logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Agustus 2007 BUDAYA
Line

Teater dalam Koper

  • Oleh Rukardi

PULUHAN koper memenuhi ruang pamer Rumah Seni Yaitu (RSY), Kampung Jambe 280, Semarang. Ada yang digantung, ditempel di dinding, atau digeletakkan begitu saja di lantai. Itu bukan sembarang koper. Itu koper-koper Hardiman Radjab. Yap, di tangan dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu, koper menjadi sesuatu yang memerangahkan. Fungsinya tak berhenti sebagai peranti pengangkut barang, tetapi menjadi medium penyampai gagasan.

Beragam soal terangkut dalam koper-koper Hardiman. Untuk memecahkannya, terkadang butuh permenungan. Di sinilah kepiawaian perupa dengan latar pendidikan kriya kayu itu meramu hal-hal yang bersifat teknik dengan gagasan.

Koper-koper Hardiman ibarat dunia kecil yang membabar kisah masing-masing. Dalam pameran bertajuk ''Berkoper-koper Cerita'' itu, dia menyajikan 20-an karya eksplorasi dari koper-koper usang.

Dalam ''Rest in Peace'' (2003), seorang miliader menikmati kehidupan setelah mati. Di alam kubur dia beristirahat dengan nyaman. Tidur di atas ranjang mewah dengan tubuh telentang. Laiknya rumah, liang kubur itu dilengkapi sumur, toilet, serta ruang bersantai dengan sofa, AC, dan televisi. Brankas penuh uang teronggok di salah satu kamar.

"Coffee Break" (2005) memunculkan relasi Lukcy Luke dan salah seorang anggota geng Daltons. Mereka yang berfitrah bermusuhan ditampilkan bersahabat. Lucky dan Daltons berbincang intim dan akrab di Starbuks.

Ada lagi kisah dalam ''Just A Moment'' (2005). Hardiman menganalogikan daur hidup manusia dengan mesin pendeteksi barang. Dalam sekejap, bayi merah yang baru lahir akan keluar berbungkus peti mati. ''Thinking'' (2005) memapar degradasi estetika kota. Patung Tugu Pancoran duduk termenung menyaksikan hutan reklame yang menyesaki Jakarta.

Komedial

''Frankie Menangis'' (2006) berupa koper tua dengan tubuh penuh luka. Pada salah satu sobekan mengeluarkan semacam air mata. ''Frankie Menangis'' mengilhami Aciel Ilyas dalam membuat karya video art-nya. Hampir serupa, ''Long Journey'' (2001) menguarkan kenestapaan koper-koper tua. Usai melakukan perjalanan panjang dari satu ke lain tempat, koper-koper itu terlihat letih. Salah satu koper tersengal-sengal dengan napas terpenggal-penggal.

Di luar itu ada karya Hardiman yang cenderung komedial. Taruh misal ''Seri Kawin'' (2004) dan ''Reproduction Machine'' (2006). Keduanya menyajikan adegan ranjang. ''Seri Kawin'' terdiri atas tiga pasang mobil-mobilan, sedangkan ''Reproduction Machine'' antara dua robot dengan gerakan mekanis. Ya ya, koper-koper Hardiman bercerita tentang banyak hal.

Kemampuan Hardiman mengeksplorasi koper tak lepas dari latar belakangnya sebagai penata panggung teater. Kurator Hendro Wiyanto bahkan menyebut Hardiman memindahkan panggung teater ke dalam koper. Dalam ruang koper yang sempit itu hadir tokoh, alur, dan bloking.

Sebelumnya, karya eksploratif Hardiman yang dipamerkan di Galeri Lontar dalam tajuk ''Riwayat Koper'' ditahbiskan majalah Tempo sebagai karya seni rupa paling kreatif tahun 2006. (53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA