| Kamis, 16 Agustus 2007 | MURIA |
Tergiur Ringgit dan Terjepit (1)Dua Hari di Hutan, Tanpa Alas KakiSUDAH banyak cerita pilu para TKW yang menjadi korban penganiayaan di luar negeri. Bahkan, penderitaan pun mereka alami pada saat tinggal di penampungan -yang sering berubah menjadi penyekapan- sebelum diberangkatkan. Keterimpitan ekonomi di kampung halaman menjadi pemicu keberanian menghadapi bahaya. Berikut kisah perempuan asal Jepara yang lolos setelah disekap tiga bulan oleh sebuah PJTKI di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. "JIKA memang harus mati diterkam macan malam ini, kita terima takdir ini." Suara lirih itu meluncur dari bibir Indah (23) ketika telentang di hutan pada malam hari bersama Ari (25). Nyali kedua perempuan itu luruh saat melihat ada sepasang mata mencorong bergerak perlahan di kegelapan kawasan hutan tepi Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Perasaan keduanya lega, setelah mendengar suara meong .... "Bahkan kucing itulah yang membantu kami menemukan satu petak rumput tebal yang cukup untuk alas tidur," tutur alumnus SMAN 11 Semarang 2004 itu. Itu hanya penggalan dari petualangan mereka kabur dari tempat penyekapan PT Kabasco Cabang Tanjung Pinang milik Yulia yang sudah ditahan di Polda Jateng. Indah yang kini berada di rumah ayahnya di Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Jepara menuturkan, dirinya mendapat kesempatan kabur pada Minggu, 1 Juli lalu. Pukul 06.00, pintu penampungan TKI (putra) terbuka. Indah melihat dari lantai dua tempat penampungan. Berlagak seperti orang yang akan jalan-jalan pagi, Indah menyelinap lewat pintu TKI putra. Sampai di jalan raya, dia bertemu Ari yang akan pergi ke gereja. TKW asal Pasuruan, Jatim itu berstatus janda beranak dua. Melihat Indah, Ari tak jadi naik angkutan kota dan lari mengejar kawannya. "Mau kabur kok tak ngomong. Kamu kan sudah janji akan mengajak kabur bersama." Tanpa banyak pertimbangan, dua sahabat karib itu sepakat kabur. Indah hanya mengenakan kaus lengan pendek kuning bergambar Batman dan celana pendek kotak-kotak biru tanpa alas kaki (nyeker). Dan tanpa uang. Hanya Ari yang masih menyimpan uang Rp 2.000, jatah untuk naik angkutan kota. Khawatir ditangkap centeng ataupun polisi, keduanya memilih jalur lewat hutan. "Di Tanjung Pinang masih banyak hutan di pinggiran kota. Kalau lewat jalan umum, takut tertangkap lagi." Petualangan hari pertama, dilalui dengan perut lapar dan haus. Perjalanan tetap dilakukan saat malam tiba dengan menerobos semak belukar dengan panduan sinar bulan. "Dalam hati saya selalu berdoa, semoga Allah memberikan pertolongan. Dan, janji Allah itu benar adanya." Hari kedua pelarian, mereka sudah keluar hutan. Saat melintas di jalan justru tertabrak mobil. Kaki Ari terpincang-pincang. Namun saat akan dibawa ke rumah sakit, mereka langsung kabur. Alasannya, takut tertangkap polisi dan dikembalikan ke penampungan. Dalam keadaan loyo, keduanya mencari tempat beristirahat. Dan, menemukan tempat "peraduan" di sebuah buis beton besar, di tepi jalan. Pertolongan Datang Selepas isya, dia ke pangkalan angkutan kota. Dia mencoba bertanya kepada seorang sopir, lokasi lembaga yang bisa memberikan pertolongan perempuan telantar termasuk para TKW. "Saat saya tanya, kok bertanya dengan bahasa Jawa. Ternyata sopir itu dari Magelang. Hanya itu, namanya pun sampai sekarang saya belum tahu karena tak sempat bertanya." Merasa sebagai sesama pendatang yang mengadu peruntungan, sang sopir dengan sukarela mengantar kedua perempuan itu ke rumah Hj Tetti, pemimpin rumah singgah Pemprov Kepulauan Riau. Setelah didata, keduanya mendapat pakaian, mandi. Petugas rumah singgah memasakkan mi rebus. Keduanya pun menyantapnya dengan lahap setelah kelaparan dua hari. Sudah hidup "enak" di rumah singgah, tak membuat Indah lupa kawan-kawannya. Sebab, dalam kelompoknya ada 18 calon TKW yang akan dikirim ke Malaysia sebagai pembantu rumah tangga. Walaupun janji awal akan dipekerjakan di salon dan supermarket. Karena tak sesuai dengan tawaran awal, mereka berontak ingin pulang. Namun, ditekan dan diancam. Selain akan dilaporkan sebagai pelarian, juga terancam denda Rp 7 juta. Indah yang dikenal paling pintar dari kawan-kawannya berupaya minta bantuan LSM dan lembaga lainnya untuk membebaskan calon TKW yang masih disekap. Akhirnya, ada hampir 15 LSM dan organisasi mahasiswa bersama pers setempat membongkar kasus penyekapan itu. Para calon TKW pun bisa keluar dari rumah Yulia pada Minggu, 8 Juli malam. (Sukardi, Budi Cahyono-69) |