| Rabu, 15 Agustus 2007 | KEDU & DIY |
Banyak Perajin Yogya Sulit BangkitYOGYAKARTA - Menurut pengurus Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) DIY Hamzah Hendro Sutikno mengatakan, produk kerajinan Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta khususnya semakin sulit dipasarkan sejak terjadinya bom Bali beberapa waktu lalu. ''Apalagi ditambah dengan musibah gempa bumi yang melanda DIY lebih dari setahun silam, menjadikan tidak semua usaha sektor kerajinan bangkit kembali,'' ujarnya di kediamannya di Kotabaru, Senin (13/8). Disinyalir, tidak sedikit perajin yang kesulitan bangkit dan mengembangkan kembali usahanya, cenderung memilih banting setir usaha di sektor lain atau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) karena tidak sedikit contoh TKI yang berhasil dan taraf hidupnya meningkat. Dikatakan oleh Hamzah yang juga pimpinan Mirota Batik dan kerajinan Yogyakarta itu, berbagai upaya akan sulit untuk mengangkat sektor kerajinan kalau hanya dengan regulasi-regulasi normatif. Pulihkan Citra Akan tetapi, langkah yang harus dilakukan adalah memulihkan citra Indonesia di mata dunia. Artinya, sejauh citra belum pulih tak akan banyak orang asing yang datang ke Indonesia. Memang bisa saja produk kerajinan dipasarkan melalui pihak ketiga namun kalau disudutkan pada masalah harga, maka produk kerajinan Indonesia kebanyakan kurang kompetitif dibandingkan produk kerajinan dari China, Vietnam, dan Thailand. Menjadi dilema yang dihadapi para perajin Indonesia di antaranya kalau akan kompetitif di pasar tentu harga harus diturunkan, namun konsekuensinya pendapatan perajin menjadi sangat minim. ''Karena itu, sektor kerajinan harus benar-benar mendapat perhatian dan perlu penanganan serius serta sesegera mungkin agar jangan makin banyak perajin yang bertumbangan dan beralih profesi,'' sarannya. (P12-70) |