| Rabu, 15 Agustus 2007 | SALA |
Pencuri Kayu Hutan Bertambah Pintar
WONOGIRI - Pembalakan liar masih terjadi di wilayah Balai Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Purwantoro, Wonogiri. Sasaran utama adalah kayu jati dan sonokeling. Ass Perhutani Purwantoro, Wawan Kurniawan, mengatakan para pembalak liar belakangan ini bertambah pintar. Mereka sengaja menebang jati atau sonokeling di pinggir kawasan hutan dan memilih pohon yang diameternya kecil atau sedang. Diungkapkan, pencuri hanya mengambil kayu yang tidak begitu besar, dengan asumsi kayu kecil amat mudah dibawa dan tetap laku dijual. ''Selain itu, pencuri juga sengaja menebang pohon di pinggir kawasan hutan,'' tambahnya, Selasa (14/8) kemarin. Pasalnya, para pencuri sudah sangat paham bahwa menebang pohon di dalam hutan justru menibulkan kecurigaan: suara gemuruh yang timbul saat pohon tumbang, mudah didengar orang. ''Kayu-kayu berdiameter besar malah aman dari aksi pencurian. Justru yang kecil dan tanggung diburu pencuri,'' tambahnya. Secara keseluruhan, lanjut dia, usia rata-rata jati di bawah pengawasan BKPH Purwantoro adalah 35 tahun. Dan, secara ekonomis nilainya tinggi. karena siap dibuat bahan apa pun, terutama untuk bangunan. Dampak Kemarau Dua wilayah yang dinilai rawan penebangan liar adalah Bendo dan Tinasti. Di Bendo terdapat hutan jati dan sonokeling seluas 1.121 hektare, sementara di Tinasti terdapat 847 hektare jati dan sonokeling. ''Masih ada penebangan liar oleh orang tidak bertanggung jawab. Biasanya, mereka beraksi malam hari, saat petugas lengah,'' katanya. Menurutnya, pada setiap musim kemarau sangat mungkin terjadi pembalakan liar kayu hutan, karena masyarakat tani tidak punya pekerjaan lagi. Petugas Perhutani menghadapi kendala untuk menemukan kayu ilegal, karena kayu-kayu tersebut biasanya dibawa dan disembunyikan di perkampungan penduduk. Untuk merazia rumah-rumah penduduk juga bukan pekerjaan mudah. Banyak prosedur yang harus ditempuh oleh petugas, dan pengurusannya pun tidak bisa dilakukan dengan sekejap.(hr-58) |