logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Agustus 2007 SALA
Line

Dua SMA di Solo Tutup

  • Lebih 10 Sekolah Kekurangan Siswa

SRAMBATAN- Dua dari 41 SMA di Solo, yakni SMA Kristen Widya Parama dan SMA Bhineka Karya (BK) tutup mulai tahun ajaran 2006/2007. Sementara itu, lebih dari sepuluh SMA swasta lainnya tetap melakukan aktivitas belajar mengajar, meski kekurangan murid. Jumlah siswa yang diterima di sekolah itu rata-rata belasan anak. Bahkan ada yang mendapatkan 5 siswa untuk tahun ajaran ini.

''Kedua sekolah yang tutup itu sudah tidak layak lagi. Perlu diketahui, sekolah swasta harus mampu membiayai diri sendiri. Ketika sudah tidak mampu lagi, tentu memilih tutup,'' kata Kasubdin Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Surakarta, Budi Sartono, kemarin.

Dari data yang ada, SMAK Widya Parama terakhir memiliki 32 siswa, terdiri atas 14 siswa kelas 2 dan 18 anak kelas III. Sementara SMA BK memiliki 54 siswa, terbagi 19 anak kelas 1, 15 anak kelas 2, dan 20 anak kelas 3. Dengan tutupnya kedua sekolah itu, otomatis siswa dialihkan ke sekolah lainnya.

Sementara untuk sekolah yang jumlah siswanya terbilang minim, Dikpora tidak memiliki kewenangan untuk menutupnya. ''Sekolah itu lembaga pendidikan yang juga termasuk lembaga sosial. Tidak ada aturannya kalau siswanya minim harus tutup. Bagaimanapun juga, kami akan ikut memberikan dukungan atas keberadaan sekolah tersebut, meski bila diibaratkan hidup segan mati tak hendak,'' katanya.

Bentuk dukungan yang diberikan, kata dia, di antaranya berupa bantuan baik yang dialokasikan dari APBD Kota, Pemerintah Provinsi maupun Pusat. Meski diakui, ada batasan tertentu. Dikpora juga terus mengontrol kualitas sekolah tersebut agar bisa mempertahakan diri di tengah maraknya persaingan sekolah di Solo.

''Untuk bantuan tertentu yang jumlahnya terbatas, tentu akan kami alokasikan ke sekolah yang jumlah siswanya lebih besar, karena dari sisi kemanfaatan lebih besar. Tapi untuk dana yang sifatnya merata, tentu tetap kami berikan. Pada intinya, kami tidak membedakan sekolah kecil dan besar,'' imbuhnya.

Namun sesuai aturan yang ada, sekolah dengan siswa kurang dari 40 anak tidak bisa menyelenggarakan ujian mandiri. Mereka harus menggabung dengan sekolah lain yang ditunjuk.

Lain halnya dengan SMK, untuk tahun ini jumlahnya bertambah 2, dari 40 SMK tahun lalu. Dua tambahan SMK adalah SMK Farmasi Nasional dan SMK Analis Kesehatan Nasional.

''Dua SMK itu sebelumnya berada di bawah pembinaan Departemen Kesehatan. Untuk tahun ini dialihkan ke Dikpora. Sebenarnya sekolah tersebut sudah berdiri lama di Solo,'' jelasnya.

Bertambahnya SMK, sekaligus mendukung pengembangan Solo sebagai kota vokasi. ''Keberadaan SMK diharapkan mampu menyiapkan tenaga siap kerja. Ini yang menjadi salah satu tujuan kota vokasi.'' (G13-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA