logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Agustus 2007 INTERNASIONAL
Line

AS Tahan 800 Anak-anak di Irak

BAGDAD - Pasukan Amerika Serikat menahan hampir 800 anak-anak dan remaja berusia belasan tahun di suatu tempat di Bagdad. Anak-anak dan remaja yang kebanyakan buta aksara itu, sebelumnya direkrut kelompok perlawanan untuk melakukan pengeboman, namun kini mereka berkonsentrasi dalam pendidikan. Mereka berpakaian baju langsungan celana (jumpsuit) oranye, sama seperti seragam tersangka teroris yang ditahan di Teluk Guantanamo, Kuba. Para remaja berusia 10 hingga 17 tahun itu mengikuti sekolah selama tujuh hari sepekan, delapan jam per hari, untuk memperbaiki kelakuannya.

Sekolah itu dilengkapi empat lapangan sepakbola, 18 ruang kelas, dan satu perpustakaan. Selain itu, juga dilengkapi dengan televisi, DVD, buku Harry Potter bahasa Arab, buku-buku pelajaran, papan tulis putih, jajaran meja tulis, dan kursi, serta ditambah makan siang.

Mereka bertelanjang kaki dan bersorak gembira saat main bola, sedangkan tentara AS mengawasi dari menara di sebelah tembok besar antiledakan.

Saat waktu main selesai, para tentara dengan tongkat memerintahkan anak-anak itu jongkok dan tangan di kepala sebelum berjalan jongkok ke kelas. Di dalam ruangan, para tentara mengawasi, siap dengan semprotan merica dan kacamata pelindung.

Jumlahnya Meningkat

Seorang warga Irak yang menjadi guru mengajarkan tata bahasa dan aritmatika kepada para remaja itu, yang baru saja bisa baca tulis.

Jumlah tahanan di Irak meningkat tajam dalam enam bulan sejak Jenderal David Petraeus menambah anggota pasukan AS hingga 165 ribu personel.

Sebelumnya, ada 16 ribu tahanan namun kini jumlahnya mencapai 24 ribu orang. Setiap bulan lebih dari 100 anak muda diciduk tentara, sedangkan tahun lalu rata-rata per bulannya hanya 25 anak.

Pada 1 Februari tercatat 272 anak muda ditahan, kini jumlah mereka mencapai 787 anak, kata Kapten John Flemming.

Menurut militer AS, anak-anak muda itu ditangkap ketika membuat dan menanam bom tepi jalan. Sebagian lagi ditangkap karena menjadi mata-mata bagi para pelaku serangan bom maupun penembak jitu.

Terdapat juga anak muda yang ditangkap karena membawa senjata dan sebagian dari mereka adalah pejuang kelompok perlawanan. Keluarga mereka boleh berkunjung, namun sebagian keluarga menganggap terlalu berbahaya untuk menempuh perjalanan ke Bagdad.

Mayjen Douglas Stone, komandan penjara Irak, mengatakan anak-anak muda itu adalah ancaman nyata terhadap keamanan. Namun, dia menindaklanjuti penangkapan tersebut di penjara dengan memberikan jadwal latihan olahraga, pelajaran bahasa Arab, bahasa Inggris, matematika, ilmu pengetahuan, geografi, dan ilmu kewarganegaraan, demi memberantas ketidaktahuan yang merupakan lahan subur bagi lahirnya ekstremis.(afp-ant-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA