logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Agustus 2007 EKONOMI
Line

Agustus, Stok Urea di Jateng 60.588 Ton

SEMARANG - Ketersediaan pupuk urea di Jateng per 8 Agustus mencapai 60.588 ton. Semuanya sudah berada di Gudang Lini III (51.267 ton) dan Lini II (9.321 ton). Direktur Utama (Dirut) PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Holding Dadang Heru Kodri menyatakan dari jumlah itu sangat aman untuk kebutuhan petani.

"Kami dalam menyuplai kebutuhan selalu berstandar pada SK Gubernur, agar nantinya tidak terjadi kekurangan persediaan pupuk," katanya saat bertamu di kantor redaksi Suara Merdeka Jl Kaligawe Km 5 Semarang, Selasa (14/8).

Dalam kunjungannya itu dia didampingi Direktur Pemasaran Bowo Kuntohadi serta jajaran direksi lainnya.

Dadang menjelaskan karena PT Pusri sudah berbentuk perusahaan holding, maka cangkupan perusahaan pupuk meliputi Pupuk Kujang Cikampek (PKC), Pupuk Kalimantan Timur (PKT), Pupuk Petro Kimia Gresik (PKG) dan Pupuk Iskandar Muda (PIM). "Di Jateng sendiri pasokan pupuk disuplai dari Pusri (14 kabupaten/kota), PKT (18 kabupaten/kota) dan PKC (3 kabupaten/kota)," jelasnya.

Sementara Bowo menyebutkan rencana penjualan pupuk urea PT Pusri (holding) di 2007 ini telah disediakan 6.698.997 ton. Ketersediaan itu dari stok awal 927.747 ton ditambah produksi pupuk 5.771.250. Dari jumlah itu, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi sampai dengan Juli 2007 mencapai 289.979 ton. Jumlah itu melebihi permintaan gubernur yang tertuang dalam SK Gubernur tentang pupuk capai 283.525 ton. "Adanya tambahan itu untuk mengantisipasi adanya kekurangan pupuk urea di masyarakat," jelasnya.

Dari tahun ke tahun realisasi penyaluran urea dari tahun ke tahun telah sesuai dengan peraturan Menteri Pertanian mengenai ketersediaan pupuk. Disebutkan Bowo penyerapan pupuk urea tahun 2003 (3,9 juta ton), 2004 (4,2 juta ton), 2005 (3,9 juta ton), 2006 (3,9 juta ton).

"Dengan pemenuhan pupuk, kami jamin tidak ada kelangkaan . Karena semua sudah kami sesuaikan dengan permintaan daerah," lanjutnya.

Menyinggung harga pupuk bersubsidi, tetap sesuai harga eceran tertinggi (HET). Permasalahan selama ini, petani sering keluhkan harga pupuk diatas HET. "Adanya hal itu karena petani tidak membeli pada pengecer resmi. Jadinya harga pupuk ditambah biaya angkut, sehingga harga selisih dari HET," tandasnya. (H37-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA