| Selasa, 28 Agustus 2007 | NASIONAL |
Kehidupan Santri Ponpes Islam Assalaam (1)Liburan ke Mal Tak Boleh Main Video Game
BEBERAPA santri berpakaian olahraga, giat berlatih kecakapan fisik di lapangan depan gedung olahraga, di sisi selatan Masjid Jami' yang megah bercat putih. "Kami latihan pencak silat," jawab seorang santri. Latihan itu bagian dari ekstrakurikuler pramuka yang diwajibkan setiap santri Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo. Nama pesantren modern yang didirikan 7 Agustus 1982 ini sebenarnya pernah menorehkan prestasi-prestasi gemilang di bidang pendidikan dan olahraga. Namun beberapa hari ini, prestasi itu seolah ternoda oleh kasus pemukulan yang dilakukan dua siswa kelas 1 SMK Assalaam, Adib Bayu Pratama dan Dody Setya Rahman, terhadap dua santri kelas Takhashus, Deri Saputra dan I Wayan Mahardika. Meski berdamai, kedua pelaku harus menelan pil pahit. Jumat (17/8) malam lalu, mereka dikeluarkan dari pondok. Hari Bebas Bagaimana kehidupan para santri di bangunan megah seluas kurang lebih 10 hektare ini? Suara Merdeka beberapa hari lalu diajak mengintip kehidupan pondok yang awalnya didirikan almarhum H Abdullah Marzuki dan Hj Siti Aminah Abdullah. Di beberapa sudut taman, terlihat beberapa santri bercengkerama dengan keluarganya, atau dengan rekan sebayanya. Kebetulan, saat itu ada jadwal berkunjung dari keluarga santri. Wakil Direktur II PPMI Assalaam Arkanuddin Budiyanto, kepada Suara Merdeka menuturkan, keluarga santri bisa datang ke pesantren untuk berkunjung pada Jumat dan Ahad. "Kalau Jumat, kami memang libur dari kegiatan belajar di kelas. Jadi keluarga bisa berkunjung sejak pagi sampai sore. Tapi kalau hari Ahad, santri justru masuk kelas. Keluarga yang berkunjung hari Ahad harus menunggu sampai kegiatan belajar selesai, untuk bisa bertemu santri," jelasnya. Ya, tidak seperti sekolah umum, santri Assalaam justru libur pada Jumat. Jika keluarga tidak ada yang menjenguk, mereka bisa keluar lingkungan pondok, ke mal atau jalan-jalan ke Kota Solo, yang berjarak sekitar 5 km dari Assalaam. Meski hari bebas, mereka tetap terikat aturan. Saat jalan-jalan, para santri tidak diperbolehkan masuk gedung bioskop, arena biliar, arena video game, play station, dan sejenisnya. Bagi santri yang tidak ingin keluar pondok, mereka bisa menghabiskan waktu dengan melakukan berbagai kegiatan, seperti main bola basket. (Irfan Salafudin-77) | ||||