SM/dok Arif Widiya Radyanto |
|
BEL sekolah baru saja berbunyi. Menandakan waktu pulang sekolah telah tiba. Arif yang siang itu mengenakan seragam Pramuka tampak sumringah saat keluar kelas. Peraih Juara IV Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Nasional untuk Siswa SMTP (Sekolah Menengah Tingkat Pertama) tahun 2007 itu pun bergegas menuju ruang guru, menemui Suara Merdeka. Didampingi guru Bahasa Indonesia kelas 8, Triyastuti (47), remaja berkaca mata minus ini begitu bersemangat menceritakan prestasi yang telah diraihnya.
Hasil temuan siswa kelas 9c SMP Negeri 2 Semarang ini, yaitu obat luka alam dari ramuan visio atau minyak kelapa (virgin coconut oil) yang dicampur dengan lidah buaya, telah berhasil menobatkannya sebagai salah satu dari sepuluh penemu teknologi tepat guna.
Ide awal penemuan itu, menurutnya, bermula dari kebiasaan keluarga yang sering menggunakan lidah buaya sebagai obat luka. "Di keluarga saya, kebiasaan memakai lidah buaya sebagai obat luka sudah turun temurun. Bahkan sejak kakek masih ada," jelas putra pasangan Suwargo dan Melania Chrisantini ini.
Kebetulan oleh Triyastuti yang juga mengampu mata pelajaran Karya Ilmiah, ada dua siswa yang diajukan untuk mengikuti lomba. Yaitu Stephanie Ellen dan Arif Widiya Radyanto. Namun akhirnya Ariflah yang lolos seleksi lomba yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 40 tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkat resep keluarga.
Tatkala ditawari untuk mengikuti lomba, Arif lantas teringat dengan resep lidah buaya keluarganya. "Kebetulan di rumah, ibu sering menggunakan visio. Lantas saya mencoba untuk menggabungkan keduanya jadi ramuan," kata anak pertama dari dua bersaudara ini.
Kepiawaian Arif dalam meramu tak lepas dari hobi sang ibu yang suka mencoba resep masakan. Sedari kecil, remaja kelahiran 25 September 1993 ini gemar meniru ibunya mencoba resep. "Kebanyakan resep makanan sih. Makanya saya coba-coba untuk meramu visio dan lidah buaya," ujar dia.
Dibantu sang ibu, beberapa kali Arif melakukan percobaan di rumah. Ia tak perlu repot-repot mencari bahan hingga ke pasar. Karena semua bahan sudah tersedia di rumah. "Di halaman rumah ada beberapa pot tanaman lidah buaya. Sedang visio, tinggal ambil di dapur," kata Arif yang hobi bermain musik, dan nyanyi.
Remaja yang bercita-cita jadi dokter ini harus pintar-pintar membagi waktu antara belajar, les dan melakukan percobaan. Dia banyak dibantu sang ibu dalam mengerjakan laporan karya ilmiahnya yang berjudul "Obat Luka dari Alam". "Meski idenya dari saya, tapi ibu banyak membantu. Baik ketika percobaan maupun memberi dukungan moral," tambah kakak dari Anindito Wibisono ini.
Menurutnya, obat luka dari alam ini selain mudah dan hemat biaya juga mudah mengerjakannya. Arif menjelaskan, pertama-tama lidah buaya diiris-iris lalu diblender, dan dipanaskan. Lantas visio dan bahan penstabil yang terdiri atas asam stearat, lilin lebah dan cetil alkohol dicampur dan dipanaskan hingga meleleh.
Setelah keduanya dipanaskan, lidah buaya dan larutan visio dicampur kemudian diaduk hingga homogen (merata), dan menghasilkan larutan berupa krim. "Hasil akhirnya seperti salep," tambahnya.
Obat ini bisa mengobati luka apa saja. Seperti tergores, luka bakar dan lain-lain. "Saya sudah pernah mencobakannya ketika adik dan tetangga saya luka," ujar remaja yang mengikuti ekstrakurikuler musik di sekolahnya.
Mudah Bergaul
Perjuangan keras Arif pun membuahkan hasil. Meski ia hanya berhasil menyabet gelar juara keempat dari 150 siswa SMP se-Indonesia, Arif tak kecewa. Hasil karyanya diakui dan dinilai layak oleh LIPI. "Saya tak menyangka kalau anak saya bisa menang. Padahal ia sempat tidak percaya diri saat presentasi," kata Melania.
Ia juga tak menyangka jika resep keluarga bisa diolah oleh putra sulungnya menjadi sebuah penemuan baru. Memang, lanjut Melania, lidah buaya adalah resep turun-temurun yang sering digunakan keluarga besarnya untuk mengobati luka. "Karena saya tidak pernah sedia obat-obatan, saya selalu menggunakan lidah buaya untuk obat. Bahkan kalau anak-anak sedang sakit radang, saya suruh mereka makan lidah buaya. Biasanya langsung sembuh," paparnya.
Suwargo menambahkan, Arif termasuk anak pandai di kelasnya. Sejak SD ia selalu berada di peringkat lima besar. Meski harus gonta-ganti sekolah hingga tiga belas kali karena mengikuti tugas sang ayah yang bekerja di Perhutani, Arif tergolong mudah menyesuaikan diri.
Ia mengatakan, alumnus SD Negeri Kranji 1 Purwokerto, SMP Negeri 8 Purwokerto dan SMP Negeri 2 Tegal itu suka sekali membaca buku. Selain itu, meski disibukkan dengan berbagai aktivitas sekolah dan les, diia tak kehilangan waktu bermainnya. "Dia masih latihan band di rumah bersama teman-temannya," kata dia.
Menurut Triyastuti, yang mendampingi Arif sebelum dan selama lomba, muridnya memang pandai. Selama masa penggemblengan oleh pihak sekolah, Arif mendapat banyak dorongan motivasi agar percaya diri." Karena dengan percaya diri akan mudah untuk meyakinkan juri bahwa produk penelitiannya menarik," pungkasnya.(41)