| Kamis, 16 Agustus 2007 | WACANA |
Surat PembacaMerdeka atau MatiSemboyan Merdeka atau Mati di tahun 1945 bagi generasi Angkatan '45 bukan sekadar hiasan bibir, tetapi tekad untuk mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah Belanda yang datang kembali setelah Proklamasi. Artinya para pejuang rela mati di pertempuran melawan tentara Nica walau sebagian hanya bersenjata bambu runcing untuk melawan senjata modern dan tank musuh. Berapa banyak pejuang yang gugur di pertempuran Amnbarawa, Semarang dan kota lainnya, dibuktikan dengan bertebarannya makam pahlawan. Nah, diperingatkan Hari Kemerdekaan tahun 2007, bagi para veteran nonpurnawirawan berumur 75 tahun lebih yang hidup terlunta-lunta, merupakan keprihatinan tersendiri melihat kondisi negara dan bangsa ini.Mereka yang mendapat tunjangan veteran dan hanya cukup untuk hidup seminggu tidak punya suara untuk mengingatkan generasi penerus agar jangan berfoya-foya di atas penderitaan kemiskinan rakyat. Apalagi masih banyak veteran yang tidak mendapat tunjangan sama sekali karena sesuatu hal. Kemerdekaan diperjuangkan mati-matian untuk mencapai kemakmuran rakyat, bukan hanya demi kemakmuran presiden, gubernur, bupati/wali kota atau pejabat lainnya serta para anggota Dewan, direktur BUMN, tentara, polisi, bahkan PNS.Tetapi kemakmuran untuk seluruh rakyat yang bermukim di desa mau pun kota. Lihat saja di kota-kota besar di belakang hotel mewah dan mal yang gemerlap, terhampar perumahan penduduk kumuh, kotor yang dihuni pemulung, pengemis, PKL tergusur dan para kuli bangunan. Di berbagai kota tiap malam polisi atau Satpol PP mengadakan razia bagi korban kemiskinan yang jadi pelacur, preman warung remang-remang dan gelandangan. Tetapi petugas tidak memberi solusinya sebab mereka menganggap sebagai penyakit masyarakat. KPK punya slogan korupsi pembunuh bangsa, kenapa tidak ada yang dihukum mati seperti di negeri China? Mengapa DPR dan pemerintah tidak membuat UU hukuman mati bagi para koruptor?. Memang terlalu banyak masalah yang menyebabkan para veteran bersedih di hari kemerdekaan, karena tidak pernah terpikir nantinya negara ini dijual kepada para investor asing dengan dalih investasi. Namun ternyata duitnya tak pernah dinikmati oleh rakyat. Jual negara juga dalam bentuk perjanjian kerja sama yang menguntungkan negara asing. Mengapa para pemimpin tidak ingat teriakan Bung Karno : Go to Hell with your aid, bahkan sebaliknya Welcome mister, silahkan garuk bumi kami asal you tahu sama tahu aja deh. Jangan bangga kalau memperingati hari proklamasi ada veteran lapar duduk di kursi undangan. Jadikan figur mereka pembangkit kesadaran, kita sudah jauh meninggalkan cita-cita kemerdekaan. Selamat berjuang. Sudarjo Jl S Parman 61, Puewokerto Perpanjangan SIM Hanya 15 Menit Tak seperti yang diperkirakan orang bahwa pelayanan di Kepolisian ribet dan berbelit, sehingga mereka lebih rela keluar ongkos tambahan untuk jasa calo. Setidaknya ini yang saya alami sendiri di Polres Semarang Timur 3 Agustus 2007. Saya mengurus sendiri perpanjangan SIM A yang hampir jatuh tempo ternyata sangat mudah, murah, cepat dan menyenangkan sekali. Syaratnya hanya fotokopi KTP dan SIM yang akan jatuh tempo masing-masing 5 lembar, periksa dokter bayar Rp 20.000, kemudian ke loket I bayar Rp 60.000, loket II bayar Rp 15.000. Setelah formulir diisi kemudian diserahkan untuk foto. Tanpa antrian panjang, 2 menit kemudian nama saya dipanggil masuk untuk foto, cap jempol dan tanda tangan. Setelah itu saya diminta menunggu, ternyata kurang dari 3 menit SIM sudah jadi dan diserahkan bersama KTP asli yang sebelumnya saya serahkan bersama berkas lainnya. Begitu mudahnya mengurus perpanjangan SIM, sehingga saya sangat berkesan. Selain itu petugasnya juga ramah dan bersahabat. Giliran berikutnya setelah saya, ada seorang bapak yang agak kesulitan mengisi form, tetapi dengan sigap seorang petugas mendekati serta membantu dengan ramah pula. Saya salut atas layanan Polisi modern saat ini. Mereka makin profesional dan karenanya saya imbau masyarakat agar mulai mau mengenal petugas dari dekat atau secara langsung.Jangan mudah percaya omongan orang yang tak bertanggung jawab bahwa urusan Polisi itu ribet, buktinya saya tidak ada kesulitan sama sekali. Bravo Polisi. Daryoso Jl Tusam 1396, Semarang *** Bom Atom di Jepang Tepat tanggal 6 dan 8 Agustus 2007, genaplah 62 tahun peradaban manusia dikoyak-koyak dengan dijatuhkannya bom atom oleh Amerika di 2 kota besar Jepang yaitu Hiroshima dan N;agasaki. Bom ini menimbuikan berpuluh-puluh ribu korban meninggal, belum terhitung yang luka utamanya di Kota Hiroshima yang hancur luluh. Sungguh mengerikan bahwa dalam beberapa detik ribuan nyawa manusia hilang dengan kondisi sangat mengerikan. Prinsip daripada suatu peperangan adalah salah satu pihak harus menang dan pihak yang lain tentunya kalah. Apakah masih dibenarkan peperangan harus dimenangkan dengan cara yang dihalalkan meski biadab. Kalau prinsip ini dibenarkan, tujuan menghalalkan segala perbuatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan, alangkah ngerinya kehidupan di belahan dunia ini. Seakan siapa saja boleh berbuat semau gue dan perbuatan ini telah dibuktikan oleh Amerika dengan sekutunya. Mereka bersemboyan pokoknya gue menang perduli amat dengan rakyat/negara. Maka jelaslah peradaban manusia yang beradab kapan saja tidak boleh dirobek-robek oleh tangan manusia sendiri. Tuhan-lah yang menentukan, segala perselisihan bisa diselesaikan dengan perdamaian dan kerukunan. Inilah sekilas yang ingin saya ungkapkan untuk menggugah pikiran umat, janganlah perbuatan biadab dijadikan dasar untuk pembenaran bagi mereka yang melanggar keimanan dan peradaban manusia. Maka dari itu saya ingin memberikan hadiah kaset video disc pada TA TV Surakarta dan TA TV Yogyakarta dengan permohonan bisa dipertontonkan pada pemirsa pada hari bersejarah tersebut secara bersamaan. Mungkin kedua stasiun TV tersebut sudah memiliki kasetnya tetapi tidak menjadi soal sebab bisa dimanfaatkan sebagai tambahan koleksi. Yang penting saya mohon peristiwa jatuhnya bom atom bisa dipertontokan kepada khalayak untuk jadi renungan Bambang Poernomo (0293 492642) Jl Raya 36 Kranggan, Temanggung *** Laborat Cito Mengecewakan Pada 30 Juli 2007 atas saran dokter Sahat Siagian SpOG, saya menjalani tes laborat berupa kultur urine dan sekret. Dengan alasan efisiensi saya memutuskan untuk tes di Laborat Cito Dr Cipto Semarang. Saat pemeriksaan, saya minta diusahakan hari Sabtu 4 Agustus hasilnya sudah bisa diambil, karena sekalian waktu untuk kontrol ke dokter. Pihak Laborat Cito menyanggupi dengan catatan saya menelepon dulu sebelum mengambil hasil, untuk kepastian sudah selesai atau belum pemeriksaan kultur tersebut. Sesuai pesan, Sabtu sore saya menelepon dan dijawab hasil tes sudah jadi dan bisa diambil. Setelah pulang kerja, saya ke laborat untuk mengambilnya. Di depan petugas laborat, sembari menunggu dicarikan hasilnya, saya menelepon ke dokter Sahat Siagian di Poli Spesialis RS Panti Wiloso Dr Cipto untuk meminta beliau menunggu saya, mengingat jam praktik sudah hampir habis. Tepat setelah dokter menyanggupi, pihak laborat mengatakan bahwa hasil tes saya ternyata belum jadi. Tentu saja saya sangat kecewa apalagi sudah telanjur meminta dokter untuk menunggu. Terpaksa saya menelepon kembali untuk meminta maaf sambil membatalkan permintaan saya untuk kontrol sore itu. Yang menjadi masalah, ketika saya akhirnya menerima hasil lab 6 Agustus, tertulis bahwa hasil itu sudah selesai dikerjakan pada 2 Agustus 2007. Itu berarti seharusnya hari Sabtu tersebut saya sudah bisa mengambil hasilnya. Mengapa saya yang sudah bersusah payah ke laborat untuk mengambil hasil, tetapi malah dikatakan belum jadi. Bagaimana tanggung jawab moral Laborat Cito terhadap pasiennya? Yulia Dwi Muljani Kelud Utara II/2, Semarang *** Kapan Sertifikat Jadi Pada tanggal 26 Juli 2001 saya membeli tanah kapling No 11 di sebelah selatan pabrik Pil Kita di Procot Slawi yang saya atasnamakan anak saya Oktiana Muliawati. Dalam surat perjanjian saya harus membayar uang muka Rp 3 juta, angsuran 60 x Rp 150.000 sehingga harga tanah seluruhnya Rp 12 juta. Hari itu pula saya membayar uang muka Rp 3 juta dan sepakat angsuran ke-1 dimulai bulan September 2001 serta terakhir ke-60 jatuh bulan Agustus 2006. Tanggal 6 April 2006 saya telah melunasi sampai dengan angsuran ke-60 (lunas). Baik uang muka maupun seluruh angsuran yang diterima dan kuitansinya ditandatangani Sdr Tohari (Direktur CV Lancar Sejahtera) Jl Sumatra RT 2/RW 4 Langon Kudaile Slawi Sdr Tohari menjelaskan sertifikat tanah diurus oleh Sdr Usman SH, Bumiayu. Di PPAT Procot Slawi Sdri Ning Prasetya Ningsih SH memberitahu bahwa tanah kapling tersebut sudah habis, tetapi Sdr Usman S.H. menjelaskan masih ada yakni dari orang yang membatalkan beli tanah kapling. Ketika saya telepon dia menerima, namun saat saya menanyakan kelanjutan penyelesaian tanah dan sertifikat, serta merta teleponnya ditutup. Dihubungi lagi tapi tidak diangkat dan seterusnya. Saya pun menghubungi Sdr Drs Gunawan Aryanto karena dia yang mempromosikan kapling tersebut, ternyata juga lepas tangan. Karena tidak mendapat tanggapan, saya meminta Sdr Tohari bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu. Namun sudah lebih dari 1 tahun sejak pelunasan 6 April 2006 dia hanya berjanji terus. Terakhir 17 Juli 2007 kembali menjanjikan akan diselesaikan pada bulan Agustus 2007 dan bersedia mengantarkan sertifikatnya Saya merasa khawatir sebab tanah kapling tersebut merupakan satu-satunya harapan mengingat sampai usia saya 65 tahun saya belum memiliki tempat berteduh akibat keterbatasan kemampuan sampai nantinya berhenti mengajar di lembaga pendidikan swasta, apalagi saya bukan PNS. Moh Tojib Imamuddin Palem Asri II Blok P 6 RT 2/RW 6 Pedagangan Dukuhwaru, Tegal *** Semangat Dalam mengelola kehidupan ini dibutuhkan sesuatu yang dapat memicu keadaan serta memberi konstribusi pada diri kita. Bukan uang bukan pula materi dan bukan jabatan/kekuasaan tetapi semangat. Yaitu semangat memotivasi diri agar kehidupan tidak lemah, tidak mlempem serta tidak punya daya juang. Di bulan Agustus