logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Agustus 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Program Rehab Pascagempa

Satu tahun lebih bencana gempa bumi di Jateng/DIY berlalu, namun penanganannya saya rasakan begitu lambat. Saya yakin pemerintah serius menanggulangi bencana tersebut, dibuktikan dengan membuat program rehab/rekonstruksi pascabencana. Namun bantuan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak hati-hati dan tidak terorganisasi dikhawatirkan justru lebih memperburuk kondisi sosial dan ekonomi serta psikologi masyarakat. Yang terjadi di masyarakat, ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadi. Dari data yang saya dapat, disinyalir adanya penyimpangan pedoman teknis yang berhak menerima bantuan. Hal ini diindikasikan ada permainan antara pejabat desa dan fasrum (fasilitator rumah) akibat beratnya pekerjaan seorang fasilitator dan kesejahteraan yang kurang terpenuhi.

Contoh lain di Kecamatan Bayat Klaten, ada 8.179 rumah rusak berat dan sedang, tersebar di 18 desa. Namun fasrum atau faskel (fasilitator kelurahan) yang bekerja hanya 7 orang tiap kelompok. Biasanya 1 kelompok mendampingi 500 KK. Bagi saya perbandingan antara fasilitator dan warga yang didampingi sangatlah tidak relevan.

Bagaimana masyarakat bisa cepat pulih dari trauma gempa karena pemerintah memang tidak mau mempercepat program rehabilitasi dan rekonstruksi. Yang lebih mengherankan, di beberapa kecamatan disinyalir ada nama fasrum namun dia tidak bekerja di lapangan.

Nama itu hanya fiktif belaka di samping juga dari latabelakang pendidikannya yang tidak sesuai dengan syarat sebagai seorang fasilitator. Saya haya berharap pemerintah lebih teliti dalam pengawasan kepada pihak yang ingin memanfaatkan situasi ini dan semoga bantuan tahap ke-3 segera dicairkan.

Anang Arafik

Mutihan RT 7/RW 3 Gantiwarno, Klaten

Jawabab PR Courts

Menanggapi Surat Pembaca dari Ibu Etti Sudarwato tanggal 13 Agustus 2007, kamie telah mengunjungi dan menyelesaikan masalah tersebut secara tuntas kepada beliau.

I Gusti Ayu Adityarini

Customer Service Manager

***

Lupa Merawat

Jika ada tamu dari luar kota Semarang mungkin akan terjadi perdebatan seru menyangkut waktu. Sebab petunjuk waktu/jam di Kota Semarang satu dengan lainnya berbeda. Aneh. Salah satu contoh jam di taman kecil Jl Pandanaran. Kalau dilihat dari arah timur (Simpanglima) akan beda posisi dari arah utara (Pekunden), dari arah barat (Tugumuda) dan dari arah selatan (Randusari/Bergota).

Keempat jam yang terpampang dalam satu tiang tersebut menunjukkan waktu yang berbeda. Aneh tapi nyata. Hal yang remeh temeh itulah cermin kebiasaan kita. Mudah sekali membangun, tetapi susah sekali merawat. Gampang membuat anggaran pembangunan, tapi alpa dalam membuat anggaran perawatan.

Tidak ada koordinasi antarinstansi terkait, yang jika ditarik garis ke atas sebenarnya bermuara pada satu kepemimpinan, satu keputusan dan satu komando. Halte atau shelter bus kota dibuat di banyak tempat dengan biaya tidak sedikit. Tetapi masalah perawatannya bukan urusannya lagi. Itu urusan dinas yang lain.

Zona Selamat Sekolah juga program yang bagus, manusiawi dan pasti menghabiskan biaya tidak sedikit. Perkara sosialiasi, penggunaannya bermanfaat bagi masyarakat atau tidak, kelanjutan serta evaluasi program tidak pernah kedengaran. Konon hal itu menjadi urusan dinas yang lain juga.

Masih banyak hal-hal yang kasat mata terlihat, betapa compang-campingnya koordinasi serta program dalam perawatan pascapembangunan. Itulah budaya yang saat ini berkembang. Tetapi, akankah hal ini akan dibiarkan terus-menerus?

Kalau begitu, benar sekali kata ibu saya bahwa yasa iku luwih gampang tinimbang ngreksa. Memiliki itu lebih mudah dibandingkan merawatnya. Mudah-mudahan hal ini menjadi renungan bersama.

S Handoko

Tugurejo A 9 RT 5/RW I Tugu, Semarang

***

Keturunan Arab

Merespon ungkapan Drg Toto Herlambang di Surat Pembaca beberapa waktu lalu berjudul "Wati Perempuanku", saya teringat cerita seorang wanita langganan pembeli koran bekas. Dia bercerita, tetangganya menjadi TKW di Arab Saudi selama beberapa tahun, sering mengirim uang ke rumah dan tanpa ada keluhan apa pun.

Tetapi sesudah pulang dia membawa anak laki-laki siap masuk sekolah TK. Anaknya bagus, ganteng, hidung mancung dan memiliki figur badan yang lebih tinggi dari teman seumurnya. Sampai saat ini, bekas majikannya (bangsa Arab) masih mengirim dana guna kehidupan dan sekolah anak tersebut. Ini sikap terpuji, walau dia kehilangan kehormatannya dan tidak memiliki surat kawin.

Kalau para TKW menerima perlakuan serupa, cepat atau lambat sebagian bangsa kita akan beralih wujud wajah, figur yang bagus seperti cita-cita bintang sinetron Ayu Azhari yang memiliki dua suami asing yaitu dari Finlandia dan Australia. Namun hal ini sebenarnya akibat kebijakan pemerintah Indonesia sebagai negara eksportir TKI/TKW.

Belanda dikenal sebagai eksportir tenaga intelek sehingga apa pun disiplin ilmunya selalu diterima negara mana pun di dunia untuk bekerja. Naluri bangsa Belanda adalah rajin dan disiplin. Berbeda negara, bangsa, sistem pemerintah, berbeda pula nasib. Bersemangatlah agar negara kita jangan hanya menjadi eksportir TKI/TKW, tetapi mampu mengekspor intelek yang canggih.

Moeljono HP

Jl Banteng Utara VII/1, Semarang

***

Semarang, Asemnya

Benar-benar Arang

Konon begitu menurut sahibul hikayat. Semarang merupakan paduan dua kata asem dan arang. Sebagai refleksi Ki Ageng Pandanaran melihat banyak pohon asem yang tumbuh secara acak pada jarak jarak tertentu (arang Jw) saat the founding father Semarang itu menapakkan kakinya yang pertama di kawasan ini (Semarang Sepanjang: Jalan Kenangan, hal 147 ). Jadilah asem sebagai pohon identitas Kota Semarang.

Sekarang pohon asem di Semarang benar-benar makin arang. Pohon berdaun kecil rimbun ini sekarang tinggal sedikit. Bahkan beberapa pohon di Jl Sultan Agung belum lama ini malah ditebang. Mungkin karena sudah tua dan akar-akarnya merusak paving jalur pedestrian. Pohon asem yang masih ada antara lain di Jl Setiabudi (Srondol), Jatingaleh, J1 Dr Wahidin, Dr Soetomo maupun di depan SMU 1.

Meski sebagian umurya sudah tua, semoga tidak menjadi alasan untuk jadi tebangan. Tua asal sehat dan kuat, tidak membahayakan lalulintas di bawahnya sebaiknya tetap dipertahankan. Manfaatnya masih banyak. Andaikata memang tidak bisa dipertahankan alangkah baiknya segera diadakan peremajaan. Tentu tidak hanya pohon asem, yang lain juga perlu diremajakan.

Syukur menambah program menanam seribu, sejuta atau bahkan berjuta pohon yang dulu pernah dicanangkan pemerintah. Siapa tidak senang menyusuri jalan-jalan kota yang rindang, teduh, menyegarkan. Ingat Semarang, ingat pohon asem meski arang tetapi tetap terbawa di Sepanjang Jalan Kenangan.

L Budi Rahmat

Jl Sultan Agung 133, Semarang

***

Tersedia Rp 650 Trilliun

untuk Melancong ke LN

Kapan kamu pulang nak ?. Ya, tergantung Om Obli yang mengajakku Bu. Ibu di rumah selalu dituntut adikmu yang minta pendidikan yang bertarif 20 %. Kakakmu si Antasena minta kapal selam, Antarejo minta tank, Gatotkaea minta pesawat tempur canggih. Sementara pembantu kita si Panakawan hidupnya masih saja melarat minta subsidi BBM jangan dihapus dan minta, pekerjaan buat anaknya.

Ibu sendiri utangnya banyak, sementara bapakmu tetap mementingkan diri sendiri. Dia tidak tahu politik kok ikut-ikutan berpolitik, ngawur. Saat ini rumah kita sering kemasukan kucing garong yang mau menguras kekayaan alam dan malahan tetangga sebelah mulai mengincar ladang-ladang tak terawat. Seandainya, kamu bisa pulang, akan dapat menolong banyak masalah dan tugas ibu menjadi enteng.

Dik Obli BLBI kapan pulangnya, tapi jawabnya: "Bude Pertiwi tenang-tenang saja di rumah, aku sedang mendidik para kader koruptor unggulan yang pada suatu saat nanti bertugas mengambil Rp 650 trilliun. Indonesia kan negara kaya raya yang harus dikeruk sebanyak-banyaknya. Selain itu resep rahasia dari Budhe sudah saya pegang dan dipatenkan oleh Lembaga Korupsi Internasional karena rumus korupsi dari I Indonesia hebat serta bermutu tinggi dan diakui dunia.

Oh ya Dik Obli, kemarin budhe kirim utusan untuk menjemput kamu, bagaimana, hasilnya ?. Budhe semua utusan sudah kuantar ke tempat-tempat surga di Singapore dan Hong Kong. Mereka benar-benar sangat senang dan puas. Saking senangnya, mereka sampal lupa tugas yang budhe berikan.

Mereka lupa daratan padahal kuberi sangu sekian miliar rupiah untuk pulang dengan membawa. pesan buat para koruptor Indonesia : "Teruskan berjuang dan berkorupsiria selana mafia peradilan masih hidup dan bersahabat dengan kita. Dengan begitu koruptor tetap jaya.

Ali Farkan

Pabelan RT 1/RW I Kab Semarang

***

Tiru Grameen Bank

Beberapa waktu lalu presiden beserta para petinggi negeri ini mendapat kuliah umum tokoh penerima Nobel, Mohammad Yunus dari Bangladesh, tentang mengentaskan kemiskinan dengan memberdayakan bank untuk kredit orang miskin dan perempuan. Selaku pendiri bank, Muhammad Yunus memberi kredit bagi warga miskin dan perempuan tanpa jaminan, tanpa surat perjanjian dan bahkan tanpa pemberlakuan sanksi.

Dasarnya cuma kepercayaan saja dan hebatnya telah ditiru oleh banyak negara untuk menanggulangi kemiskinan. Untuk satu ini, ada baiknya wakil rakyat anggota Dewan segera studi banding ke Bangladesh, mencatat dengan cermat dan detail untuk digodok di gedung DPR dan direkomendasikan ke pemerintah. Ada baiknya Kementerian BUMN juga studi banding serupa untuk nanti dipraktikkan.

Tujuannya untuk menghidupkan perekonomian pedesaan/rakyat kecil. Bank konvensional besar, pasti takut bisnis prorakyat sebab mereka propengusaha. Celakanya, malah banyak bank besar/bank konvensional tertipu triliunan rupiah. Untuk itu bank baru dengan manajemen baru harus pro-rakyat/pro-perempuan seperti yang dilaksanakan Grameen Bank dan ditiru oleh banyak negara lain.

H Erlangga Chandra

Bendan RT 8/RW02, Banyudono

***

Fordis Peduli

Di tengah era globalisasi, rasanya solidaritas dan kepedulian makin berkurang dan hal ini sungguh memprihatinkan. Bahkan saat melihat fakta yang terjadi di desa di mana mereka ketinggaian pendidikan, ekonomi dan kurangnya fasilitas kesehatan, maka tepat sekali pameo yang mengatakan: "Orang miskin dilarang sakit" mengingat mahalnya biaya pengobatan. Minggu 29 Juli 2007 Forum Dialog Umat Islam (Fordis) Kecamatan Tegowanu Grobogan bekerja sama dengan LPDU lateng mengadakan pengobatan dan khitanan massal di Desa Tegowanu Wetan. Kegiatan ini membantu warga miskin sehingga mereka bisa mendapatkan pengobatan cuma-cuma.

Bahkan yang lunpuh pun harus dibopong atau digendong agar sampai lokasi. Tidak kurang 500 orang mengikuti acara yang didukung RSI Sultan Agung, Akperissa dan FK Unissula ini. Pengobatan tidak hanya cara medis tetapi juga nonmedis yaitu bekam dan rukyah dari Grobogan. Panitia mengucapkan terima kasih kepada LPDU Sultan Agung dan Bupati Grabogan yang membantu warga.

H Rusnadi

***

Gaji PNS

Gaji PNS mengacu pada UU No 43 Tahun 1999, namun hanya Depkeu yang memikirkan kesejahteraan pegawainya sedang departemen lain jalan di tempat. Padahal para wakil parpol menerima upah minimal Rp 30 juta/bulan, itu pun baru di daerah. Adanya pilot project di Depkeu, disorot oleh anggota DPD yang minta kepada presiden menghentikan pembayaran kenaikan tunjangannya.

Pemerintah tahun anggaran 2007/2008 memang telah memutuskan untuk menaikkan gaji PNS 20 persen. Namun apakah juga nantinya menghentikan pembayaran kenaikan tunjangan di Depkeu tersebut. Apalagi menargetkan penerimaan negara dari sektor pajak sebesar Rp 400 triliun. Sah-sah saja apa yang diprogramkan oleh Depkeu. Tetapi jangan berlomba mengingat 70% - 80% dananya berasal dari pendapatan pajak.

Ada lagi wacana menaikkan gaji anggota polisi minimal Rp 8 juta/bulan umtuk pangkat terendah. Sebaliknya dari kalangan lain seperti petani, buruh, pegawai kecil mengeluh karena kenaikan harga sembako, tingginya biaya pendidikan baik dari tingkat terendah (TK) sampai perguruan tinggi. Yang terpenting, bagaimana memanfaatkan dana itu agar tidak jatuh ke tangan para pejabat pengelola negara secara tidak sah.

M Bachrun BSc

Jl Kalipucung 7 RT 6/RW 9, Sukorejo

***

Sandal

Kita sering memakai sandal tapi tak tahu maknanya. Paling hanya ingin terhindar dari kotor dan menjaga dari rasa sakit karena kerikil. Kenapa sandal dibuat kanan-kirinya sama, sebab biar tidak saling iri. Kenapa sandal dibuat untuk ditempatkan di bawah, sebab yang di bawah sangat vital untuk menopang yang di atas.

Kenapa sandal dibuat dengan harga berbeda, sebab harga berbeda pun fungsinya juga sama. Tak terlintas sandal yang mahal harganya saking sayangnya dipakai di atas kepala. Sandal berpasangan ibarat pemimpin dan wakil negeri ini. Saling harmonisasi dalam ber-tindak untuk memakmurkan rakyatnya. Jika yang kiri maju maka yang kanan harus menyusulnya.

Jangan saling berebut untuk melangkah sehingga dapat terjerembab. Juga ibarat kehidupan rumah tangga. Tak boleh iri jika kaki kiri pakai sandal plastik, yang kanan ingin sandal kulit. Maknanya, tidak boleh iri dengan kesuksesan tetangga sebab kesuksesan tak hanya diukur dengan materi.

Lalu kenapa sandal dibuat untuk menemani sepatu, maknanya sepatu ibarat orang berada dan sandal ibarat kaum papa. Bukankah ndoro gung uring-uringan jika pembantunya minta izin untuk nikah ?

Agus Eko Santoso

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak.

***

Kita Belum Merdeka

Ingat Bung

Kita belum merdeka dari kemiskinan

Kita belum merdeka dari korupsi

Kita belum merdeka dari kebodohan

Kita belum merdeka dari ketidakadilan

Kita belum merdeka dari kerusakan alam

Menjadi rutinitas tiap bulan Agustus penuh dengan pernak-pernik Merah Putih ditambah hiasan umbul-umbul dan lomba.

Spirit nasionalisme didengungkan, semangat patriotisme dikobarkan. Setiap orang tiba-tiba mengaku patriotik atau dengan mudah mengatakan, "Saya cinta tanah air". Apakah rasa cita tanah air hanya lewat kata-kata atau sekadar pasang bendera serta hanya dengan mengikuti lomba ?.

Tak perlu teriak cinta tanah air atau sekadar pasang bendera setinggi langit. Yang terpenting, tindakan dan perbuatan kongkret dalam kehidupan sehari-hari yang dimulai dari hal kecil dan sepele. Ada beberapa hal yang wajib kita perbuat sebagai perwujudan rasa cinta tanah air di antaranya: menjadi warga negara yang baik, tidak melanggar hukum, tidak berlaku curang dan tamak.

Apa pun profesinya agar bermanfaat bagi orang lain bukan malah membodohi, menipu apalagi merugikan banyak orang. Juga ikut menyokong pembangunan bangsa sesuai dengan peranan dan kemampuan masing-masing. Menolak segala bentuk korupsi. Janganlah rezeki halal dicemari dengan uang panas. Tegakah memberi nafkah anak istri dengan uang haram?.

Termasuk ikut melestarikan alam, menghemat air, listrik dan BBM, membuang sampah pada tempatnya sambil menanam pohon di sekitar. Bantulah sesama sebab dengan membantu keluarga, teman atau tetangga yang pantas atau wajib terbantu baik moral maupun material.

Menjalin persahabatan, persaudaraan dan persatuan dengan setiap orang dari kalangan mana pun. lndahnya gemerlap Agustusan dan kemilau lautan Merah Putih akan menjadi hampa, kosong dari tidak bermakna, bila tidak diikuti tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sekecil apa pun, berbuatlah sesuatu yang dapat memajukan bangsa dengan negara.

M Maulana

Jl Semeru Gg Mawar RT 6/RW 19, Pemalang

***

(Ketua Panitia) Ralat: Pada penerbitan Sabtu 25 Agustus 2007 tentang SD/SMP Satya Wiguna Pekalongan, terjadi kesalahan teknis. Pada alinea terakhir tertulis: "Tapi di luar dugaan, dia tidak menerima permintaan maaf saya....." Kalimat tersebut seharusnya berbunyi: "Tapi di luar dugaan, dia tidak meminta maaf kepada saya....."dst. -Red.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA