logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 18 Agustus 2007 MURIA
Line

Tergiur Ringgit dan Terjepit (2-Habis)

Diberi Lauk yang Sudah Busuk

"Saya minta tolong sama Ibu atau Bapak yang baca surat ini. Tolong keluarkan kami dari PT ini" CUKILAN tulisan sederhana yang dibuat Mubiarti (26) di secarik kertas itulah yang menguak belasan korban yang disekap dalam penampungan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Tulisan itu diberikan kepada seorang ibu yang kebetulan berkunjung ke penampungan yang mencari Yulia, si pemilik perusahaan.

Saat ditemui Suara Merdeka Selasa (14/8), Mubiarti didampingi ketiga rekannya Masluroh (29), Sejati (22), dan Khafitri (18) bercerita saat berada di penampungan bersama rekan-rekan senasib sepenanggungan yang lain.

Malam itu sekitar pukul 19.00, seorang ibu datang ke penampungan dan Mubiarti menitipkan secarik kertas untuk meminta pertolongan agar membebaskan mereka dari penampungan.

Keluhan dan permohonan tersebut ditanggapi dengan melaporkan ke pihak berwajib. Tidak membutuhkan waktu lama, sekitar pukul 22.00, polisi bersama wartawan, LSM, serta istri ketua RT setempat mendatangi dan menggerebek tempat penampungan tersebut.

Saat itu juga ke-14 perempuan keluar dari penampungan. Di dalam penampungan, selain 14 korban masih banyak rekan lain, jumlah totalnya 40 orang. "Saat itu kami kaget karena ada penggerebekan. Namun, ternyata bapak polisi yang membebaskan kami," tutur Mubiarti.

Selain disekap, mereka mengaku mendapatkan perlakuan kurang manusiawi dari pimpinan tempat penampungan Yulia. Wanita cantik berkulit putih tersebut selalu melontarkan kata-kata yang menghina dan sering mencaci maki para calon TKW tersebut.

"Mulut kamu itu anjing, babi. Kamu itu di sana orang melarat. Makian itu diucapkan saat saya menanyakan visa sudah turun apa belum. Jawabannya sudah tetapi kenyataannya dibohongi terus," kenang Mubiarti menirukan ucapan Yulia.

Tiga Bulan

Selama tiga bulan di penyekapan, mereka mengaku disuruh kerja, mencuci mobil, baju, celana dalam, dan tidak diberi upah serta diberi makan nasi dengan lauk yang sudah busuk oleh Yulia.

Namun beberapa dari mereka mengaku, jika bekerja selama dua minggu atau lebih mendapat upah yang tidak seberapa dan jika kurang dari waktu tersebut tidak mendapatkan upah karena diminta Yulia. Untuk tidur pun mereka ditampung di satu kamar yang ala kadarnya.

"Kami merasa dirugikan selama tiga bulan. Kalau bisa kami minta ganti rugi," ucap Mubiarti sambil mengusap air matanya.

Penderitaan serupa juga dialami Noni Masmiati yang namanya sudah diganti Solihatun, yang menderita sakit di dalam penampungan karena makanan yang dikonsumsi.

"Selama tiga bulan saya sakit, minta obat tidak diberi Yulia. Bahkan untuk mendapatkan obat, teman-teman sepenampungan harus urunan untuk beli obat," ujar janda beranak satu hasil perkawinan dengan almarhum David, pekerja minyak asal Amerika Serikat.

Mereka juga menceritakan, awal mereka ditawari pekerjaan di salon oleh Sri Wahyuningsih dengan iming-iming gaji Rp 1,1 juta per bulan. Bersama-sama berangkat pada 11 April menuju Jakarta menggunakan bus. Sesampai di Ibu Kota, mereka ditampung di Tebet, Pasar Minggu semalam.

Paginya berangkat menuju ke Batam menggunakan pesawat dan menyeberang dengan kapal feri menuju ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, 13 Juli, dan dijemput perwakilan PT Kabasco.

Selama tiga bulan para calon TKW itu dijanjikan uang Rp 300.000 namun hanya dibohongi. Dan, janji memberikan pelatihan juga diingkari PJTKI itu. (Budi Cahyono, Sukardi-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA