logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Agustus 2007 SEMARANG
Line

Jejak Kepahlawanan di Dinding

UNTUNG saja penambalan lubang-lubang pada dinding papan rumah mendiang H Mustofa di Kampung Bugen Kelurahan Tlogosari Wetan, Pedurungan itu urung dilakukan. Dengan demikian, sebuah jejak kepahlawanan masih dapat disaksikan.

Apa relasi lubang-lubang di dinding papan itu dengan kepahlawanan? Adakah ia menyimpan kisah heroik para pejuang? Ya, lubang-lubang itu bekas berondongan peluru tentara Belanda yang menewaskan 74 pejuang kemerdekaan.

Menurut kisah yang disarikan dari keterangan para saksi dan pelaku, peristiwa Bugen terjadi pada hari Ahad, 11 Muharam 1366 Hijriah (1946). Sekitar pukul 09.30, sebuah pesawat jenis capung milik Belanda melintas di atas kawasan Front Markas Medan Tenggara Semarang.

Setelah itu, disusul tembakan senjata modern dari arah pabrik rokok British American Tobaco (BAT) Pengapon. Serdadu Belanda juga melakukan serangan darat. Mereka mengepung pejuang kelaskaran RI dari dua arah, yakni utara dan selatan.

Dengan persenjataan tradisional, seperti, bambu runcing, samurai, pedang, dan aneka senjata tajam, mereka mencoba melawan. Namun, hal itu tak bertahan lama. Sebagian kelompok laskar berhasil mundur dengan selamat, namun 72 orang yang berasal dari laskar Sabilillah dan dua anggota laskar Hisbullah terkepung.

Mereka bertahan di dalam rumah milik mendiang H Mustofa di Kampung Bugen, yang selama ini dijadikan sebagai markas pertahanan. Tentara Belanda yang mengetahui keberadaan mereka segera mengepung dan menembaki rumah tersebut dengan mitraliur dantakindato. Tak ayal, ke-74 pejuang itu pun gugur. Jenazah mereka dimakamkan secara massal dalam sebuah liang yang dibuat dengan ledakan dinamit dan ranjau darat, di depan rumah H Mustofa.

Kelompok Laskar

Sabilillah dan Hisbullah adalah kelompok laskar yang berasal dari daerah Solo dan sekitarnya. Mereka bersama kelompok kelaskaran lain dan Tentara Keamanan Rakyat menyerbu Semarang, yang menjadi pusat pertahanan Tentara Belanda di Jawa Tengah.

Hal itu dilakukan sebagai upaya mempertahankan Republik Indonesia, yang diproklamirkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Para pejuang yang sebagaian besar anak-anak muda itu mengepung Kota Semarang dari segala penjuru. Mereka kerap melakukan kontak senjata dengan tentara Belanda.

Pada peringatan Hari Pahlawan tahun 1960, 40 kerangka jenazah dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, sedangkan sisanya masih berada di tempat itu. Saat ini, di atas pemakaman massal pejuang itu, berdiri bangunan permanen berbentuk joglo. Namun, kondisinya kurang terawat. Dindingnya telah berwarna kusam, ubinnya bergelombang, atap plafonnya pun berlubang.

Untuk menghargai pengorbanan ke-74 pejuang itu, jalan di depan kompleks makam tersebut dinamai Jalan Syuhada.

Sementara sebagian lubang bekas peluru di dinding papan sebelah kanan dan kiri rumah mendiang H Mustofa kini tak lagi bundar. Itu karena keluarga H Mustofa sempat berniat menambalnya. Lubang-lubang dibuat menjadi persegi empat agar mudah ditutup dengan kepingan papan. Namun demi mendengar saran dari sejumlah kalangan, ikhtiar itu dibatalkan.(Rukardi-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA