logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Agustus 2007 INTERNASIONAL
Line

LINTAS JAGAT

Jet AS Salah Bom

LONDON - Tiga prajurit Inggris di Afghanistan tewas akibat salah tembak pesawat tempur Amerika Serikat. Kementerian Pertahanan Inggris mengemukakan hal itu di London, Jumat kemarin.

Insiden salah tembak itu terjadi di Provinsi Helmand Kamis petang lalu. Ketika itu, dua jet F-15 Amerika Serikat dipanggil untuk memberikan bantuan pada pasukan NATO yang diserang gerilyawan Talib. Jet-jet itu menjatuhkan sebuah bom di lokasi pertempuran.

''Saat pertempuran makin sengit, pasukan mengontak pangkalan dan minta dukungan dari dua pesawat jet F-15 AS untuk ikut mengusir musuh,'' demikian pernyataan kementerian. ''Sebuah bom dijatuhkan dan ledakan itu diyakini telah menewaskan tiga prajurit kami. Mereka tewas di lokasi.''

Militer Inggris masih menyelidiki kronologi kejadian itu. Para prajurit tewas itu semuanya berasal dari Batalyon I Resimen Royal Anglian. Dua orang prajurit lain cedera dan kini dirawat di Camp Bastion.

Inggris menerjunkan lebih dari 6.000 prajurit di Afghanistan. Jumlah personel akan ditambah menjadi 7.000 lebih pada tahun ini. Sebagian besar prajurit ditempatkan di selatan. Sejak 2001, sudah 73 serdadu Inggris tewas di Afghanistan.(rtr-gn-25)

''Sembunyikan'' Rp 15,3 M

TOKYO - Seorang ibu rumah tangga di Tokyo dijatuhi hukuman denda oleh pengadilan Jumat kemarin karena terbukti tidak membayar pajak atas hasil transaksinya di pasar valas. Ibu itu meraup 400 juta yen (Rp 15,3 miliar) dari perdagangan valas namun tidak membayar pajak.

Pengadilan memutuskan, Yukiko Ikebe (60) dijatuhi hukuman penjara dan didenda 34 juta yen. Dia terbukti menggunakan nama-nama kerabatnya supaya perolehan transaksinya terlihat lebih sedikit sehingga terhindar dari kewajiban pajak.

''Dia merasa tidak adil kalau harus membayar pajak atas hasil usahanya, apalagi dia selama bertahun-tahun sebelumnya menelan kerugian,'' kata hakim sebagaimana dikutip NHK. ''Dia membelanjakan uangnya untuk membeli kimono dan perhiasan.''

Perdagangan valas dalam beberapa tahun belakangan ini makin populer di Jepang. Karena tingkat suku bunga rendah, kalangan investor ritel mencari sumber-sumber lain untuk meningkatkan keuntungan, antara lain melalui perdagangan valas.(rtr-gn-25)

ISLAMABAD - Presiden Pakistan Pervez Musharraf menghadapi tekanan politik yang meningkat, kemarin, saat mantan PM Nawaz Sharif bertekad pulang dalam beberapa pekan - bukan bulan - untuk mengikuti pemilihan.

Mahkamah Agung Pakistan, Kamis lalu, memutuskan bahwa Sharif (yang dua kali menjabat perdana menteri) boleh pulang dari pengasingan di Arab Saudi dan London. Sharif memuji putusan bersejarah itu sebagai kekalahan bagi tirani.

Putusan itu mengancam membuat kondisi Pakistan makin tidak menentu. Pasalnya, Musharraf mendapat kecaman dari dalam negeri dan internasional untuk tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden dari militer dalam pemilihan beberapa bulan mendatang.

Presiden Pakistan itu juga menghadapi meningkatnya kerusuhan berkaitan dengan Al-Qaedah yang menyebabkan gelombang serangan berdarah di ibu kota Islamabad dan daerah-daerah suku dekat perbatasan dengan Afghanistan.

''Sharif akan pulang ke Pakistan dalam beberapa pekan, bukan bulan,'' kata Siddiqul Farooq, juru bicara partai Liga Muslim Pakistan (PML) pimpinan Sharif.

Sharif mengatakan dari London, Kamis lalu, bahwa dia akan segera pulang ke tanah kelahirannya.(afp-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA