan, PR dan latihan juga hilang. Akibatnya dia ditegur guru karena dianggap lupa membawa buku. Jadi keisengan itu memang disengaja agar anak saya dimarahi dan dihukum gurunya karena dianggap ndableg (bandel). Sekali lagi caranya meniru sinetron.

Saat istirahat anak saya diajak bermain ke luar kelas oleh temannya sedang teman lain masuk ke kelas mengambil bukunya sekaligus menyembunyikan. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala betapa dahsyatnya dampak tayangan sinetron pada anak.

Saya ingat saat masih SD, senakal-nakalnya atau seisengnya teman, tidak ada yang menjurus ke arah culas dan dengki. Jadi murni karena iseng dan kenakalan anak yang wajar. Guru dihormati murid dan murid juga tertib dalam berseragam. Tidak seperti sekarang ini, seragam dipermak agar mini dan ketat.

Murid suka membolos, melawan guru dan melakukan berbagai kejahilan yang menjurus pada tindakan kriminal untuk mencelakakan orang yang tidak disukai. Mengintimidasi orang lain serta masih banyak hal yang mengerikan lainnya, tidak pandang usia, status sosial, suku atau agama.

Ternyata menjadi orang tua dari anak generasi sekarang lebih sulit dibanding mendidik anak pada zaman dulu. Sekarang begitu banyak pengaruh buruk di lingkungan sekitar. Semoga tulisan ini, orang tua bisa mengusahakan lebih dekat dan memperhatikan lingkungan pergaulan anaknya.

Yulia Dwimulyani

Jl Kelud Utara II//2, Semarang

Memberantas

(Mental) Pengemis

Pemkot Semarang beberapa kali mengoperasi dan merazia gelandangan dan pengemis (gepeng) termasuk pengamen jalanan yang biasa mangkal di berbagai sudut jalan. Dampaknya memang cukup terasa, di mana biasanya para pengendara mobil "ditodong" dengan wajah memelas seorang anak kecil yang memohon belas kasihannya.

Atau konsentrasi kita digelitik dengan cuap-cuap dan bunyi kicrikan yang segera berhenti bila pemilik suara disodori uang receh. Akibat operasi ini dalam jeda beberapa waktu pemandangan nampak hilang. Tapi tidak berapa lama kemudian rutinitas yang dilakukan sebagian kecil penduduk tersebut bergulir lagi.

Kalau masalah pengemis ini tidak tuntas, jangan Kola Semarang menjadi salah satu pesona orang Asia. Kalau mau memberantas pengemis jelas tidak bisa sekali jalan. Sekali atau dua kali pengarahan sepertinya tidak mampu mematahkan "doktrin" mengemis dalam diri para peminta-minta tersebut.

Mau memberantas dan menumpas secara harfiah jelas tidak berperikemanusiaan dan bisa-bisa dituntut Komnas HAM. Karena itu pemkot dan pihak terkait harus telaten dan sabar serta jangan berharap dicapai secara instan. Jika mau menanam anggur jangan harap bisa berhasil kalau caranya sama dengan menanam singkong.

Alasan yang dikemukakan pengemis biasanya klise, faktor ekonomi. Hal yang sama biasanya juga dipakai oleh para WTS. Ada juga yang menambahkan tidak punya keterampilan atau modal usaha. Kalau memang itu alasannya, maka ada murid Aa Gym lebih parah nasibnya. Selain tidak punya modal dan keterampilan, dia juga tidak sempurna fisiknya.

Lahir sebagai individu yang punya kelainan syaraf membuat dia tidak bisa bergerak dan berbicara seperti orang normal. Tapi lewat bimbingan Aa Gym cs, sekarang dia mampu menjalankan usahanya sendiri bahkan konon omsetnya sudah mencapai jutaan rupiah dan bisa umroh.

Dari pengalaman tersebut dapat disimpulkan, pemberian modal dan keterampilan tidaklah cukup tanpa ada bimbingan mental yang memadai. Pola pikir para gepeng juga harus diubah agar jangan merasa lebih suka mengemis atau melacur daripada bekerja keras. Hal ini tidak mudah bahkan sangat sulit dan karena itu perlu bimbingan dari yang ahli dan berpengalaman.

