| Rabu, 29 Agustus 2007 | SEMARANG |
Pedagang Dugderan Banjiri Kota LamaSEMARANG - Tradisi dugderan dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan belum dibuka, namun seperti pada tahun-tahun sebelumnya para pedagang dugderan yang datang dari berbagai kota di Jawa mulai menempati kawasan Kota Lama dan Polder Tawang. Para pedagang itu menggelar barang-barang mereka antara lain di trotoar bundaran polder, depan PT KAI, Jl Cendrawasih, dan sejumlah gang di kawasan Kota Lama yang dipersiapkan untuk mereka. Rama, salah seorang pedagang dari Bojonegoro mengaku mulai membuka dasaran sejak Minggu (26/8). Bersama dengan istrinya, dia berjualan celengan yang terbuat dari tanah dengan berbagai ukuran mulai dari yang kecil hingga yang tingginya setengah meter. Harga Tetap Celengan yang dijual antara lain berbentuk ayam, sapi, macan, banteng, kodok, kuda, dan semar. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 10.000 - Rp 40.000. "Harganya masih sama dengan tahun lalu. Saya tidak berani menaikkan harga, takut tidak laku," katanya, Selasa (28/8). Menurut dia, berdasar pengalaman tahun lalu, kini dia mengurangi jumlah dagangan yang dibawa. Tahun lalu, Rama membawa 640 buah celengan. Sedangkan tahun ini hanya 490 atau dikurangi 150 biji. "Hal itu saya lakukan karena harga belinya mengalami kenaikan," kata dia, yang mengaku telah 13 tahun meramaikan tradisi dugderan itu. Nur, pedagang gerabah dari Jepara mulai mendatangi Polder Tawang, Senin (27/8). Dagangan yang ditawarkannya antara lain kendi, kompor, mangkok, cowek, dan ulek-ulek. Selain perlengkapan dapur itu, dia bersama istrinya juga menjual celengan yang berbentuk antara lain, kodok, ikan, labu, sapi, gajah, dan macan. Kepala BPK2L Surachman SIP mengatakan, untuk mengamankan kawasan city walk agar tidak digunakan sebagai dasaran, pihaknya bersama Polsek Semarang Utara, Satpol PP, Koramil, Hansip, dan kelurahan dan kecamatan membentuk pamswakarsa yang bertugas melakukan pengamanan. (H36-18) |