logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Agustus 2007 BANYUMAS
Line

romantika

Jualan Jamu dengan Resep Jawa Kuno

  • Oleh Aniek Hadi P

PENJUAL jamu keliling biasanya membawa botol-botol dengan cara digendong dalam bakul. Sebagian lagi memanfaatkan gerobak. Sri Lestari (37) mengaku sudah 20 tahun berjualan jamu gendong. Ia telah mempunyai pelanggan yang selalu menunggu-nunggu kehadirannya. "Selalu habis, bahkan sering kurang. Namun tidak bisa membawa lebih banyak lagi karena berat," ujarnya.

Banyak pelanggan di samping karena telah lama, ditunjang khasiat jamunya. Mereka merasa cocok dan kemudian menjadi pelanggan. Jamunya memiliki rasa khas. Itu tak lepas dari keahliannya meramu yang diajarkan turun-temurun oleh neneknya. ''Nenek saya belajar dari buku resep obat tradisional kuno dengan tulisan huruf Jawa,'' jelasnya.

Separo buku kuno tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dibantu oleh almarhumah neneknya.

Terhenti

Namun pengalihbahasaan buku terhenti sejak sang nenek meninggal dunia dan ia kurang pandai membaca huruf tersebut. Perempuan asal Wonogiri yang kini bermukim di Penatusan, Purwokerto Timur itu berjualan selepas SMP atau sekitar usia 15 tahun.

Tahun 1985 ia diajak saudaranya menjajakan jamu di Jakarta, kemudian pindah Bogor dan akhirnya memutuskan tinggal di Purwokerto. Ibu tiga anak itu berjualan setiap hari termasuk Minggu. Diantar dan dijemput becak langganannya dari Penatusan hingga Jalan Perintis Kemerdekaan dengan ongkos Rp 10.000.

Tiba di tujuan dengan jamu di punggungnya Sri berjalan sekitar dua kilometer dari Asrama Polri Penisihan Jalan Perintis Kemerdekaan hingga Jalan Patriot. Ketika ditanya berapa penghasilannya, ia hanya tersenyum dan menjawab, "Tidak tentu. Ada pelanggan yang bayar belakang. Berapapun saya bawa pulang dengan rasa syukur." (27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA