logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Agustus 2007 NASIONAL
Line

Disiksa Majikan, Empat PRT Kabur

  • 9 Bulan Belum Terima Gaji

SM/Saptono Joko S DI KANTOR POLISI: Empat PRT menikmati makanan yang disediakan polisi, kemarin. Mereka melarikan diri karena sering disiksa oleh majikannya. (57)

SEMARANG- Empat gadis yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di rumah milik Ahmad Afianto Wibowo-Lisa, Jl Pandean Lamper Semarang kabur dari rumah majikannya karena sering disiksa.

Mereka adalah Tunarti (20) dan Parmi (15), warga Tlodas Desa Donorojo, Kecamatan Treteb, Temanggung; Sisiyanti (14) asal Gemawang, Kretek, Wonosobo; dan Nikmayati (14) dari Dusun Larangan, Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo.

Mereka mengaku sering dipukul dan ditampar. Parmi masih ada bekas luka pukul di rahang kanan. Tiga PRT lainnya luka-lukanya sudah tidak begitu terlihat.

Tunarti dan Nikmayati kabur pada Rabu (15/8) pukul 06.30, saat majikan perempuannya, Lisa, mengantar anaknya ke kampus dan Ahmad Afianto, majikan laki-laki, masih tidur. Kedua gadis itu meminta pertolongan warga sekitar yang kemudian mengantar mereka ke kelurahan. Oleh pihak kelurahan, keduanya diantar ke Mapolresta Semarang Selatan guna melaporkan dugaan penyiksaan tersebut.

Kedua rekannya, Sisiyanti dan Parmi, dikeluarkan paksa oleh warga dari rumah majikannya beberapa saat kemudian. Puluhan warga menggedor-gedor pintu gerbang rumah milik Ahmad Afianto yang tingginya sekitar 3 meter.

Warga menyatakan kekesalannya setelah mendengar pengaduan kedua gadis itu mengenai perlakuan majikan mereka. Warga yang emosi berniat membakar rumah tersebut. Namun, Lurah Lamper Lor, Kecamatan Semarang Selatan, Andreas segera datang ke lokasi dan meredam kemarahan warga.

Salah seorang warga, Tedjo (35), menyatakan sebenarnya warga sudah mengetahui perbuatan suami-istri tersebut. "Saat keluar rumah untuk berbelanja, para PRT itu sering curhat dengan tetangga bahwa mereka sering disiksa," katanya.

Namun, karena tidak ada cukup bukti warga membiarkan saja sembari menunggu momen yang tepat.

Tak Digaji

Di hadapan petugas, Tunarti yang telah bekerja selama sembilan bulan sebagai PRT mengaku sering dipukuli Lisa bila melakukan kesalahan. "Saya pernah menggunakan ember yang ada di kamar untuk mengepel, saya malah dipukuli. Katanya kalau untuk mengepel harus pakai ember yang ada di garasi," tuturnya.

Selama sembilan bulan, ia yang mengaku bekerja melalui Sutrisno dari sebuah yayasan pengerah PRT, dijanjikan akan menerima bayaran Rp 250 ribu per bulan. Namun dia mengaku belum pernah sekali pun menerima gaji yang dijanjikan tersebut. Sebab, setiap kali melakukan kesalahan gajinya dipotong Rp 50 ribu.

Mereka juga mengaku hanya diberi makan sekali dalam sehari. Di antara empat PRT itu, Parmi mengaku yang paling sering dipukuli karena acapkali melakukan kesalahan.

Ketika dihubungi Suara Merdeka, Lisa menyatakan apa yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Menurutnya, selama ini dia menerapkan sistem penggajian di mana bayaran diberikan tidak per bulan. Bila pembantunya mau ambil uang, maka cukup menandatangani bukti pengambilan.

"Jadi, kalau mereka mau pulang bisa bawa uang cukup banyak. Aturan itu sudah saya terapkan sejak dulu," katanya.

Mengenai laporan pemukulan terhadap pembantu, ia membantahnya. Dia menyatakan tidak pernah memukul atau menyiksa keempat pembantunya.

''Justru mereka yang sering bertengkar sendiri karena keempatnya masih remaja,'' tegasnya.

Sedangkan soal laporan ke polisi, ia menyerahkan seluruh permasalahan itu kepada hukum. Kasus tersebut saat ini ditangani Satuan Reskrim Polresta Semarang Selatan.(H23,H40-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA