| Kamis, 16 Agustus 2007 | NASIONAL |
"Matur Nuwun Mbak, Wis Nylametke Inyong"SEOLAH terlepas dari beban berat, Parmi dan Sisiyanti menumpahkan kegembiraannya dengan memeluk rekannya, Tunarti dan Nikmayati. Isak tangis pun terdengar cukup keras dari ruang pemeriksaan Unit I Reskrim Mapolresta Semarang Selatan. Keempat pembantu muda itu pun berpelukan bersama beberapa saat. Sisyanti yang baru berusia 14 tahun dengan polos mengucapkan, "Matur nuwun Mbak (Tunarti) wis nylametke inyong." Air mata pun langsung tumpah hingga membasahi pipinya yang terlihat memerah. Keempat pembantu yang berasal dari Wonosobo dan Temanggung itu terlihat begitu tertekan meski sudah berada di kantor polisi. Mereka masih merasa waswas, takut, dan depresi atas perlakuan sang majikan yang disebutnya telah menyiksa mereka selama ini. Nikmayati telah bekerja selama kurang lebih 3 tahun 6 bulan di rumah milik Ahmad Afianto Wibowo-Lisa di Jl Pandean Lamper, Semarang. Gadis itu mengaku sebenarnya takut sekali melaporkan dugaan penyiksaan yang dialaminya kepada polisi. "Saya pernah diancam akan dibunuh oleh majikan. Saya takut sekali apalagi dia memiliki pistol yang disimpan di kamarnya," katanya. Sang majikan pun mengancam akan memenjarakan kedua orangtuanya bila berani melaporkan pemukulan yang seringkali dilakukan kepada polisi. "Keluarga saya polisi, jadi kalau kamu berani melaporkan ke polisi bukan aku yang dipenjara tapi kamu dan orangtuamu," tutur Nikmayati menirukan ucapan majikannya kepada penyidik. Apa yang dilakukan Nikmayati dan Tunarti kabur dari tempatnya bekerja memang butuh keberanian tinggi. Rupanya keduanya benar-benar sudah tidak tahan bekerja di sana. Karena itulah pakaian yang selama ini dibawa dari kampung semuanya telah dikemasi. Begitu pemilik rumah pergi mengantar anaknya kuliah dan majikan lelakinya masih tertidur, mereka langsung kabur. Tak sulit untuk kabur dari sana, apalagi Tunarti yang selama ini dipercaya pemilik memegang kunci rumah. Ketika puluhan warga menggeruduk rumah Ahmad Afianto, Parmi dan Sisiyanti juga ikut keluar rumah. Kepada wartawan, keduanya mengaku tidak pernah dipukuli apalagi disiksa oleh sang majikan. Saat itu dari dalam rumah Lisa pun sempat meneriakkan bahwa dirinya sayang dengan para pembantunya. Warga yang sebenarnya sudah tahu sejak lama tak percaya dengan ucapan itu. Mereka memaksa kedua pembantu tetap keluar dari rumah. Rupanya apa yang dikatakan Parmi dan dan Sisiyanti tersebut hanyalah ungkapan kebohongan belaka karena didera rasa takut yang mendalam. Di hadapan penyidik Polresta Semarang Selatan, apa yang dinyatakannya itu terbalik. Kepada Suara Merdeka, keduanya menuturkan terpaksa mengaku tidak pernah dipukuli karena takut sang majikan ada di dekatnya. "Saya ingin segera pulang ke kampung dan tak mau kembali lagi ke sana. Saya juga menuntut gaji yang belum dibayar segera diberikan," tutur Parmi. (Saptono Joko S, Adi Prianggoro-60) |