Cara konkret yang bisa dilakukan, dengan melatih motivasi mereka untuk menghancurkan mental pemalas dan peminta-minta, lalu merombak menjadi semangat kerja keras dan wirausaha. Memang kedengarannya aneh dan wagu, gepeng dan WTS kok pakai ditraining segala.

Tapi kalau berharap mereka tidak jadi residivis (kambuhan) maka jiwanya dulu yang harus dibangun. Modal usaha bakalan habis dan bekal keterampilan menguap kalau tidak disertai mental usaha yang gigih dan kerja keras. Latihan ini tentu juga ditujukan bagi para orang tua yang menyuruh anaknya jadi pengemis agar dia bisa lebih bertanggung jawab.

Kalau ide ini terlaksana diharapkan terjadi reaksi berantai, bekas gepeng yang sukses akan tergerak mengajak teman tersebut. Konstitusi kita menyatakan fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara.

Hal tersebut tentu bukan berarti pemerintah harus selalu menyediakan makan dan tempat tinggal gratis. Tapi cara lebih efektif dan tahan lama adalah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang tepat buat mendukung kesejahteraan dan kemakmuran semua rakyatnya.

M Fahri Firdaus

Mhs FK Unissula, Semarang

***

Soal Telkom Flexi

Saya pelanggan Telom Flexi mengucapkan terima kasih kepada Telkom yang merespon keluhan saya di Surat Pembaca 4 Agustus 2007. Sekarang Flexi saya sudah bisa digunakan dengan baik.

Zulfa Krislia Asri

Bulustalan II/279, Semarang

***

Sepenggal Sejarah

Menanggapi Surat Pembaca berjudul ''Siapa yang berhak menolong rakyat'' 10 Agustus 2007, disayangkan bahwa nama tokoh yang dikemukakan itu terlibat dalam pertemuan di Sungai Dareh, Sumatera Barat. Pada pertemuan awal tahun 1958 itu hadir Letkol Achmad Husein, Letkol Sumual, Kol Simbolon, Kol Dachlan Djambek, Kol Zulkifli Lubis, M Natsir, Sjarif Usman, Burhanuddin Harahap dan Sjafrudin Prawiranegara.

Rapat raksasa 10 Februari 1958 di Padang dimanfaatkan oleh Achmad Husein untuk memberi ultimatum pada pemerintah agar mencabut mandat kabinet Djuanda, menugaskan kepada Drs Moh Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk Zaken Kabinet dan presiden kembali kepada kedudukannya sebagai presiden konstitusional.

Ultimatum itu ditolak pemerintah dengan memecat tidak hormat Achmad Husein, Zulkifli Lubis, Dachlan Djambek dan Simbolon. Pada 15 Februari 1958 Achmad Husein memproklamirkan "Peri-peri" (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) atau PRRI yang didukung Komandan Daerah Militer Sulut dan Tengah. Gerakan di Sulawesi itu terkenal dengan nama Permesta (Piagam Perjuangan Semesta).

Dengan demikian PRRI/Permesta melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat yang akhirnya dapat ditumpas. Salah satu korban yang jatuh di pihak pemerintah adalah penembak bren andal dari RPKAD yaitu Kopral Sihombing. Melalui Keppres No 200 dan 201 Tahun 1960, pada 17 Agustus 1960 pemerintah membubarkan Masjumi dan PSI, berdasarkan Penetapan Presiden No 7 Tahun 1969 tanggal 31 Desember 1959.

Pembubaran partai itu sebagai akibat sebagian pemimpinnya ikut dalam pemberontakan PRRI. Menurut saya, yang berhak menolong rakyat adalah pemimpin yang merakyat, mengerti penderitaan rakyat dan melaksanakan amanat penderitaan rakyat. Benar-benar sebagai pamong, bukan sebagai pangreh.

M Bachrun BSc

Jl Kalipucung 7 RT 6/RW 9, Sukorejo

***

Mari Berdoa untuk

Kemuliaan Bangsa

Setiap ada event berskala internasional di mana Indonesia ambil bagian, apakah itu bulutangkis, sepak bola, tinju dan lainnya, pasti akan mendapat dukungan masyarakat. Semua orang mendoakan kita bisa menang walau akhirnya ada yang menang tapi bisa juga kalah.

Doa biasanya terkabul bila dilakukan dengan iman dan moral yang bersih. Tapi bila dilaksanakan dengan pikiran kotor karena perbuatan tidak baik, bertentangan dengan moral/iman seperti korupsi, menipu, selingkuh, akal-akalan dan lainnya, kemungkinan tidak dikabulkan oleh Tuhan YME. Tuhan tidak akan mengabulkan doa para koruptor, penipu, illegal loging dan sebagainya.

Ayo rakyat Indonesia, sadarlah, bertobatlah danbuang jauh-jauh pikiran ngeres, mencuri, merampok, korupsi, narkoba dan sebagainya. Buang itu semua. Kembalilah+ ke fitrah kebenaran, keadilan, kejujuran, kebijaksanaan, serta rendah diri, jangan sombong, jangan angkuh, jangan rakus dan aja dumeh..

Mari kita syukuri pelimpahan anugerah dari Tuhan YME yaitu negara yang kekayaannya melimpah ruah tidak ada tandingannya di dunia. Mari mulai revolusi mental, revolusi moral dan spiritual, revolusi pembaharuaan sebagai langkah terakhir. Sebab kalau tidak mau kebacut-bacut, penderitaan rakyat kecil akan tetap benjut.

Sedang para pemimpin tetap gendut. Mari berinstospksi dan mawas diri, gampang kok.

Bambang Poernomo

Jl Raya 36 Kranggan, Temanggung

***

Bantuan Nelayan

Negara kita adalah negara maritim, namun ironisnva sebagian besar nelayan berada dalam kondisi kemiskinan. Banyak faktor menjadi penyebab mulai SDM yang rendah, kurang teknologi, bantuan modal yang sulit, kurang penyuluhan, kurang kuatnya kelembagaan antara nelayan sampai infrastruktur yang tidak mendukung.

Saat ini gelombang tinggi dan angin kencang memaksa pemilik untuk menjual kapal ikannya demi mengurangi kerugian karena musim paceklik dan lama tidak beroperasi sehingga kapal jadi rusak. Seperti yang terjadi di Pekalongan, ada penurunan jumlah kapal dari 500 buah menjadi 200 buah (SM 4 Agustus 2007). Lalu bagaimana dengan nelayan jika tidak ada kapal ikan.

Melihat kondisi ini pemerintah bisa membantu modal pinjaman dengan bunga lunak untuk membuka usaha kecil bagi keluarga nelayan. Sampai saat ini sangat sulit mendapatkan modal pinjaman dari perbangkan karena syaratnya cukup berat bagi nelayan. Karena itu pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada nelayan yang salah satunva berupa kemudahan mendapat modal.

Tentunya hal ini harus dikoordinasikan dan dimonitor secara baik misalnya dari Dinas Koperasi dan UKM. Selain itu nelayan perlu pendampingan dan pembinaan dari dinas terkait dalam mengembangkan usahanya.. Banyak usaha yang bisa dikembangkan dari berbagai kerajinan tangan produk makanan kecil, warung atau usaha budidava perikanan.

Dinas terkait bisa memberikan penyuluhan tentang usaha yang murah. mudah dan menguntungkan. Bukan pekerjaan mudah memang, mengingat pola pikir nelayan yang hanya mau mencari ikan di laut. Tapi dengan pendekatan yang terarah serta kontinyu, saya yakin akan berhasil. Tentu sasarannya tidak hanya nelayan tapi istri dan keluarganya.

Mulailah dari lingkup kecil (RT) misalnya. Setelah itu secara selektif memberi modal atau menjadi penjamin untuk memperoleh pinjaman ringan. Perlu pengawasan dan pembinaan agar usaha tersebut dapat berkelanjutan. Selain meningkatkan kesejahteraan juga menumbuhkan semangat wirausaha pada keluarga nelayan.

