logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Agustus 2007 SEMARANG
Line

Harapan Terakhir di Sendang Gayam

  • Oleh Rukardi

KECIL tapi menjadi gantungan banyak orang, itulah Sendang Gayam. Di saat musim kemarau seperti sekarang, sumber air yang berlokasi di tengah tegalan itu menyuplai air bersih untuk ribuan warga di Kampung Deliksari dan Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang.

Warga di dua kampung itu tak bisa membayangkan, jika tidak ada Sendang Gayam. Sebagai mata air alami, ia satu-satunya yang bisa diharapkan ketika tanah di daerah itu kering kerontang.

Perlu diketahui, Kampung Deliksari dan Kalialang Baru merupakan daerah rawan kekeringan. Tanahnya berlapis padas dan lempung minim kandungan air. Sumur pantek yang dibuat warga hanya berair pada saat musim penghujan.

Sumur artesis ? Tak pula dapat menghasilkan air. Pernah pada 1993 atas bantuan Yayasan Soegijapranata (YSS) warga membuatnya. Meski sudah dibor sedalam 100 meter, air tetap tidak keluar. Upaya pengajuan diri sebagai pelanggan air kepada PDAM pun tidak beroleh persetujuan. Dalihnya, pasokan air perusahaan milik pemerintah itu amat terbatas. Dalam keputusasaan itu, warga pendatang yang menghuni kampung Deliksari dan Kalialang Baru melirik Sendang Gayam.

Pada tahun 1995, sendang dibuat menjadi semacam kolam penampungan dengan dilengkapi bangunan peneduh. Airnya dialirkan menggunakan pipa ke permukiman. Tandon-tandon dibuat untuk menampung air, sebelum didistribusikan kepada warga. Sampai kini, Sendang Gayam masih menjadi gantungan warga untuk mencukupi kebutuhan air bersih mereka.

Pada musim kemarau seperti sekarang, debit air sendang mengecil. Kendati demikian, belum pernah sekalipun benar-benar mati. Penurunan debit membuat aliran air ke permukiman tersendat. Maka warga langsung mendatangi lokasi sendang.

Jaraknya yang relatif jauh dari permukiman, yakni sekitar 1 km, tak menyurutkan warga. Mereka yang punya sepeda motor menggunakannya sebagai sarana pengangkut air. Sedangkan yang tidak punya motor harus rela berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang kanan-kirinya berupa tanah tegalan.

Uniknya, meski pengambilan air tak kenal wayah, dari pagi sampai malam, air sendang tidak pernah habis sama sekali. ''Surut sebentar, tak lama kemudian kolam sendang kembali terisi. Ini seperti keajaiban bagi kami,'' kata Willy (54) warga Kampung Deliksari.

Pohon Gayam

Nama Sendang Gayam diberikan warga karena keberadaan pohon gayam didekatnya. Sebelum ada Kampung Deliksari dan Kalialang Baru, air sendang tersebut dimanfaatkan untuk mengairi tanaman di tegalan.

Mengutip cerita warga asli Kalialang, seorang warga Kampung Kalialang Baru menuturkan, zaman dahulu ada bangunan peristirahatan sederhana di dekat Sendang Gayam. Selain untuk melepas lelah para peladang, bangunan itu juga digunakan untuk shalat. Namun setelah Deliksari dan Kalialang Baru menjadi permukiman, warga kedua kampung itu menggunakan air Sendang Gayam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. (56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA