KEDIRI-Seorang santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo Kediri, Ahmad Hariri (26) asal Pabuaran Kabupaten Cirebon, ditemukan tewas di dalam kamarnya. Kematian santri itu membuat ponpes gempar.
Polisi mendapat kesulitan guna menentukan penyebab kematianya, karena ketika polisi datang posisi korban telah diubah. Korban ditemukan pertama kali oleh teman sekamarnya di ruang J20, Humaidi Marfuk, pada pukul 10.30 WIB.
Sesaat setelah mengaji di halaman masjid, Humaidi mendapati korban telah tidur. Ternyata temannya itu telah meninggal dunia, ketika dia menyentuh telapak tangannya yang terasa dingin.
"Saya bermaksud membangunkan karena waktunya ngaji. Tapi tangannya terasa seperti es dan saya baru sadar dia sudah meninggal," terang Humaidi Marfuk, Senin (27/08).
Seketika itu pula Humaidi memberitahukan kepada bagian keamanan pondok yang diteruskan kepada pengurus. Namun sayang pemberitahuan tersebut tidak diteruskan dengan memberikan informasi kepada pihak polisi.
Pihak Ponpes justru mengambil keputusan segera mengurus mayat dan memakamkannya. Informasi kematian santri ini baru diketahui polisi selang 4 jam ketika ada santri yang melapor saat korban akan dimakamkan.
Polisi yang mendapatkan laporan segera mendatangi lokasi, namun kesulitan melakukan penelitian mengenai penyebab kematian korban karena posisi mayat telah berubah. Bahkan korban telah dimandikan dan hendak dimakamkan
Kesulitan polisi bukan hanya karena posisi korban yang telah banyak berubah, namun juga sikap tertutup Ponpes Lirboyo yang tetap bersikukuh pemakaman harus segera dilakukan karena pihak keluarga telah mengikhlaskan.
Setelah diberikan penjelasan, pihak ponpes membolehkan korban divisum di RSUD gambiran Kota Kediri. "Sebenarnya ini menyalahi aturan karena posisi korban telah diubah, mereka telah mengubah TKP," kata Kasat Reskrim Polresta Kediri, AKP Purdiyanto.
Dalam pemeriksaan di RSUD, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan. Namun polisi menentukan penyebab kematian korban adalah penyakit jantung yang pernah diindapnya.
"Dia pernah dirawat di RS dua tahun lalu, dan kematiannya diduga akibat penyakit jantung yang diidapnya kambuh mendadak," kata Kapolsek Mojoroto, AKP Irwantono.
Terkait ketertutupan pihak Ponpes Lirboyo yang enggan memberikan laporan kepada polisi mengenai kematian santrinya, mereka beralasan pemakaman terhadap santri yang meninggal tanpa memberikan laporan kepada polisi adalah sebuah tradisi.
"Ini kematian wajar seperti biasanya, dan sesuai dengan tradisi di Lirboyo mayat akan segera dimakamkan jika keluarganya sudah ikhlas," kata Nabiel Harun, salah satu pengurus Ponpes Lirboyo. (dtc-41)