logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 18 Agustus 2007 SEMARANG
Line

Sang Saka Berkibar di Dua Alam

''Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku Indonesia kebangsaanku Bangsa dan tanah airku Marilah kita berseru Indonesia bersatu" PAGI itu, tepatnya 17 Agustus, tujuh orang perempuan mengenakan busana kebaya lengkap dan tujuh orang laki-laki mengenakan baju batik menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Tampaknya biasa saja. Karena hari itu adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia sehingga orang bisa mendengar lagu kebangsaan itu dinyanyikan dimana-mana, bahkan di seluruh pelosok Nusantara.

Lantas apa yang istimewa? Ternyata paduan suara dari Marine Diving Club (MDC) itu, menyanyikannya di pinggir kolam renang Manunggal Jati Semarang. Lagu kebangsaan berkumandang mengiringi jalannya upacara pengibaran sang merah putih di dua alam, yaitu air dan darat.

Tepat di tengah-tengah lagu, sang merah putih muncul dari dalam air kolam.

Dan tatkala lagu ciptaan WR Supratman itu pun usai, sang saka yang basah telah berkibar dengan gagahnya di atas papan locat indah.

Ya, apa yang dilakukan oleh tim MDC Ilmu Kelautan Undip itu tergolong unik. Karena upacara peringatan HUT Ke-62 RI dengan formasi dan susunan acara lengkap yang biasa diselenggarakan di lapangan, kali ini dilakukan dari dasar kolam dan di atas kolam.

Pengibaran bendera di dalam air dilakukan oleh 14 orang penyelam berpakaian batik pada kedalaman 6 meter itu, dilakukan dengan gerakan dan isyarat. Mereka berkomunikasi menggunakan sabah. Yaitu papan kecil yang ditulisi dengan pensil. Ada 8 orang yang disebut pasukan 8 berdiri di sebelah utara kolam, dua orang pembawa sekaligus pengibar sang saka, komandan upacara, dan sisanya peserta upacara.

Mustofa, salah satu pengibar sang saka mengatakan, upacara pengibaran bendera di dalam air dengan menggunakan peralatan selam dalam formasi upacara lengkap, merupakan kali pertama di Semarang. Formasi dan prosesi tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan upacara pada umumnya.

Prosesi upacara itu dimulai pukul 08.00, rupanya butuh persiapan lebih. Karena upacara berlangsung di dua alam sehingga agar upacara di dalam air dan di pinggir kolam berjalan selaras. Ada koordinator antara air dan darat yang memberi isyarat. "Jadi, saat komandan upacara darat membacakan teks Proklamasi, di dalam air juga sedang membaca teks Proklamasi tertulis di sabah," jelas mahasiswa semester 8 FPIK ini.

Pembantu Dekan III FPIK sekaligus pemimpin upacara, Ir Nur Taufik SPi mengatakan, upacara sengaja digelar di dasar kolam renang sebagai bentuk kreativitas dan upaya menunjukkan bahwa kehidupan tak hanya di darat saja, tapi juga di dalam air.

Bila sebelumnya di tempat lain pernah ada pengibaran seperti di laut Bali dan Sea World, namun keduanya hanya pengibaran saja, tidak dengan prosesi upacara pengibaran. Rencananya, imbuh Mustofa, tahun depan Marine Diving Club Ilmu Kelautan Undip akan kembali mengadakan upacara bendera dalam air di Laut Karimunjawa.

"Tapi semua rencana masih dalam konsep. Karena masih harus memilih lokasi yang landasannya pasir bukan karang. Kalau sampai menjadikan karang sebagi landasan untuk berpijak, itu sama saja merusak ekosistem laut," ungkapnya. (Fani Ayudea, Moch. Kundori-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA