| Selasa, 28 Agustus 2007 | PANTURA |
Ribuan Peziarah Hadiri Haul Habib AhmadHAUL (memperingati hari wafat-Red) Ke -81 Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas kali ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, haul dihadiri dua habib dari Madinah yakni Habib Umar bin Jaelani dan Habib Aljaelali. Bahkan hadir pula Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad. "Kami melakukan ritual ini, untuk melanjutkan kakek saya yang sudah biasa hadir pada haul Habib Ahmad," katanya. Keruan saja, Habib Bakir yang memiliki hajat segera meminta Gubernur Gorontalo maupun Habib Umar memberikan sambutannya di hadapan ribuang peziarah, termasuk Wali Kota HM Basyir Ahmad dan wakilnya H Abu Almafachir serta Kapolwil Kombes Drs H Mahanan Daulay. Sambutan Habid Umar dari Madinah itu menggunakan bahasa Arab. Kemudian diterjemahkan, namun tidak semuanya. Sedangkan Gubernur Gorontalo, Fadel menjelaskan, dia melakukan gerakan cinta rasul dengan menggelorakan bacaan shalawat di berbagai daerah di wilayahnya. Hasilnya, ternyata Allah memberikan pertolongan melalui hasil pertanian yang melimpah. Hasil itu antara lain jagung dan padi yang termasuk terbesar di seluruh wilayah Indonesia, sehingga dirinya mendapatkan penghargaan dari Presiden. "Kalau dulu produksi jagung hanya 5 ton per ha, kini meningkat menjadi 17 ton/ha. Ini merupakan lonjakan yang besar," katanya. Lahir Tahun 1836 Selain memberikan mauizah hasanah, acara haul juga diisi pembacaan dalailul khairat yang dipimpin KH Anin bin KH Thohir Abdul Fatah. Adapun riwayat hidup Habib Ahmad, lahir di Kota Hajren Yaman pada tahun 1255 H atau tahun 1836 Masehi. Sejak kecil oleh orang tuanya sudah dididik tentang keislaman. Setelah beranjak dewasa, Habib Ahmad menimba ilmu kepada beberapa ulama terkenal, di antaranya Asysyaih Habib Hasan bin Ali Al Kaf, Asysyaih Habib Abu Bakar bin Abdulah Al Atas, Asyasyaih Habib Idrus bin Umar Al Habsyi, Asysyaih Habib Abdulah bin Hasan Al Bahr, Asyaysyais Habib Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih. Kecintaan menuntut ilmu juga dilakukan dengan pergi ke Makkah sekaligus menunaikan ibadah haji dan ziarah ke Madinah. Di Makkah, dia menimba ilmu kepada Asyayaih Al Imam Assayid Ahmad Zaini Dahlan. Setelah memutuskan untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu yang telah dipelajarinya hingga di Kota Pekalongan (Trias Purwadi-17) |