JAKARTA-Jenazah Lusiana Lolina (35) dan anaknya Imanuel Saegusa (2) akhirnya diautopsi Rumah Sakit Cipto Mangunkusuma (RSCM) Jakarta, setelah sebelumnya tidak disetujui oleh pihak keluarga, karena menganggap kematian tersebut murni sebagai aksi bunuh diri. Izin autopsi yang dikeluarkan keluarga korban, setelah berkembang kabar yang kurang baik mengenai suami korban, Tohiro Saegusa (40).
Menurut Kapolsek Setiabudi Kompol Suwondo Nainggolan, awalnya pihak keluarga yang diwakili adik kandung korban menolak tindakan autopsi pada kakaknya itu. Sebab, indikasi bunuh diri dari lantai 35 Apartemen Ambassador itu, sangat kuat.
''Akhirnya jenazah Lusiana dan anaknya diizinkan keluarganya untuk diautopsi. Keputusan ini diambil keluarga setelah ada pemberitaan di media massa yang memojokkan suaminya," ujarnya, Senin (27/8).
Seperti diberitakan, Lusiana bersama anaknya yang masih balita, secara tragis mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai 35 kediamannya di Apartemen Ambassador, Jakarta.
Autopsi yang dilakukan tim forensik RSCM menemukan luka yang mencurigakan. Namun tim tersebut tidak dapat menyimpulkan penyebab luka tersebut. Ahli forensik RSCM Abdul Munim menjelaskan terdapat luka memar yang tidak lazim pada jari tangan sebelah kanan Lusiana. "Ada hal yang tidak lazim alias janggal pada jari tangan sebelah kanan. Jenis luka memar di jari tangan kanan itu memiliki pola yang berbeda dengan luka lainnya,'' ujar Abdul.
Ditanya apakah luka tersebut ada sebelum korban bunuh diri, dia mengatakan tidak tahu, karena hal tersebut berhubungan dengan proses penyidikan yang dilakukan kepolisian. Abdul menambahkan, pihaknya hanya mengurusi autopsi.
''Hasil lainnya adalah, pola luka kedua korban sesuai dengan pola luka orang yang jatuh dari ketinggian. Kondisi jasad Lusiana terlihat lebih parah dibanding anaknya. Kepalanya hancur, tulangnya patah, jaringan otak hilang, dan hatinya hancur. Selain itu obat psikotropika negatif,'' tambah Abdul.
Sebelum autopsi berlangsung, kakak kandung Lusiana, P Sitorus, tiba di rumah sakit tersebut untuk melihat proses autopsi. Sitorus yang mengaku jarang berkomunikasi dengan adiknya itu, menyebutkan bahwa korban memiliki sifat yang sangat baik. Dia menambahkan, dirinya terakhir ketemu dengan adiknya ketika Lusiana menikah dengan Saegusa.
Menurut Sitorus, pihak keluarga pernah mengindikasi adanya keretakan rumah tangga adiknya. Namun, dirinya tidak mengetahui permasalahan yang mendera keluarga Lusiana. ''Lusiana itu orangnya baik. Masalahnya, kita memang sudah lama tidak berhubungan,'' ujar Sitorus yang ditemani tiga anggota keluarga lainnya dari Surabaya.
Kasus bunuh diri yang mengguncang Jakarta minggu pagi lalu, hingga kini masih diselidiki pihak kepolisian. Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan Kompol Helmi Santika mengatakan, menurut hasil penyelidikan, Lusiana pernah tiga kali mencoba bunuh diri.
Menurut hasil penyelidikan sementara, tidak terdapat sidik jari selain milik Lusiana, sehingga adanya pembunuhan sedikit terbantahkan. Dirinya menambahkan, hingga saat ini polisi masih menyimpulkan kematian kedua korban akibat bunuh diri. Namun, polisi masih belum menyimpulkan motif bunuh diri tersebut.
Toshihiro Histeris
Suami Lusiana Loliana, Tohiro Saegusa (40) histeris ketika melihat jenazah istrinya telah terbujur kaku di kamar jenazah RSCM. Jerit tangis WN Jepang ini bertambah ketika melihat jenazah anaknya, Imanuel Saegusa (2).
Saegusa tiba di kamar jenazah RSCM, Jl Salemba, Jakarta Pusat, Senin (27/8), sekitar pukul 19.00 WIB. Dia tiba bersama mertuanya.
Pria bertinggi 170 sentimeter dan berkaca mata itu baru saja tiba dari Jepang. Dia langsung saja menuju ruang administgrasi kamar jenazah di lantai 1.
Tak lama, dia menuju ruang jenazah di lantai 2 untuk melihat istrinya, yang diduga bunuh diri dari lantai 35, didampingi sejumlah petugas RSCM dan polisi dari Polsek Setiabudi.
"Okiro! Okiro! (bangun! bangun!)," jerit pria yang mengenakan kemeja putih lengan panjang itu. Jeritannya menembus ruang jenazah yang tertutup bagi wartawan.
Tak lama kemudian, ibu Lusiana datang sekitar pukul 19.15 WIB. Wanita paruh baya itu tampak lemas, dan dipapah sejumlah kerabatnya yang datang dari Medan. "Anakku! Anakku!" teriak perempuan berambut pendek ini saat masuk ruang jenazah.(J21,dtc-41)