Pemerintah juga bisa membantu memberi kemudahan untuk kelompok nelayan kecil agar memperoleh kapal ikan atau peralatan penunjang lainnya sehingga produktivitas perikanan tidak menurun. Usaha pemberdayaan masyarakat pesisir harus tetap dilanjutkan dan dikembangkan lagi.

Yang saya sampaikan ini hanya satu dari sekian banyak langkah kongkret yang diambil pemerintah untuk membantu nelayan. Memang tidak itu saja, masih banyak yang harus dibenahi dalam usaha meningkatkan taraf hidup nelayan, tapi langkah cepat harus segera diambil.

Saya berharap keberpihakan kepada nelayan dan golongan ekonomi lemah akan menjadi landasan utama dalam setiap kebijakan pemerintah. Dengan begitu harapan agar nelayan dapat hidup lebih sejahtera bukan impian semata. Marilah mulai dari sekarang.

Linayati Spi

Bancar Asri 9 Lamper Tng, Semarang

***

Tentang Foto Berjilbab

Sehubungan tulisan saya berjudul "SKCK Berjilbab" di Surat Pembaca 21 Agustus 2007 yang menyangkut ketidakbolehan menggunakan foto berjilbab dalam pembuatan SKCK, saya telah mendapatkan penyelesaian secara baik. Kini saya bisa membuat SKCK dengan foto berjilbab tanpa ada hambatan apa pun dan itu berlaku untuk semuanya. Saya berterima kasih kepada Polres Blora atas perhatian dan juga penyelesaian yang baik ini.

Kiswati

Jasem RT 1/RW 4 Jepangrejo, Blora

***

Satlantas Salatiga

Pada tanggal 21 Juli 2007 pukul 16.00 WIB Satlantas Salatiga mengadakan razia kendaraan bermotor untuk mengantisipasi dan mempersempit ruang gerak pelaku curanmor. Tetapi alangkah kagetnya ternyata saya juga terkena razia karena melanggar Pasal 54/YO/29170/44 (ban kecil).

Yang saya tanyakan, apakah pasal itu mengatur pelanggaran tentang ban kecil. Bila melanggar pasal tersebut kendaraan harus dibawa petugas (tilang) meski punya STNK/SIM. Sebagai orang awam, yang saya tahu adalah bila punya SIM/STNK kendaraan tidak dibawa petugas melainkan surat-suratnya yang ditilang.

Semoga itu bukan kinerja dan prosedur Polri menangkap pelanggaran. Padahal Polri adalah panutan dan pengayoman, bukan momok bagi masyarakat. Bravo Polri dan Satlantas Salatiga.

Hari Kristianto

Jl Puspanjolo Tengah I/3, Semarang

***

Dari Selular Shop

Menanggapi komplain 22 Agustus 2007 dari Bapak Sumito AMd, saya selaku wakil manajemen Selular Shop menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan pelayanan kami. Kami juga terima kasih atas kritik dan sarannya, sehingga dapat lebih meningkatkan kualitas kenyamanan dan pelayanan kepada para pelanggan.

Ardianto Rahardjo SE (0816666233)

Sales Manager

***

Acara 17-an

Menjelang peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI lalu, banyak kampung mengadakan sarasehan, lomba, pertunjukan seni dan lainnya. Namun kebanyakan acaranya selalu ditentukan panitia, jadi ada kesan monoton. Untuk mendatang semua warga dilibatkan. Caranya, umumkan kepada warga yang punya bakat dan kemauan untuk menyumbang acara.

Dengan demikian potebsi yang selama ini terpendam bisa digali. Bagaimana kalau yang ingin menyumbang acara terlalu banyak, pilih saja yang paling unik misalnya tembang perjuangan dalam bahasa Jawa (bahannya ada), pantomim dan lainnya. Saya gambarkan kondisi tanah air tercinta sbb:

Di tanah nan merdeka

Di bawah kibaran sang Saka

Masih ada rakyat yang celaka

(makan nasi aking)

Masih ada yang berduka

Masih ada yang terluka

(kasus Alastlogo, Pasuruan)

Walau banyak juga yang

Pandai mencari muka

Begitulah gambaran negeri

Bhinneka Tunggal Ika

RM Ismunandar C

Salatiga Permai VI/140-141, Salatiga


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA