| Sabtu, 18 Agustus 2007 | NASIONAL |
''Merdeka dari PLTN''
JEPARA- Warga Desa Balong, Kecamatan Kembang, Jepara, Jumat (17/8) pukul 09:30, menggelar upacara memeringati HUT Ke-62 Proklamasi Kemerdekaan RI di lapangan sepak bola desa setempat. Upacara yang dihadiri para politisi nasional itu berlangsung khidmat. Namun, kini desa berpenduduk sekitar 6000 jiwa itu lebih memekikkan kemerdekaan dari ancaman bahaya Pembangkit Tenaga Nuklir (PLTN). Upacara itu digelar Persatuan Masyarakat Desa Balong (PMB) bersama Forum Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (Forsmad). Beberapa politisi yang hadir di antaranya adalah Sekjen DPP PKB Yenny Wahid dan anggota Dewan Syuro DPP PKB Muslim Abdurrahman, anggota Komisi VII DPR Alvin Lie (PAN), dan anggota Komisi IV Faqih Chaeroni. Dari politisi Jateng, di antaranya Fatria Rahmadi (PDI-P) dan pengurus DPD PDI-P, Ali Mansyur HD dan Zuhar Mahsun (PKB), Ketua DPD Partai Golkar Bambang Sadono. Sebagai Inspektur Upacara adalah Ketua PCNU Jepara H Nuruddin Amin. Malam sebelumnya, digelar pentas wayang kulit dengan dalang Sujiwo Tedjo. Budayawan jebolan Institut Teknologi Bandung itu juga mendendangkan album terbarunya, ''Presiden Iya Iyo''. Usai upacara dilajutkan orasi para politisi dan tokoh anti-PLTN. Alvin Lie bersikap skeptis Indonesia bisa mengelola PLTN dengan baik, dengan merujuk pada berbagai bencana alam. ''Apalagi pemerintah secara resmi belum membicarakan PLTN ini kepada DPR,'' kata dia. Sujiwo Tedjo setuju dengan nuklir sebagai pengembangan teknologi, tapi di Indonesia itu belum saatnya. ''Kultur masyarakat belum mendukung. Ngurus kereta api saja belum jegos (bisa-Red),'' kata dia. Yenny Wahid pun menilai kehadiran PLTN di lokasi itu akan mengancam kehidupan sosial budaya masyarakat setempat dan sekitarnya. Dia berencana membentuk Garda Muria sebagai ikhtiar untuk melestarikan budaya masyarakat sekitar Gunung Muria. (H15,J4-77) | ||||