ini, kita perlu menengok kembali semangat para pejuang tempo dulu. Dengan semangat Merah Putih, mereka dapat bertahan dan mampu mengusir penjajah. Itulah semangat yang ada pada jiwa pejuang hingga negara ini merdeka. Oleh sebab itu kita meski belajar semangat dari para pejuang tempo dulu, bagaimana mereka dapat bertahan hidup dengan bekal yang minim. Bagaimana bisa kompak hanya bermodalkan semangat. Juga bagimana para pejuang mampu mengusiar penjajah hanya bermodalkan senjata bambu runcing. Di alam yang bebas penjajah, kita harus punya semangat membangun negeri ini, Dengan semangat Merah Putih, mari kita isi kemerdekaan ini dan kita gempur KKN serta ganyang pungli. Dengan semangat Merah Putih, mari kita sikat pejabat korup, kita hapus pungutan sekolah dan kita gempur "uang pintu" di semua LP. Sikat oknum polisi nakal yang kerap memeras rakyat saat operasidi tengah jalan. dan kultur titip/kultur telepon korup harus dilenyapkan. Mari perbaiki SDM agar dapat bersaing secara global, dan bukan memunculkan SDM gombal. Dengan semangat Merah Putih, mari dukung olahraga kita dengan semangat sportivitas tinggi. yo....hidupkan semangat Merah Putih pada dada dan nurani semua sehingga negeri ini bebas KKN. Wisnu Widjaja Jl. Sindoro I/16 Panggung, Tegal *** Nelayan dan Ombak Sudah beberapa waktu lalu angin kencang dan ombak/gelombang tinggi menerpa di banyak pantai kita. BMG sudah memperingatkan agar nelayan untuk sementara tidak beraktivitas. Tak terbanyangkan betapa sulitnya hidup nelayan. Mereka tidak saja dihimpit kesulitan ekonomi karena harga kebutuhan hidup terus melambung, juga alam pun tidak bersahabat. Mereka dituntut tetap mencari sesuap nasi bagi keluarga dengan risiko maut mengadang di depan mata. Ada beberapa nelayan yang nekat melaut, sebagian kembali selamat tapi sebagian lagi meninngal karena. perahunya terhempas ombak. Lebih menyedihkan lagi harga jual ikan hasil tanggapannya tidak tinggi. Bukan keuntungan yang didapat justru sering tombok karena biaya operasional tinggi. Tentu hal ini harus menjadi perhatian serius bagi instansi terkait. Presiden beberapa waktu lalu mengatakan dalam peningkatan pembangunan bidang pertanian, perlu kerjasama dan koordinasi yang kuat dari instansi terkait dengan pimpinan pemerintahan baik di pusat maupun daerah, Melihat kondisi sebagian nelayan, perlu dipikirkan terobosan agar mereka tetap memperoleh penghasilan meski tidak melaut, misal dengan melibatkan koperasi. Dengan mengaktifkan koperasi nelayan berharap mampu memberdayakan istri nelayan yang sebagian besar tidak bekerja. Juga memberikan pinjaman dengan bunga ringan ketika nelayan tidak melaut (simpan pinjam). Koperasi bisa memberikan suntikan modal usaha bagi para istri nelayan sehingga penghasilan keluarga tetap berjalan meski suami mereka tidak melaut. Jenis usaha apa yang berkesinambungan dan memiliki nilai tambah pada produk perikanan, tentunya perlu perngarahan dari Depkop dan UKM serta Dinas Perikanan setempat. Mungkin langkah awal adalah penyuluhan intensif tentang koperasi mengingat SDM sebagian besar nelayan masih rendah. Sekali lagi peran instansi terkait memang mutlak diperlukan dengan aktif terjun di lapangan dan memantau perkembangannya. Dengan koordinasi yang baik dan perhatian serius dari pimpinan, akan menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. Linayati Spi Bancar Asri 9 Lamper Tgh, Semarang |