logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Agustus 2007 NASIONAL
Line

IHSG Paling Hancur di Asia

  • Dampak Anjloknya Pasar Finansial Global

JAKARTA-Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan paling tinggi dalam di bursa Asia. IHSG makin bergerak liar karena investor panic selling. Pada penutupan perdagangan saham Rabu (15/8), IHSG jatuh 139,555 poin (6,44%) ke level 2.029,083. IHSG menjadi korban gonjang-ganjing pasar finansial global menyusul kredit macet perumahan (subprime mortgage) di AS yang tak kunjung pulih.

Bursa Nikkei Jepang turun 2,19 persen, Hang Seng Hong Kong turun 2,8 persen, Shanghai China turun 0,06 persen, Kosdaq Korea turun 2,45 persen, Strait Times Index Singapura turun 3,51 persen, dan Indeks Taiwan Weighted turun 3,57 persen. Indeks LQ-45 turun 31,580 poin (7%) pada level 419,864 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 24,496 poin (6,73%) pada level 339,457.

Dari seluruh saham yang aktif ditransaksikan hanya 10 saham yang naik, sisanya 232 saham turun dan 14 saham stagnan.

Sejumlah analis pasar saham mengaku bingung melihat pergerakan IHSG yang makin sulit diprediksi.

"Melihat kondisi ini saya bingung juga, alasannya apa, tapi saya lihat sudah panic selling," kata Analis Mega Capital Felix Sindhunata.

Hal yang sama dikemukakan Direktur Finan Corpindo Securities, Edwin Sinaga. Kondisi pelaku pasar yang panik, menurutnya akan membuat analis sulit memprediksi berapa dalam indeks akan tenggelam lagi.

"Prediksi turunnya indeks sudah no limit (tidak ada batasnya)," ujarnya.

Analis Riset PT Panin Capital Luki Aryatama mengatakan turunnnya indeks BEJ ini masih pengaruh psikologis penurunan bursa Wall Street dan regional akibat meluasnya dampak krisis sub-prime mortgage di dunia.

Kondisi ini telah membuat hampir semua saham yang diperdagangkan mengalami penurunan tajam akibat krisis bursa saham global ini.

"Ini bukan turun lagi, melainkan stock split (pemecahan nilai nominal). Dari dalam negeri tidak berita, ini murni pengaruh bursa global," tambahnya.

Penurunan indeks dipimpin anjloknya saham-saham unggulan, seperti Telkom (TLKM), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Bank BNI (BBNI), Antam (ANTM), Astra Internasional (ASII) dan Bank Mandiri (BMRI).

Rupiah IKut Terpuruk

Gejolak pasar global juga berdampak ke kurs rupiah. Nilai tukar rupiah merosot menjadi Rp 9.410/9.415 per dolar AS dibanding penutupan hari sebelumnya Rp9.350/9.355 per dolar AS atau turun 60 poin.

Analis Valas PT Bank Saudara, Ruri Nova di Jakarta mengatakan, Bank Indonesia (BI) harus dapat mengantisipasi kondisi ini, karena rupiah berpeluang besar untuk bisa mencapai level Rp 9.500 per dolar AS.

''Apabila rupiah bisa menembus angka tersebut, maka investor akan hilang kepercayaan terhadap mata uang lokal itu,'' katanya.

Rupiah, lanjut dia, saat ini sangat menakutkan meski ekonomi Asia yang dipimpin China dan India kemungkinan akan dapat mengatasi gelombang tekanan pasar global.

Namun Indonesia sendiri agak berat untuk mengatasi karena pertumbuhan ekonomi nasional masih jauh dibanding kedua negara Asia itu.

''Tingkat rupiah yang akan mencapai level tersebut juga akan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional,'' tegasnya.

Menurut dia, gejolak pasar uang global yang dikatakan mulai berkurang hanyalah untuk mengurangi kekhawatiran itu, namun kenyataannya tekanan tersebut makin besar, bahkan indeks Dow Jones saja merosot 200 poin. "Kami mengharapkan pemerintah dapat mengantisipasi tekanan global itu, sehingga tekanan pasar terhadap rupiah bisa berkurang," katanya.(bn,dtc-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA