| Rabu, 29 Agustus 2007 | SEMARANG |
Agar Banjirkanal Tak Cuma Kanal Pengendali Banjir
SINAR masih terasa hangat, ketika dua perahu karet bermesin mulai bergerak, menyusuri Sungai Banjirkanal Barat. Tepat pukul 7:30, perahu itu diberangkatkan ''pangkalan'', persis di depan garasi bus Sindoro Satriamas, Jl Madukoro, Semarang Indah. Lantas, dengan kecepatan sekitar 10 kilometer per jam, perahu karet itu menyusur ke arah hulu, menuju ke Bendungan Banjirkanal Barat. Sepanjang perjalanan, perahu lebih banyak bergerak di tepi sungai karena bagian tengah sungai tidak terlalu dalam. Pada bagian itu membayang pulau-pulau sungai, sebagai akibat sedimentasi. Sabtu pagi lalu, Kesbanglinmas bersama Brimob Simongan dan para wartawan Pemkot Semarang melakukan susur Sungai Banjirkanal Barat. Turut serta dalam kegiatan itu, Wakil Wali Kota Mahfudz Ali, Kepala Kesbanglinmas Sujitno, serta Kepala Kantor Infokom Bambang Kono. Akhir bulan lalu, Mahfudz yang juga ketua Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Kota Semarang bersama wartawan juga melaksanakan kegiatan serupa di Kali Semarang. Dibandingkan Kali Semarang, Sungai Banjirkanal Barat memiliki sejumlah keunggulan. Kanal yang dibangun pemerintah kolonial Belanda, hampir bersamaan dengan Banjirkanal Timur, memiliki luasan penampang yang memadai. Lebarnya mencapai 30-an meter dengan kedalaman yang cukup untuk diarungi perahu. ''Air di sini juga relatif lebih jernih dan tidak berbau, jika dibandingkan Kali Semarang,'' kata Mahfudz. Ya, sepanjang penyusuran itu, hampir tak terdengar keluhan para peserta tentang kekeruhan air atau bau dari air sungai itu. Para peserta bahkan terlihat menikmati perjalanan yang menempuh waktu satu jam lebih ini. Dari Bendungan Banjirkanal, perahu karet digerakkan menuju muara di kawasan Pantai Marina. Penyusuran dilakukan dengan kecepatan sedang sehingga para peserta bisa menikmati perjalanan dan mengamati kanal itu dengan lebih seksama. ''Sedimentasi, sampah, dan juga keberadaan bangunan yang tidak tertata di kanan-kiri sungai merupakan persoalan yang harus diatasi untuk pengembangan Banjirkanal ke depan,'' kata Mahfudz. Pengendali Banjir Dalam catatan sejarah, Banjirkanal Barat (West Bandjirkanaal) mulai dibangun oleh pemerintah kolonial pada tahun 1901 atau 1904. Kanal yang juga menjadi batas sisi barat wilayah Gementee itu, dibangun dengan heren diensten atau kerja wajib. Pembangunan Banjirkanal Barat dan juga Banjirkanal Timur (Oost Bandjirkanaal), yang dibangun empat puluh tahun lebih dulu, dimaksudkan mengendalikan banjir. Kedua kanal itu difungsikan untuk mengalirkan luapan air dari kawasan Semarang bagian atas langsung menuju laut. Air yang berasal dari kaki Gunung Ungaran yang mengalir melalui beberapa sungai besar diteruskan ke Laut Jawa. Sesuai rancangan yang dibuat, fungsi kedua kanal semata-mata hanya itu, tidak lebih. ''Tapi, melihat potensinya, bukan tidak mungkin Banjirkanal Barat dikembangkan menjadi wisata air,'' ujar Mahfudz. Dikatakannya, Pemkot akan melakukan pembahasan bersama Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng yang menangani kanal tersebut, untuk merealisasikan gagasan wisata air. ''Yang jelas, potensi Banjirkanal Barat untuk itu sangat besar. Sayang, kalau potensi itu tidak dimanfaatkan optimal.'' (56) |