logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Agustus 2007 OLAHRAGA
Line

Yon 400 Galang Manunggal dengan Rakyat lewat Taekwondo

SUDAH lebih dari 25 tahun taekwondo menjadi olahraga wajib bagi prajurit-prajurit Yon 400/Raider. Sekitar tahun 1982, cabang olahraga asal Korea itu dijadikan sebagai wahana untuk meningkatkan kebugaran.

"Saya sudah lupa siapa komandan batalyon pertama yang memeloporinya. Namun yang pasti, setiap komandan di 400/Raider atau dulu Banteng Raider selalu memperhatikan taekwondo," kata Ketua Pengcab TI Semarang Djoko Sisdamin kepada Suara Merdeka, kemarin.

Letkol Khairudin Fachri Siregar, Danyon 400/Raider saat in, bahkan terlibat dalam organisasi yakni sebagai pelindung Pengcab TI Semarang. Hal itu dirasa sangat membanggakan bagi Pengcab.

Namun selama waktu tersebut, taekwondo 400/Raider seolah hanya untuk kepentingan sendiri. Sebagai kegiatan itu memang tidak melibatkan masyarakat setempat. Bahwa kemudian, 400/Raider menggelar Kejurnas Taekwondo khusus militer dan mahasiswa, sepertinya menjadi langkah awal manunggalnya prajurit dengan masyarakat. Pada kejuaeraan yang digelar Maret 2007 lalu, prestasi taekwondoin Raider tidak mengecewakan. Saat itu atlet-atlet binaan Tony Temandja (Dan III) menempati runner up juara umum, di bawah Kopassus Kartasura, Sukoharjo.

Sebenarnya sebelum kejuaraan, Tony atas restu dari Danyon sudah membuka pelatihan bagi masyarakat dan anak-anak prajurit setiap Selasa dan Jumat pukul 16.00-17.30 WIB. Langkah itu merupakan wujud nyata dari manunggalnya 400/Raider dengan rakyat. Hanya saja, minat masyarakat setempat khususnya anak-anak untuk bergabung dengan taekwondo Raider belum juga meningkat.

"Saat ini belum banyak anak-anak yang bergabung. Bagi yang berminat, silakan datang langsung pada jam latihan," kata Tony, yang sudah melatih taekwondo di 400/Raider seja 1984, yang berarti sudah 23 tahun.

Seminggu Dua Kali

Jadwal latihan taekwondon prajurit 400/Raider adalah seminggu dua kali yakni Senin dan Jumat. Sedangkan khusus anak-anak yang juga terbuka untu umum adalah Selasa dan Jumat.

Sebagai pelatih yang sudah lama menangani para prajurit, Tony juga mengalami suka duka. Hal yang dirasa paling membuatnya sedih adalah ketika para prajurit dikirim ke daerah konflik. Saat itu, biasanya yang berlatih sedikit atau bahkan pernah tidak ada yang datang latihan.

"Mereka prajurit tempur, sehingga jika tugas memanggil maka kepentingan lain ditinggalkan. Itulah dukanya. Tetapi sebagian besar tetap saya merasakan pengalaman yang menyenangkan bersama prajurit," katanya.

Dalam melatih, Tony dibantu oleh dua asisten yakni Adi Tri (Dan II) dan Tris (Dan II). Tony berharap ke depan dojang yang dilatihnya makin berkembang. Artinya, anak-anak setempat bisa ikut berlatih sehingga dalam kejuaraan terbuka Raider bisa berpartisipasi.(Darjo Soyat-28)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA