| Kamis, 16 Agustus 2007 | SEMARANG |
Dari Merogoh Kunto Bimo sampai Gedung ReotTERIK Matahari tak menyurutkan langkah warga Kota Semarang untuk memadati Jl Pahlawan dan sekitarnya, Rabu (15/8). Tua-muda, laki-perempuan membaur jadi satu berdesakan, tatkala Gubernur H Mardiyanto mengibaskan bendera tanda dimulainya pawai pembangunan puncak peringatan Hari Jadi Provinsi Jateng ke-56. Iring-iringan kendaraan hias pun satu per satu maju, dan senyum gubernur pun mengembang. Ia selalu melambaikan tangan membalas salam dari personel yang ada di kendaraan hias. Ada yang hanya menganggukkan kepala, membungkukkan badan, memberi salam hormat sampai mengulas senyum dikulum. Warga pun masih tetap terpana melihat tradisi tahunan yang isinya hanya itu-itu saja. Tapi bicara kualitas hiasan, wow... jangan ditanya. Masing-masing Pemda maupun instansi berlomba-lomba menampilkan keunggulan, keindahan pada tiap kendaraan. Sebut saja tampilan dari Pemkab Wonosobo. Bertema: Hindari Flu Burung, mereka membuat replika ayam sehat dan ayam mati. Tidak tanggung-tanggung, agar replika tampak seperti hewan sungguhan, tim dari PDAM kabupaten membutuhkan 20 kg bulu ayam untuk mempercantik replika ayam. Jadinya, replika itu mengundang decak kagum penonton. Tampil menawan juga dipersembahkan Dinas Pariwisata Jateng dengan replika Candi Borobudur. Ada keunikan yang mengundang tawa warga. Yakni ritual rogoh Kunto Bimo. Bagaimana tidak tertawa, saat banyak tangan personel Disparta merogoh-rogoh Kunto Bimo, ternyata di dalamnya ada orang Disparta. ''Saru, saru, saru...,'' celoteh warga sambil tertawa membuat pemeran Kunto Bimo tersipu malu. Dari beberapa kendaraan hias, ada yang tampil ala kadarnya. Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Jateng, contohnya. Tampil membuat replika gedung, tapi hasilnya asal-asalan. Bahkan seperti gedung reot, tidak rapi. Warga pun banyak yang menyorakinya. ''Huuu....!'' Magnet itu tetap membuat kemanarikan warga. Saking antusiasnya, jalan-jalan yang dilalui pawai dipadati warga. Seperti Jl Ahmad Yani, Jl MT Haryono, Bundaran Bubakan, kawasan Kota Lama. Ruas jalan itu hanya menyisakan jalur untuk dilewati kendaraan hias. Otomatis kemacetan lalu lintas pun tak terelakkan lagi. Banyak kendaraan, terutama mobil dan angkot harus berlama-lama terjebak kemacetan, terutama yang akan menuju JL MT Haryono, JL Ahmad Yani, Jl Pahlawan. Pengemudi kendaraan maupun angkot harus menunggu sampai selesainya iring-iringan . Iring-iringan dimulai dari Jl Pahlawan menuju Simpang Lima, Jl Ahmad Yani, Jl MT Haryono, Bundaran Bubakan, Jl Letjen Suprapto, Jl Pemuda, Jl Sutomo (Kalisari), Jl Menteri Supeno. (Dicky P, Widodo P-18) |