| Kamis, 16 Agustus 2007 | PANTURA |
Personel Berpakaian Preman Disiagakan di Sejumlah Titik Rawan
TEGAL - Sejumlah personel Polresta Tegal berpakaian preman dengan dilengkapi senjata api, mulai Rabu (15/8) diterjunkan ke sejumlah titik rawan pencurian rel kereta api. Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pencurian rel maupun tindakan sabotase, yang kini marak terjadi di sejumlah daerah. Kapolresta Tegal AKBP Drs Iwan A Ibrahim mengatakan, selain personel berpakaian preman, sejumlah petugas juga diperintahkan untuk melakukan patroli secara rutin, baik siang maupun malam. Dengan upaya tersebut, diharapkan pencurian rel milik PT KA di wilayahnya tidak terjadi. Dia mengemukakan, sepekan sebelumnya pihaknya berhasil menangkap salah satu anggota sindikat pencurian plat landas rel KA saat beroperasi di Stasiun Tegal. Tersangka adalah Teguh Winarto (34), asal Klaten. Kasus tersebut terungkap, setelah pihaknya memperoleh informasi dari warga. Saat itu, warga melaporkan ada orang yang sedang mencuri rel. Sejumlah personel bersama warga pun kemudian menangkap tersangka. Barang bukti yang berhasil disita antara lain, terpon plat landas, paku terpon, dan klem terpon. Selain itu, peralatan yang digunakan untuk mencuri, yakni empat kunci dan linggis. Selang dua hari kemudian, dua anggota sindikat pencurian plat landas rel juga kembali diringkus. Mereka adalah Yudi Hartono (27) warga Kelurahan Krandon, Kecamatan Margadana, Kota Tegal, dan Muji (27) asal Pontianak, Kalimantan Barat. Dari tangan tersangka, petugas menyita sejumlah barang bukti berupa plat tandas rel, besi pengait, paku terpon, dan alat yang digunakan untuk mencuri, seperti linggis dan kunci. Menyamar Menurut Iwan A Ibrahim, kasus tersebut terungkap setelah sejumlah personel ditugaskan untuk menyamar menjadi pemulung. Dari ciri-ciri pelaku, petugas akhirnya berhasil menemukan persembunyian tersangka, dan kemudian menangkap mereka. Dalam penangkapan tersebut petugas terpaksa menembak kaki kanan Muji, karena berusaha kabur. Menurut dia, kasus tersebut masih dalam pengembangan. Pasalnya, masih ada pelaku lain yang belum tertangkap, dan dimungkinkan ada unsur sabotase di balik kasus itu. (H17-15) |